Pantau Sebaran Abu Vulkanik Dengan Remote Sensing

Oleh: Muclishin Pramono Guntur Waseso Secara geografis, Indonesia berada pada wilayah yang strategis sehingga memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Disisi lain, […]

blank

Oleh: Muclishin Pramono Guntur Waseso

Secara geografis, Indonesia berada pada wilayah yang strategis sehingga memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Disisi lain, Indonesia menghadapi berbagai jenis bencana alam. Tercatat dari perhitungan data bencana BNPB tahun 1815 – 2018 saat ini, telah terjadi bencana hidrometeorologi sebesar 97% dari 23.011 kejadian bencana alam. Sedangkan, bencana letusan gunung api sebesar 0.64 % [1].

blank

Gambar 1. Erupsi Gunung Merapi

Kembali pagi ini, Jumat 11 Mei 2018 pukul 07.43 WIB, telah terjadi erupsi Gunung Merapi dengan durasi kegempaan 5 menit, dan ketinggian kolom 5500 m di atas puncak (gambar 1). Erupsi yang terjadi ini bersifat freatik dimana erupsi yang didominasi dengan uap air. Erupsi Gunung Merapi ini berdampak ke berbagai sektor. Menurut Communication and Legal Section Head Bandara Adisutjipto, Liza Anindya, dalam berita detik.com, telah ditutup operasional Bandara Internasional Adisutjipto selama pukul 10.42 sampai dengan 11.10 WIB[2]. Tidak hanya itu, objek wisata alam di sekitar Gunung Merapi pun juga ditutup dalam jangka waktu yang belum ditentukan.

Dalam menjaga kewaspadaan dan penanggulangan bencana tersebut, perlu adanya monitoring perkembangan lebih lanjut terhadap pergerakan abu vulkanik dan kondisi cuaca selama gunungapi tersebut masih erupsi. BMKG telah mengembangkan teknologi penginderaan jarak jauh, salah satunya adalah pemantauan sebaran abu vulkanik dengan satelit Himawari 8 dengan metode RGB. Dalam penelitian yang dilakukan Rahpeni, dkk pada jurnal Unnes Physics Journal, menyebutkan peningkatan aktivitas sebaran abu vulkanik Gunung Agung dapat dipantau dengan menggunakan teknologi Remote Sensing atau penginderaan jarak jauh[3]. Teknologi ini mempunyai potensi dalam mengekstraksi data dan informasi mengenai sumber daya dan lingkungan. Data satelit dapat mencakup dalam jangkauan yang luas, frekuensi pencitraan yang sering dan multi resolusi spasial sehingga data tersebut sangat memadai untuk diolah guna memantau sebaran abu vulkanik secara langsung dan berkelanjutan. Data satelit ini diolah dengan metode RGB (Red-Green-Blue) digunakan untuk menampilkan gambar dengan kombinasi warna primer (Merah-Hijau-Biru). Sebaran abu vulkanik ditandai dengan warna merah pada hasil olahan data satelit tersebut. Pergerakan abu vulkanik ini dipengaruhi oleh adanya pergerakan angin.

Terlihat pada gambar 2, hasil yang didapat dari pengolahan data satelit Himawari 8 dengan metode RGB pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 08.00 WIB dan pukul 13.00 WIB, tertangkap adanya aktifitas erupsi dari Gunung Merapi yang ditandai warna merah pada lokasi kejadian. Pada gambar citra satelit pukul 08.00 WIB, adanya pergerakan sebaran abu vulkanik ke arah Selatan – Barat Daya. Sedangkan di-update pada gambar citra satelit pukul 13.00 WIB, adanya pergerakan sebaran abu vulkanik ke arah Tenggara – Barat Daya. Hal ini berdampak langsung ke berbagai sektor seperti mengganggu operasional penerbangan Bandara Internasional Adisutjipto, operasional kepariwisataan dan terutama kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Merapi.

blank
Gambar 2. Satelit Himawari 8 Gunung Merapi tanggal 11 Mei 2018 (a) Pukul 08.00 WIB dan (b) Pukul 13.00 WIB

Hasil satelit yang telah diolah, dapat digunakan sebagai dasar masukan penting dari isi layanan informasi sebaran abu vulkanik yang dibuat oleh BMKG (gambar 3). Layanan informasi tersebut berguna untuk menjelaskan kondisi atau aktifitas erupsi Gunung Merapi terbaru kepada masyarakat sehingga masyarakat disana tidak panik dan tidak terkena isu – isu yang tidak benar (hoax). Informasi BMKG akan disampaikan kepada beberapa instansi terkait seperti BPBD Sleman, PVMBG, BPPTKG, dan TRC BPBD DIY sehingga dapat dihimbaukan langsung ataupun melalui media kepada masyarakat.

blank

Gambar 3. Layanan Informasi Aktifitas Letusan Gunung Merapi pada Tanggal 11 Mei 2018

Referensi

[1] BNPB. 2018. Data Informasi Bencana Indonesia. Diakses dari : http://bnpb.cloud/dibi/beranda pada tanggal 11 Mei 2018

[2] Permana, Sukma Indah. 2018. Dampak Erupsi Merapi Bandara Adisutjipto Ditutup Sementara. Diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4015391/dampak-erupsi-merapi-bandara-adisutjipto-ditutup-sementara pada tanggal 11 Mei 2018

[3] Fajarianti, R., dkk,. 2017. Pemanfaatan Citra Satelit Himawari-8 untuk Identifikasi Sebaran Abu Vulkanik Gunung Agung ( Studi Kasus 25 – 29 November 2017 ). Unnes Physics Journal. Universitas
Negeri Semarang. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upj

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *