AI Generatif dan Naiknya Dominasi Big Tech dalam Proses Kebijakan

Dunia digital bergerak begitu cepat sehingga banyak orang merasa tidak lagi mampu mengikutinya. Perubahan yang dibawa teknologi terjadi dari hari […]

Dunia digital bergerak begitu cepat sehingga banyak orang merasa tidak lagi mampu mengikutinya. Perubahan yang dibawa teknologi terjadi dari hari ke hari, namun ada satu hal yang berkembang jauh lebih cepat daripada semuanya, yaitu kekuatan perusahaan teknologi besar atau yang sering disebut Big Tech. Selama dua dekade terakhir, perusahaan seperti Google, Meta, Amazon, Microsoft, dan Apple tumbuh menjadi raksasa global yang bukan hanya menguasai pasar, tetapi juga mulai mempengaruhi proses pembuatan kebijakan publik di banyak negara. Keterlibatan mereka tidak lagi terbatas pada inovasi teknologi. Kini, mereka menjadi aktor politik yang berpengaruh.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Policy and Society tahun 2025 membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana pengaruh Big Tech semakin meningkat dalam proses penyusunan kebijakan. Studi ini juga menunjukkan peran penting munculnya kecerdasan buatan generatif, seperti ChatGPT, sebagai katalis yang mempercepat konsentrasi kekuasaan mereka.

Baca juga artikel tentang: Ketahui Kebijakan Fiskal dalam Perspektif Ekonomi Makro Islam Lebih Dalam!

Big Tech bertumbuh lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengawasinya

Perkembangan pesat internet pada awal 2000 membuka jalan bagi perusahaan teknologi untuk berkembang hingga melampaui batas negara. Infrastruktur digital yang mereka bangun menempatkan mereka sebagai penjaga gerbang informasi dunia. Masyarakat menggunakan layanan mereka untuk bekerja, belajar, berbelanja, berkomunikasi, dan bahkan mengakses layanan publik.

Ketika masyarakat semakin bergantung pada platform digital, kekuasaan Big Tech meningkat secara alami. Mereka memiliki data besar, sumber daya yang hampir tak terbatas, dan kemampuan teknologi yang tidak bisa ditandingi oleh banyak negara. Kondisi ini membuat mereka memegang peran yang sangat besar dalam menentukan arah inovasi global.

Namun, pertumbuhan kekuasaan Big Tech tidak berhenti pada aspek ekonomi atau teknologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa mereka juga mulai memainkan peran strategis dalam proses kebijakan. Dengan kata lain, mereka tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga membantu membentuk aturan yang mengatur penggunaan teknologi tersebut.

Kecerdasan buatan generatif sebagai titik balik kekuasaan

Peluncuran teknologi kecerdasan buatan generatif, yang mampu memproses bahasa seperti manusia, menandai era baru dalam dunia digital. ChatGPT dan model serupa bukan hanya alat canggih untuk menulis atau menyelesaikan tugas teknis, tetapi juga menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi baru. Dari produksi konten hingga otomasi proses bisnis, AI generatif memperluas jangkauan Big Tech ke banyak sektor.

Penelitian ini menjelaskan bahwa teknologi ini memperkuat pengaruh Big Tech dalam dua cara. Pertama, kemampuan AI generatif bergantung pada data dalam jumlah sangat besar. Big Tech adalah pihak yang memiliki akses paling luas terhadap data tersebut. Kedua, kemampuan pengembangan model AI skala besar memerlukan modal yang sangat besar dan infrastruktur komputasi kelas dunia yang hanya dimiliki oleh perusahaan raksasa teknologi.

Kedua faktor ini menciptakan hambatan besar bagi aktor lain yang ingin bersaing atau mengatur penggunaan AI generatif. Sebagai akibatnya, Big Tech semakin sulit ditantang atau dikontrol oleh pihak luar.

Gambar ini menunjukkan kerangka multiple streams yang dimodifikasi, di mana aliran masalah, kebijakan, teknologi, dan politik saling berinteraksi di tingkat global, nasional, dan subsistem isu sepanjang tahapan kebijakan, dengan pengaruh kuat aktor teknologi besar (Big Tech).

Kerangka analisis Kingdon membantu memahami bagaimana Big Tech mempengaruhi kebijakan

Untuk memahami mekanisme pengaruh Big Tech, peneliti menggunakan kerangka kerja kebijakan Kingdon yang membagi proses kebijakan menjadi tiga aliran utama, yaitu masalah, kebijakan, dan politik. Dalam banyak negara, ketika ketiga aliran ini bertemu pada waktu yang bersamaan, kesempatan untuk mengubah kebijakan menjadi terbuka.

Big Tech terbukti mampu mempengaruhi ketiga aliran tersebut.

Pertama, mereka dapat mendefinisikan masalah. Melalui publikasi, konferensi, serta komunikasi intensif dengan pemerintah, Big Tech memiliki kemampuan untuk menekankan urgensi tertentu yang mendukung kepentingan mereka. Misalnya, mereka dapat menyoroti ancaman keamanan siber sekaligus menawarkan solusi berbasis teknologi mereka sendiri.

Kedua, mereka dapat menawarkan paket kebijakan yang sudah jadi. Big Tech sering datang dengan rekomendasi teknis, perangkat analisis, dan model yang memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, mereka tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga membawa jawaban yang siap digunakan.

Ketiga, mereka dapat menggunakan pengaruh politik. Big Tech memiliki jaringan hubungan yang luas, termasuk dengan pembuat kebijakan, akademisi, dan lembaga internasional. Hal ini membuat mereka dapat mempercepat adopsi kebijakan yang menguntungkan mereka.

Pengaruh di ketiga aliran inilah yang menjadikan mereka aktor kunci dalam proses kebijakan modern.

Big Tech sering mendorong kebijakan demi kepentingan sendiri

Meskipun banyak orang berharap Big Tech mempengaruhi kebijakan demi kepentingan masyarakat luas, penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Temuan penelitian menegaskan bahwa Big Tech sering memanfaatkan pengaruh mereka untuk menjaga atau memperluas posisi dominan di pasar.

Di banyak kasus, mereka menentang regulasi ketat dan mendorong kebijakan yang memungkinkan mereka tetap memiliki akses besar terhadap data masyarakat. Mereka juga mendorong regulasi yang menguntungkan model bisnis mereka, sekaligus mempersulit pesaing yang lebih kecil.

Fenomena ini mengkhawatirkan karena teknologi seperti AI generatif semakin mempengaruhi kehidupan sehari hari, mulai dari pendidikan hingga layanan kesehatan. Ketika aturan permainan ditentukan oleh perusahaan yang fokus pada keuntungan dan pertumbuhan, masyarakat berisiko kehilangan perlindungan yang memadai.

Kebutuhan mendesak untuk mempertimbangkan peran Big Tech secara kritis

Penelitian ini menegaskan pentingnya meninjau kembali peran Big Tech dalam kebijakan publik. Pemerintah perlu menilai apakah keterlibatan Big Tech benar benar membantu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat atau justru memperburuk kesenjangan kekuasaan.

Selain itu, transparansi menjadi kunci utama. Proses advokasi dan lobi yang dilakukan Big Tech perlu diawasi secara lebih ketat agar kebijakan yang muncul tidak disusun hanya berdasarkan kepentingan korporasi.

Penelitian ini juga menekankan perlunya meningkatkan kapasitas pemerintah dalam memahami dan mengelola teknologi canggih seperti AI generatif. Ketika pemerintah memahami teknologi secara mendalam, mereka dapat membuat kebijakan yang lebih adil dan seimbang.

Masa depan kebijakan teknologi bergantung pada keseimbangan kekuasaan

Perkembangan AI generatif membuka peluang besar bagi kemajuan manusia. Namun, teknologi ini juga membawa tantangan serius dalam bentuk konsentrasi kekuasaan. Jika Big Tech terus berperan sebagai aktor dominan dalam proses kebijakan, masyarakat harus menuntut sistem yang lebih transparan dan lebih bertanggung jawab.

Keseimbangan antara inovasi dan kepentingan publik menjadi kunci agar masa depan teknologi tidak hanya menguntungkan segelintir perusahaan, tetapi bermanfaat bagi seluruh masyarakat global.

Baca juga artikel tentang: Menyatukan Kebijakan di Dunia yang Terpecah: Pelajaran dari Arktik untuk Adaptasi Iklim Global

REFERENSI:

Khanal, Shaleen dkk. 2025. Why and how is the power of Big Tech increasing in the policy process? The case of generative AI. Policy and Society 44 (1), 52-69.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top