Industri peternakan ayam broiler terus mencari bahan pakan yang lebih murah, lebih tersedia, dan lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa ternak. Di tengah kebutuhan itu, dua produk samping dari industri kelapa sawit mulai dilirik sebagai kandidat penting, yaitu palm kernel cake dan decanter cake. Keduanya berasal dari proses pengolahan sawit dan selama ini lebih sering dipandang sebagai bahan sisa. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahan bahan ini memang punya potensi sebagai pakan alternatif, hanya saja penggunaannya tidak bisa sembarangan. Ada batas aman yang perlu dijaga jika peternak tidak ingin pertumbuhan ayam menurun.
Penelitian yang terbit pada 2026 di jurnal Tropical Animal Health and Production ini menguji secara langsung seberapa jauh palm kernel cake yang biasa disingkat PKC dan decanter cake yang disingkat DC bisa dipakai dalam ransum broiler. Fokus utamanya sederhana tetapi penting. Apakah dua bahan samping ini bisa membantu menciptakan pakan yang lebih berkelanjutan tanpa menurunkan produksi ayam pedaging. Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti melakukan percobaan cukup besar dengan 1200 anak ayam jantan umur sehari yang dipelihara selama 35 hari.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Ayam ayam tersebut dibagi secara acak ke dalam 15 kelompok perlakuan. Masing masing kelompok memiliki 8 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ayam. Desain seperti ini penting dalam penelitian peternakan karena membantu memastikan bahwa hasil yang muncul bukan sekadar kebetulan pada satu kandang atau satu kelompok kecil. Kelompok pertama menjadi kontrol, yaitu ayam yang tidak diberi inklusi PKC maupun DC. Kelompok berikutnya menerima PKC pada tingkat 2 persen sampai 14 persen dengan kenaikan 2 persen. Lalu kelompok sisanya menerima DC pada tingkat yang sama. Dengan cara ini, peneliti bisa membandingkan bukan hanya antara bahan dan kontrol, tetapi juga antara level penggunaan yang rendah dan yang tinggi.
Sebelum melihat hasilnya, kita perlu memahami mengapa PKC dan DC menarik bagi dunia peternakan. Industri sawit menghasilkan produk samping dalam jumlah sangat besar. Jika sebagian dari bahan ini dapat dipakai sebagai pakan ternak, maka ada dua keuntungan sekaligus. Pertama, peternak punya opsi bahan baku yang berpotensi lebih murah atau lebih mudah didapat. Kedua, sistem pertanian menjadi lebih sirkular karena limbah atau hasil samping tidak terbuang percuma. Ini penting di era ketika biaya pakan terus menjadi tekanan besar dan isu keberlanjutan makin diperhatikan.
Namun bahan alternatif selalu datang dengan pertanyaan klasik. Murah dan tersedia saja tidak cukup. Pakan harus tetap mampu mendukung pertumbuhan ayam secara optimal. Pada ayam broiler, performa pertumbuhan sangat sensitif terhadap kualitas nutrisi. Sedikit gangguan pada keseimbangan energi, protein, atau kecernaan bahan dapat segera terlihat dalam bentuk bobot badan yang lebih rendah, pertambahan berat harian yang melambat, atau efisiensi pakan yang menurun. Karena itu, menguji bahan alternatif secara hati hati adalah langkah yang mutlak.

Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Inklusi PKC dan DC pada tingkat yang lebih tinggi, terutama di atas 6 persen, berdampak negatif pada performa pertumbuhan broiler. Peneliti menemukan penurunan nyata pada bobot badan, bobot karkas, pertambahan bobot harian, dan European Broiler Index. Di saat yang sama, konsumsi pakan dan feed conversion ratio justru meningkat. Ini artinya ayam makan lebih banyak atau setidaknya memerlukan pakan lebih besar, tetapi hasil pertumbuhannya tidak sebanding. Dalam bahasa sederhana, efisiensi produksi memburuk.
Feed conversion ratio atau FCR merupakan salah satu angka yang sangat penting dalam usaha broiler. Angka ini menunjukkan berapa banyak pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot tertentu. Semakin rendah FCR, semakin efisien ayam mengubah pakan menjadi daging. Jika FCR naik, berarti ayam memerlukan lebih banyak pakan untuk menghasilkan pertumbuhan yang sama. Bagi peternak, ini berarti biaya produksi bisa meningkat. Jadi ketika penelitian ini menunjukkan bahwa level PKC dan DC yang terlalu tinggi menaikkan FCR, itu merupakan sinyal peringatan yang cukup serius.
Menariknya, penelitian ini juga memeriksa aspek biologis yang lebih dalam, yaitu transkripsi growth hormone receptor dan insulin like growth factor 1 atau IGF 1. Dua penanda ini terkait dengan sistem hormonal yang berperan dalam pertumbuhan. Namun peneliti menemukan bahwa keduanya tidak berubah. Temuan ini penting karena memberi petunjuk bahwa penurunan performa ayam kemungkinan bukan berasal dari gangguan sistem endokrin, melainkan lebih karena faktor nutrisi. Artinya, masalah utama tampaknya terletak pada bagaimana tubuh ayam menerima, mencerna, atau memanfaatkan nutrien dari ransum yang mengandung PKC dan DC pada level tinggi.
Dari sudut pandang nutrisi, hasil ini cukup masuk akal. Produk samping sawit seperti PKC dan DC biasanya memiliki kadar serat yang lebih tinggi dan karakter nutrisi yang berbeda dibanding bahan pakan konvensional seperti jagung atau bungkil kedelai. Pada ruminansia seperti sapi atau kambing, serat tinggi bisa lebih mudah ditoleransi karena mereka memiliki sistem pencernaan yang memang dirancang untuk fermentasi bahan berserat. Namun ayam broiler adalah unggas dengan saluran pencernaan yang jauh lebih pendek dan kemampuan terbatas dalam mencerna serat kasar. Jika kadar bahan berserat dalam pakan terlalu tinggi, efisiensi pemanfaatan nutrisi dapat turun dan pertumbuhan pun ikut terdampak.
Meski begitu, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa PKC dan DC harus dihindari sepenuhnya. Justru pesan utamanya lebih bernuansa. Kedua bahan ini masih bisa dimasukkan ke dalam ransum broiler pada level sekitar 4 persen sampai 6 persen. Pada kisaran ini, bahan tersebut masih tampak layak digunakan sebagai komponen pakan alternatif tanpa menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap performa produksi. Ini penting karena menunjukkan bahwa bahan samping sawit tetap punya tempat dalam formulasi pakan, asalkan jumlahnya dijaga dan tidak berlebihan.
Ada sisi lain yang juga menarik. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa kualitas daging, khususnya pH dan daya ikat air, tidak terpengaruh secara nyata. Artinya, meskipun performa pertumbuhan dapat menurun pada level tinggi, mutu tertentu dari daging yang dihasilkan tidak otomatis ikut memburuk. Ini memberi gambaran bahwa efek bahan pakan alternatif bisa selektif. Beberapa aspek produksi terganggu, sementara aspek lain tetap stabil. Dalam praktik, informasi seperti ini sangat berguna karena membantu peternak dan formulator pakan memahami risiko secara lebih rinci.
Bagi orang awam, hasil penelitian ini mirip dengan gagasan bahwa tidak semua bahan murah dan berlimpah bisa dipakai banyak banyak dalam resep tanpa konsekuensi. Sedikit tambahan mungkin masih aman dan bahkan bermanfaat secara ekonomi. Namun jika porsinya terlalu besar, keseimbangan resep berubah dan hasil akhirnya menurun. Pada ayam broiler, tubuh mereka sangat peka terhadap komposisi pakan. Jadi bahan alternatif harus masuk sebagai bagian dari formulasi yang cermat, bukan sebagai pengganti besar besaran tanpa pengujian.
Penelitian ini juga penting dalam konteks keberlanjutan. Dunia pertanian dan peternakan sekarang menghadapi tekanan untuk mengurangi limbah dan memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien. Menggunakan hasil samping industri sawit sebagai bahan pakan adalah salah satu contoh pendekatan sirkular yang menjanjikan. Namun keberlanjutan yang baik bukan hanya soal memakai limbah. Pendekatan itu juga harus tetap menjaga produktivitas, kesehatan ternak, dan efisiensi ekonomi. Jika bahan alternatif justru menurunkan performa terlalu jauh, manfaat lingkungannya bisa diimbangi oleh kerugian produksi.
Karena itu, pelajaran terbesar dari studi ini adalah pentingnya takaran. PKC dan DC bukan bahan ajaib, tetapi juga bukan bahan buruk. Keduanya adalah bahan yang potensial jika dipakai dengan dosis yang tepat. Penelitian ini memberi patokan awal yang sangat berguna bahwa kisaran 4 persen sampai 6 persen tampaknya masih aman untuk broiler, sedangkan level di atas itu mulai membawa risiko penurunan pertumbuhan dan efisiensi produksi.
Pada akhirnya, studi ini memperlihatkan bagaimana sains membantu dunia peternakan membuat keputusan yang lebih cerdas. Daripada menebak nebak apakah produk samping sawit baik atau buruk, peneliti mengujinya secara langsung pada ribuan ayam dan membaca hasilnya dengan teliti. Dari situ muncul gambaran yang jauh lebih jernih. Masa depan pakan berkelanjutan memang tidak akan bergantung pada satu bahan tunggal, tetapi pada kemampuan kita meramu berbagai sumber daya dengan tepat. Dalam konteks itu, palm kernel cake dan decanter cake punya potensi nyata, selama penggunaannya tetap berada dalam batas yang masuk akal.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Azizi, Mohammad Naeem dkk. 2026. Sustainable alternative feed ingredients: effects of palm kernel cake and decanter cake on broiler growth and production performance . Tropical Animal Health and Production 58 (2), 77.

