Dunia filsafat sering digambarkan sebagai hutan belantara gagasan, tempat di mana berbagai teori tumbuh, berdebat, dan saling memengaruhi. Di antara rimbunnya pemikiran itu, ada satu pertanyaan yang telah lama menarik perhatian para filsuf: apakah sesuatu harus berasal dari asal tertentu untuk menjadi dirinya sendiri? Atau, bisakah ia ada dalam bentuk yang sama tetapi lahir dari sumber yang berbeda? Pertanyaan inilah yang menjadi inti pembahasan dalam tulisan Dongwoo Kim berjudul Necessities in the Old Jungle?: On Han’s Analysis of the Necessity of Origin, yang diterbitkan dalam Asian Journal of Philosophy pada tahun 2025.
Dalam artikel ini, Kim membahas analisis filsuf Han tentang apa yang disebut keniscayaan asal, atau necessity of origin. Sekilas terdengar sangat teoretis, tetapi sesungguhnya gagasan ini menyentuh hal-hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Ia menyentuh cara kita memahami identitas, asal-usul, dan hubungan sebab akibat yang membentuk kenyataan.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Mengurai Makna Keniscayaan Asal
Gagasan keniscayaan asal berasal dari pertanyaan sederhana: apakah sesuatu bisa tetap menjadi dirinya jika asalnya berubah? Bayangkan seseorang yang Anda kenal. Dapatkah ia tetap menjadi orang yang sama jika lahir dari orang tua yang berbeda, di tempat yang berbeda, dan pada waktu yang berbeda? Teori keniscayaan asal mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Identitas seseorang, benda, atau makhluk apapun melekat pada asalnya.
Filsuf Saul Kripke pada abad ke-20 adalah tokoh yang memperkenalkan ide ini secara sistematis. Menurutnya, hubungan antara sesuatu dan asalnya bersifat niscaya, bukan kebetulan. Sebuah meja tertentu, misalnya, tidak akan menjadi meja yang sama jika terbuat dari kayu lain. Begitu pula seseorang tidak akan menjadi dirinya jika berasal dari kombinasi genetik lain. Asal tidak hanya menjadi awal keberadaan, tetapi juga bagian dari identitas yang tak terpisahkan.
Namun, Han yang menjadi fokus tulisan Kim melihat adanya celah dalam argumen Kripke. Ia berpendapat bahwa meskipun teori Kripke tampak logis, ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa asal harus bersifat niscaya. Kripke memang menunjukkan bahwa kita sulit membayangkan asal yang berbeda, tetapi sulitnya membayangkan sesuatu tidak otomatis berarti hal itu mustahil secara logis.
Dua Sisi Pemikiran Han
Dongwoo Kim menjelaskan bahwa analisis Han memiliki dua bagian besar. Bagian pertama adalah sisi negatif, yaitu kritik terhadap pandangan Kripke. Bagian kedua adalah sisi positif, yaitu tawaran jalan keluar untuk menutup celah logika yang ditinggalkan oleh Kripke.
Pada bagian negatif, Han menunjukkan bahwa argumen Kripke masih menyisakan apa yang ia sebut kesenjangan inferensial. Kripke mendasarkan argumennya pada intuisi bahasa, pada bagaimana kita menggunakan kata-kata seperti “mungkin” dan “harus”. Namun bagi Han, hal itu tidak cukup kuat untuk membuktikan keniscayaan yang sesungguhnya. Ia menilai bahwa Kripke hanya menjelaskan apa yang terasa niscaya, bukan mengapa sesuatu benar-benar niscaya.
Sementara pada bagian positif, Han mengajukan solusi melalui pandangan filsafat Aristoteles. Menurut Aristoteles, setiap benda memiliki hakikat atau esensi yang membuatnya menjadi dirinya sendiri. Esensi itu diwujudkan melalui sebab-sebab tertentu. Dengan kata lain, sebab asal bukan sekadar kejadian acak, tetapi bagian dari struktur hakikat itu sendiri.
Han menggabungkan pandangan Aristoteles dengan logika modern untuk menjelaskan bahwa asal sesuatu tidak bisa dipisahkan dari keberadaannya. Ia berargumen bahwa asal bukan sekadar titik awal historis, melainkan bagian dari jalinan ontologis yang membentuk realitas. Dengan begitu, asal memang bersifat niscaya, bukan karena kita tidak dapat membayangkannya berbeda, tetapi karena ia terikat secara mendasar pada hakikat sesuatu.
Dari Bahasa Menuju Hakikat
Apa yang dilakukan Han, menurut Kim, adalah memindahkan perdebatan dari ranah bahasa menuju ranah hakikat. Kripke berbicara dalam konteks linguistik dan logika, sedangkan Han menekankan dimensi ontologis, yaitu keberadaan yang sesungguhnya.
Misalnya, bayangkan seorang anak yang diadopsi. Secara sosial, ia mungkin memiliki keluarga baru dan lingkungan yang berbeda. Namun secara biologis, DNA-nya tetap sama dengan orang tua kandungnya. Dalam pandangan Han, hal ini menunjukkan bahwa identitas memiliki lapisan yang lebih dalam daripada sekadar pengalaman atau label sosial. Ia berakar pada sebab dan hakikat yang tidak bisa diputus.
Dengan cara ini, Han mengingatkan bahwa memahami sesuatu tidak cukup hanya dari penampakan luarnya atau dari bahasa yang kita gunakan untuk menjelaskannya. Kita perlu menelusuri struktur sebab dan hakikat yang tersembunyi di baliknya.
Mengapa Pertanyaan Ini Relevan?
Sekilas, diskusi tentang keniscayaan asal tampak abstrak dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya, ia berhubungan erat dengan banyak bidang pengetahuan lain. Dalam biologi, misalnya, pertanyaan ini muncul ketika kita membicarakan evolusi dan genetika. Dalam sejarah, ia muncul saat kita menelusuri sebab-musabab suatu peristiwa. Dalam budaya, ia muncul ketika kita membahas identitas dan asal-usul suatu bangsa.
Pertanyaan tentang asal juga muncul dalam perdebatan moral dan politik. Apakah seseorang dapat melepaskan diri sepenuhnya dari asal-usulnya? Apakah kebudayaan dapat berdiri tanpa akar sejarahnya? Han dan Kim mengajak kita untuk berpikir bahwa memahami asal bukan hanya tentang mencari titik awal, tetapi tentang memahami jaringan penyebab yang membentuk keberadaan dan makna sesuatu.
Filsafat sebagai Penjelajahan
Judul artikel Kim, Necessities in the Old Jungle, menggunakan metafora yang menarik. Ia menyebut filsafat sebagai “hutan lama” karena di dalamnya terdapat jejak pemikiran yang telah tumbuh selama berabad-abad. Hutan ini penuh dengan jalur yang berliku, tumpang tindih, dan kadang buntu. Namun di balik kerumitan itu, selalu ada kehidupan intelektual yang terus berkembang.
Han, dalam pandangan Kim, adalah salah satu penjelajah hutan itu. Ia mencoba menelusuri jalur lama yang sudah pernah dilalui Aristoteles dan Kripke, tetapi dengan membawa peta baru. Ia tidak ingin sekadar menegaskan pendapat lama, melainkan menjembatani kesenjangan di antara keduanya.
Kim sendiri bertindak sebagai penafsir yang membantu pembaca memahami jalan pikiran Han. Ia menunjukkan di mana argumen Han memperkuat tradisi filsafat klasik, dan di mana ia membuka ruang baru bagi diskusi tentang sebab, hakikat, dan identitas.
Filsafat tentang asal dan keniscayaan mungkin tampak seperti pembahasan kuno, tetapi sesungguhnya ia tetap hidup dan relevan. Dalam dunia modern yang serba berubah, kita sering menghadapi pertanyaan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Teknologi, migrasi, dan perubahan sosial membuat identitas menjadi semakin cair. Namun di tengah arus perubahan itu, gagasan Han mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang tetap: hubungan mendasar antara asal dan keberadaan.
Pemikiran Han dan penjelasan Kim menunjukkan bahwa asal tidak hanya menentukan apa yang ada, tetapi juga bagaimana sesuatu memiliki makna. Dengan memahami asal, kita memahami hakikat diri dan dunia di sekitar kita. Filsafat, dalam hal ini, bukan hanya tentang teori abstrak, melainkan tentang upaya manusia untuk mengenali akar dari segala sesuatu.
Melalui artikel ini, Dongwoo Kim mengajak kita untuk kembali menelusuri hutan lama filsafat dengan pandangan yang segar. Ia mengingatkan bahwa setiap gagasan besar, seperti setiap pohon di hutan, tumbuh dari akar yang dalam. Dan hanya dengan memahami akar itulah kita bisa benar-benar memahami mengapa dunia ini ada sebagaimana adanya.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Kim, Dongwoo. 2025. Necessities in the old jungle?: On Han’s analysis of the necessity of origin. Asian Journal of Philosophy 4 (1), 9.

