Di tengah dunia bisnis yang semakin global, perusahaan berlomba-lomba untuk tampil sebagai entitas yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan. Istilah yang paling sering digunakan untuk menggambarkan hal itu adalah Corporate Social Responsibility atau CSR. Secara sederhana, CSR adalah gagasan bahwa perusahaan tidak boleh hanya memikirkan keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan kesejahteraan sosial dan kelestarian alam. Namun, dalam praktiknya, banyak bentuk CSR yang diterapkan di berbagai negara masih meniru model dari Barat, terutama dari Eropa dan Amerika Utara.
Sebuah penelitian menarik dari Thailand yang dilakukan oleh Nooch Kuasirikun dan Philip Constable mencoba menawarkan cara pandang yang berbeda. Dalam artikel ilmiah berjudul Boats Need Water and Tigers Need Jungle, mereka menelusuri bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan di Thailand berkembang dari nilai-nilai budaya lokal dan bukan sekadar menyalin konsep yang dirancang di dunia Barat.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Filosofi Lokal: Perahu Butuh Air, Harimau Butuh Hutan
Judul penelitian ini bukan sekadar peribahasa puitis. Dalam budaya Thailand, ungkapan “perahu butuh air, harimau butuh hutan” mengandung pesan mendalam tentang keterhubungan. Perahu tidak bisa bergerak tanpa air, harimau tidak akan hidup tanpa hutan. Artinya, segala sesuatu di dunia ini saling bergantung.
Bagi masyarakat Thailand, hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan komunitas adalah fondasi kehidupan. Pandangan ini juga terbawa ke dunia bisnis. Banyak pelaku usaha di Thailand memandang bahwa keberhasilan perusahaan tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan lingkungan di sekitarnya.
Dalam konteks ini, tanggung jawab sosial bukanlah strategi promosi atau kewajiban hukum. Ia lebih merupakan bentuk kesadaran moral dan spiritual bahwa setiap tindakan ekonomi memiliki konsekuensi sosial.
Ekonomi Buddhis dan Etika dalam Bisnis
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa praktik CSR di Thailand sangat dipengaruhi oleh konsep Ekonomi Buddhis atau Buddhist Economics. Konsep ini berakar pada ajaran Buddha tentang keseimbangan, moderasi, dan belas kasih terhadap semua makhluk hidup.
Ekonomi Buddhis memandang bahwa tujuan kegiatan ekonomi bukan hanya menciptakan kekayaan, tetapi juga menjaga kebahagiaan batin dan keharmonisan sosial. Dalam ajaran ini, kesuksesan diukur bukan dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh semua pihak.
Penelitian Kuasirikun dan Constable menemukan bahwa banyak pemimpin bisnis Thailand menafsirkan CSR sebagai bentuk pengamalan ajaran moral. Mereka mengaitkannya dengan prinsip dukkha atau penderitaan, Jalan Tengah yang menolak sikap berlebihan, serta konsep pertukaran timbal balik yang menekankan keseimbangan antara memberi dan menerima.
Dengan demikian, perusahaan yang menjalankan CSR dengan nilai Buddhis tidak hanya berusaha memperbaiki citra atau memenuhi tuntutan publik, tetapi sungguh-sungguh berupaya menjaga keseimbangan antara keuntungan dan kebajikan.
Belajar dari Para Pemimpin Lokal
Untuk memahami lebih dalam bagaimana nilai-nilai ini diterapkan dalam praktik, para peneliti melakukan wawancara dengan para pemimpin bisnis di Thailand pada dua periode berbeda, yaitu tahun 2009 hingga 2010 dan tahun 2019 hingga 2020.
Melalui perbandingan dua dekade tersebut, mereka menemukan bahwa walaupun dunia bisnis Thailand semakin modern dan terhubung secara global, nilai-nilai tradisional masih tetap hidup. Banyak perusahaan tetap menempatkan kesejahteraan masyarakat dan harmoni lingkungan sebagai bagian penting dari identitas mereka.
Bagi para pemimpin ini, CSR bukanlah proyek tambahan atau kewajiban eksternal. Ia adalah bagian dari cara hidup, sebagaimana nilai moral dan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Temuan Penting: CSR yang Tumbuh dari Tanah Sendiri
Kuasirikun dan Constable berargumen bahwa praktik tanggung jawab sosial di Thailand tidak bisa dipahami dengan kacamata Barat. Dalam pandangan mereka, CSR di Thailand berkembang secara alami dari akar budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Berbeda dengan pendekatan Barat yang cenderung formal dan berbasis pada pelaporan atau sistem manajemen, pendekatan Thailand lebih bersifat relasional. Ia menekankan hubungan antara manusia, empati, dan rasa tanggung jawab sosial.
Dalam model ini, perusahaan dipandang sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling mendukung. Ketika perusahaan mengambil sumber daya dari alam dan masyarakat, ia juga berkewajiban mengembalikan manfaat kepada keduanya. Dengan begitu, keseimbangan dapat terjaga.
Makna bagi Negara Berkembang Lain
Temuan dari Thailand tidak hanya relevan bagi negara tersebut, tetapi juga bagi banyak negara berkembang lainnya. Para peneliti menggunakan istilah DEEMs atau Developing Economies and Emerging Markets untuk menggambarkan negara-negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh.
Mereka menekankan bahwa setiap negara memiliki konteks sosial dan budaya yang unik. Oleh karena itu, praktik CSR seharusnya juga berkembang sesuai nilai-nilai lokal, bukan sekadar mengikuti model dari luar.
Dengan memahami kearifan lokal, perusahaan dapat mengembangkan program tanggung jawab sosial yang lebih relevan, efektif, dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga menjadi cara untuk menantang dominasi model neoliberal dari Barat yang sering dianggap tidak cocok untuk semua masyarakat.
Kontribusi Penting bagi Dunia Akademik dan Praktik Bisnis
Penelitian ini memberikan kontribusi berharga dalam literatur tentang CSR. Ia menunjukkan bahwa praktik tanggung jawab sosial tidak bisa dipisahkan dari konteks budaya tempat ia tumbuh.
Selama ini, teori-teori CSR banyak berfokus pada pengalaman negara maju, sehingga mengabaikan suara dan pengalaman dari negara berkembang. Padahal, di banyak tempat, terutama di Asia dan Afrika, praktik bisnis sering kali lebih dekat dengan kehidupan komunitas dan nilai spiritual masyarakat.
Dengan menyoroti kasus Thailand, penelitian ini membuka ruang untuk mengakui bahwa model CSR yang berakar pada nilai-nilai lokal dapat memberikan solusi yang lebih manusiawi dan seimbang bagi tantangan sosial dan lingkungan.
Pepatah “perahu butuh air, harimau butuh hutan” yang menjadi judul penelitian ini menyampaikan pesan universal tentang saling ketergantungan. Perusahaan tidak bisa hidup tanpa masyarakat dan lingkungan yang mendukungnya.
Dalam dunia yang semakin individualistis dan berorientasi pada keuntungan jangka pendek, pesan ini terasa sangat relevan. Tanggung jawab sosial seharusnya tidak dilihat sebagai beban atau alat pencitraan, tetapi sebagai panggilan moral untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dari Thailand, kita belajar bahwa bisnis yang berkelanjutan tidak selalu harus dibangun di atas teori manajemen modern. Ia bisa tumbuh dari akar budaya, dari rasa hormat terhadap kehidupan, dan dari kesadaran bahwa dalam setiap tindakan ekonomi, ada tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan.
Dan mungkin, seperti pepatah itu, dunia bisnis global pun perlu menyadari satu hal sederhana: perahu tidak akan pernah berlayar tanpa air, dan harimau tidak akan hidup tanpa hutan.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Kuasirikun, Nooch & Constable, Philip. 2025. “Boats need water and tigers need jungle”-Locally constructed corporate social responsibility in Thailand. Accounting, Auditing & Accountability Journal 38 (2), 730-759.

