Lompat ke konten

R. Andika Putra Dwijayanto

Alumni S1 Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada, mahasiswa S2 Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada. Peneliti Fisika Reaktor, Keselamatan Reaktor, dan Sistem Energi. Kadang menjadi diseminator teknologi energi nuklir.

Milestone Nuklir Cina: EPR dan APR1000 Pertama Di Dunia Mulai Beroperasi

Cina mencapai milestone baru dalam ekspansi kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mereka. Pada tanggal 29 Juni 2018, PLTN Taishan 1 telah terkoneksi dengan jaringan listrik dan menghasilkan listrik. PLTN ini merupakan PLTN pertama di dunia yang menggunakan teknologi European Pressurised Reactor (EPR) yang didesain oleh Framatome [1]. Baca juga: Perkembangan Teknologi Reaktor Nuklir Maju, Bagian 1 Perkembangan Teknologi Reaktor Maju, Bagian 2 PLTN Taishan merupakan bagian dari megaproyek PLTN… Selengkapnya »Milestone Nuklir Cina: EPR dan APR1000 Pertama Di Dunia Mulai Beroperasi

blank

Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

Sejauh ini, energi nuklir belum dianggap sebagai “energi terbarukan”. Anggapannya, ketersediaan bahan bakar nuklir, yakni uranium dan thorium, terbatas dan bisa habis. Sementara “energi terbarukan” seperti energi surya dan bayu tidak. Walau realitanya, semua moda energi itu terbatas dan suatu saat pasti habis (energi surya dan bayu akan habis ketika matahari menelan bumi di akhir usianya). Namun, jika dilihat dari perspektif lain, energi nuklir bisa dianggap sebagai “terbarukan”. Caranya adalah… Selengkapnya »Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

blank

Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Perubahan iklim merupakan isu krusial yang harus mendapatkan perhatian besar dari penduduk bumi. Mengingat, takdir kehidupan manusia dan alam dapat sangat tergantung pada bagaimana manusia memahami efek yang disebabkan manusia pada iklim planet ini [1]. Terlambat memahami masalah berarti terlambat bertindak, dan dampaknya bisa fatal. Telah dipahami bahwa penyebab utama dari perubahan iklim saat ini bersifat antropogenik, dengan kata lain disebabkan aktivitas manusia [2]. Sumbernya adalah emisi gas rumah kaca… Selengkapnya »Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

blank

Meluruskan Salah Kaprah tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik

Listrik bisa dikatakan telah menjadi kebutuhan dasar manusia pada abad 21. Dengan isu perubahan iklim yang terus memanas, negara-negara di dunia harus mulai mempertimbangkan ulang strategi pemenuhan energi mereka. Energi fosil harus sesegera mungkin disubstitusi dengan energi bersih [1]. Dinamika transisi menuju energi bersih diwarnai hal-hal menarik. Salah satunya adalah perdebatan terkait moda energi yang paling cepat untuk melakukan transisi dari energi fosil ke energi bersih. Kalangan pro-energi terbarukan mengklaim… Selengkapnya »Meluruskan Salah Kaprah tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik

blank

Menguji Kelayakan Baterai Nuklir Untuk Ponsel

Baterai nuklir bukan ide baru. Ide ini sudah ada sejak tahun 1900-an, ketika muncul ketertarikan untuk menciptakan baterai dengan usia pakai panjang. Baterai nuklir menggunakan prinsip peluruhan radioaktif (baik alfa, beta maupun gamma) untuk dikonversi menjadi energi listrik [1]. Hingga saat ini, jenis baterai nuklir yang paling sering digunakan adalah baterai nuklir tipe radioisotope thermoelectric generator (RTG) [1]. Perangkat ini digunakan untuk membangkitkan listrik untuk kebutuhan wahana luar angkasa. Wahana… Selengkapnya »Menguji Kelayakan Baterai Nuklir Untuk Ponsel

blank

Mitos atau Fakta? Limbah PLTN Bisa Dibuat Senjata Nuklir

Senjata nuklir menjadi momok besar sejak pertama kali (dan hanya sekali) digunakan pada perang sungguhan, tepatnya pada Perang Dunia II. Senjata berukuran kecil dengan bahan bakar sedikit, tetapi memiliki daya hancur jauh lebih kuat daripada senjata lain pada masanya. Kekuatan mengerikan ini, ditambah fisika radiasi yang belum banyak dipahami pada masa itu, kemudian melahirkan isu-isu terkait pemanfaatan lain dari energi nuklir, yakni PLTN. Terkait dengan perang dan PLTN, salah satu… Selengkapnya »Mitos atau Fakta? Limbah PLTN Bisa Dibuat Senjata Nuklir

blank

Apa Benar Nuklir Mahal? (Tanggapan Untuk Arcandra Tahar)

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, mengungkapkan bahwa listrik dari energi nuklir itu mahal. Sebagaimana dilansir dari Viva.co.id (19/4), Pak Arcandra menggugat klaim bahwa listrik itu murah. “Banyak yang mengatakan, ‚mari nuklir, mana yang lebih murah, nuklir atau EBT lain‘. Banyak yang mengatakan nuklir itu USD 5-6 sen per kWh, tapi nuklir itu USD 14 sen per kWh, saya cek lapangan.“ Katanya. Beliau melanjutkan bahwa dirinya telah meninjau harga listrik dari… Selengkapnya »Apa Benar Nuklir Mahal? (Tanggapan Untuk Arcandra Tahar)

blank

Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Walau litbang iptek nuklir telah dilakukan sejak hampir 60 tahun yang lalu, tetapi negeri ini belum juga masuk ke era nuklir. Belum ada satupun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang beroperasi di negeri ini. Penerimaan publik terhadap nuklir yang masih kurang dan permainan politik tidak sehat menghambat penerapan moda energi paling murah, bersih, selamat, reliabel dan sustainabel ini [1]. Rencana pembangunan PLTN sebenarnya sudah dimunculkan beberapa kali. Misalnya di Semenanjung… Selengkapnya »Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

blank

Progres Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Daya Nuklir Desain Anak Negeri

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menapaki langkah baru dalam pengembangan Reaktor Daya Eksperimental (RDE). Setelah pada tahun 2017 BATAN menyelesaikan basic engineering design (BED) RDE, maka pada tahun 2018, diharapkan detailed engineering design (DED) dapat dirampungkan [1]. Peta jalan pengembangan DED RDE diluncurkan pada seminar yang diadakan pada 8 Maret 2018 lalu. DED RDE direncanakan agar dapat terselesaikan tahun ini [2]. “Ada proses panjang yang kita mulai sejak tahun 2014,… Selengkapnya »Progres Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Daya Nuklir Desain Anak Negeri

blank

Bagaimana Pengelolaan Limbah Radioaktif PLTN?

Mitos yang beredar di tengah masyarakat terkait energi nuklir, selain terkait keselamatan dan radiasi, adalah soal limbah radioaktif. Dikesankan bahwa limbah radioaktif PLTN adalah masalah yang belum terpecahkan hingga saat ini. Entah soal pengelolaan maupun pembuangan. Padahal itu tidak benar. Industri nuklir adalah satu-satunya industri energi yang bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan limbahnya. Bahkan, biaya pengelolaan limbah radioaktif PLTN dimasukkan ke dalam biaya produksi listrik. Walau begitu, nilai biayanya kecil sekali, sehingga… Selengkapnya »Bagaimana Pengelolaan Limbah Radioaktif PLTN?

blank

Peningkatan Nilai Guna Bahan Bakar Nuklir Dengan Kombinasi PWR-CANDU

PLTN kontemporer pada umumnya menggunakan teknologi pressurised water reactor (PWR). Sekitar 64% dari seluruh PLTN di dunia merupakan tipe PWR[1]. Desainnya sudah well-established. Namun, PWR masih memiliki ganjalan pada pemanfaatan bahan bakar. Konfigurasi reaktor nuklir PWR tidak didesain untuk mampu memanfaatkan potensi bahan bakar secara optimal. Nilai pemanfaatan bahan bakarnya hanya berkisar 0,5%. Angka ini didapatkan dari data bahwa tiap tahunnya, PWR berdaya 1.000 MWe membutuhkan 200 ton uranium alam,… Selengkapnya »Peningkatan Nilai Guna Bahan Bakar Nuklir Dengan Kombinasi PWR-CANDU

blank

Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Nuklir belum digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia. Walau rencananya telah ada sejak puluhan tahun lalu, dinamika politik dalam negeri menghalangi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga sekarang. Namun sejak pertengahan 2010-an, rencana pembangunan PLTN mulai menggaung lagi. Teknologi PLTN kontemporer merupakan teknologi yang paling matang. Namun, teknologi ini memiliki kendala pada waktu pembangunan yang relatif lama dan pemanfaatan bahan bakar yang relatif rendah. PLTN kontemporer baru… Selengkapnya »Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

blank

Pemanfaatan Thorium di Reaktor Nuklir Kontemporer

Thorium merupakan bahan bakar nuklir yang belum populer digunakan. Teknologi reaktor maju seperti molten salt reactor (MSR) diproyeksikan untuk menggunakan thorium sebagai bahan bakar. Sementara, beberapa penelitian telah mengungkapkan potensi thorium untuk digunakan di reaktor maju lain seperti sodium-cooled fast reactor (SFR). Salah satu penelitian (Ismail et al) mengungkapkan bahwa penggunaan thorium dalam SFR dapat memperpanjang usia pakai bahan bakar nuklir dalam reaktor[1]. Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju Bagian 1… Selengkapnya »Pemanfaatan Thorium di Reaktor Nuklir Kontemporer

blank

Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

Perkembangan teknologi reaktor nuklir maju membuka peluang bagi pemanfaatan thorium sebagai bahan bakar nuklir. Bagi sebagian kalangan, seperti Thorium Energy Alliance, thorium dianggap sebagai kunci utama revolusi industri nuklir, yang saat ini bisa dikatakan salah arah. Thorium merupakan nuklida radioaktif yang pertama kali ditemukan pada tahun 1829 oleh Jons Jakob Berzelius, ilmuwan Swedia. Waktu paruhnya mencapai 14 milyar tahun, lebih tua dari umur bumi. Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan… Selengkapnya »Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

blank

Inovasi Bahan Bakar Nuklir Metalik Lightbridge

Sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang beroperasi di dunia ini adalah tipe light water reactor (LWR)[1]. Reaktor tipe ini menggunakan bahan bakar nuklir berbentuk pelet dengan jenis uranium dioksida (UO2)[2]. Sebagian PLTN di Prancis menggunakan bahan bakar nuklir campuran antara UO2 dengan plutonium dioksida (PuO2), seringkali disebut mixed oxide (MOX)[2]. Bahan bakar dalam bentuk oksida memiliki keunggulan berupa titik leleh yang tinggi. Namun, konduktivitas termalnya rendah[2]. Akibatnya, panas… Selengkapnya »Inovasi Bahan Bakar Nuklir Metalik Lightbridge