Bank Silicon Valley di California Gulung Tikar dan Asetnya Disita!

Pada hari Jumat (10/3), setelah Bank Silicon Valley (SVB) mengalami kebangkrutan, pihak berwenang di Amerika Serikat (AS) dengan cepat menyita […]

blank

Pada hari Jumat (10/3), setelah Bank Silicon Valley (SVB) mengalami kebangkrutan, pihak berwenang di Amerika Serikat (AS) dengan cepat menyita aset-asetnya. Bank SVB merupakan bank terbesar ke-16 di AS.

Menurut laporan dari kantor berita Associated Press, Bank Silicon Valley dinyatakan bangkrut setelah terjadi penarikan dana besar-besaran dari para nasabah yang cemas dengan kondisi keuangan bank tersebut. Kebanyakan nasabah Bank Silicon Valley adalah karyawan di perusahaan teknologi dan perusahaan-perusahaan modal ventura.

Bank Silicon Valley menjadi bank kedua di sejarah AS yang mengalami kerugian besar setelah Washington Mutual pada masa krisis keuangan sepuluh tahun lalu. Bank ini sangat tergantung pada industri teknologi, sehingga kemungkinan kegagalan SVB tidak akan menyebar ke sektor perbankan AS seperti yang terjadi selama berbulan-bulan sebelum Resesi Besar. Bank-bank besar di AS, yang dapat memicu masalah ekonomi sistemik, masih memiliki neraca keuangan yang sehat dan modal yang cukup.

Kasus Silicon Valley Bank (SVB) dan Sentimen untuk Perbankan Indonesia

Pada tanggal 10 Maret 2023, terlihat pintu Bank Silicon Valley yang terletak di Menlo Park, California, dalam keadaan tertutup.

Krisis keuangan terbesar sejak Depresi Besar terjadi pada 2007, saat pinjaman rumah yang berhubungan dengan efek beragunan hipotek mempengaruhi pasar finansial global dari AS hingga Eropa dan Asia. Lehman Brothers, sebuah bank investasi yang sudah berdiri sejak 1847, mengalami kebangkrutan karena banyak bank-bank besar yang terkait. Krisis ini berdampak pada sistem finansial global dan menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

.

Bangkrut dalam waktu yang singkat

SVB mengalami kebangkrutan dengan cepat meskipun awal tahun ini bank tersebut masih terlihat stabil. Pada Kamis (9/3), SVB mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar $1,75 miliar untuk meningkatkan modal, yang menyebabkan investor panik dan harga saham turun 60%. Saham tersebut terus menurun pada Jumat (10/3) sebelum pembukaan perdagangan di Nasdaq.

FDIC (the Federal Deposit Insurance Corporation) menutup SVB sebelum siang hari dan langsung menyita aset-aset bank tersebut, tanpa menunggu penutupan bank seperti biasanya. Pada saat SVB bangkrut, total aset bank tersebut mencapai $209 miliar atau sekitar Rp 3.240 triliun. Belum ada informasi pasti mengenai berapa banyak tabungan nasabah yang nilainya melebihi batas penjaminan senilai $250.000, namun laporan regulator sebelumnya menunjukkan adanya banyak nasabah di SVB yang memiliki tabungan melebihi batas penjaminan tersebut.

FDIC mengumumkan pada Jumat (10/3) bahwa tabungan yang memiliki nilai di bawah batas penjaminan $250.000 atau sekitar Rp 3,87 miliar akan dapat diakses pada pagi hari Senin (13/3).

Seorang petugas Bank Silicon Valley berbicara dengan para nasabah yang berdiri di luar kantor SVB di Santa Clara, California, Jumat, 10 Maret 2023. (Foto: Jeff Chiu/AP Photo)

Seorang pegawai dari Bank Silicon Valley berbicara dengan pelanggan yang berdiri di luar kantor Bank SVB di Santa Clara, California pada hari Jumat, 10 Maret 2023. Foto tersebut diambil oleh Jeff Chiu dari AP Photo.

.

Penyedia layanan keuangan kepada perusahaan-perusahaan teknologi

Bank Silicon Valley (SVB) merupakan lembaga keuangan yang terkait erat dengan industri teknologi. SVB memberikan layanan keuangan kepada para pendiri, perusahaan rintisan, dan pekerja di sektor teknologi. Namun, hubungan antara Silicon Valley dengan industri teknologi telah berubah menjadi kerugian. Saham perusahaan teknologi merosot dalam 18 bulan terakhir akibat dari kenaikan tajam selama pandemi dan pemutusan hubungan kerja yang meluas di sektor teknologi.

Bank juga terkena dampak kebijakan Federal Reserve, bank sentral AS, yang bertujuan untuk menekan inflasi dengan mengeluarkan serangkaian kenaikan suku bunga yang agresif untuk menstabilkan ekonomi.

Kenaikan suku bunga acuan oleh Fed berdampak pada penurunan nilai obligasi, yang merupakan aset yang biasanya stabil. Namun, penurunan nilai obligasi ini sebenarnya menimbulkan “kerugian yang belum terealisasi” atau kerugian yang tidak dihitung saat menghitung modal cadangan bank yang dapat digunakan jika ada penurunan bisnis di masa depan.

Pada saat para nasabah mulai cemas dan melakukan penarikan dana mereka, bank-bank terkadang harus menjual obligasi sebelum jatuh tempo untuk mengatasi penarikan dana yang besar. Bank Silicon Valley terpaksa menjual aset likuiditas tinggi senilai $21 miliar untuk menutupi penarikan dana besar-besaran dari nasabah. Akibatnya, bank tersebut mengalami kerugian sebesar $1,8 miliar dari penjualan obligasi-obligasi tersebut.

.

Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa Bank Silicon Valley (SVB) mengalami kebangkrutan dan ditutup oleh Lembaga Penjamin Simpanan Federal (FDIC) karena kondisinya yang terus memburuk. Penyebab utamanya adalah turunnya nilai saham perusahaan teknologi dan upaya Federal Reserve untuk menekan inflasi dengan kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga membuat nilai obligasi turun, sehingga bank harus menjual aset dengan likuiditas tinggi untuk menutupi penarikan dana besar-besaran dari para nasabah. SVB harus menjual aset senilai $21 miliar dengan harga rugi sebesar $1,8 miliar. Nasabah yang menarik dana mereka di bawah batas penjaminan akan menerima kembali uang mereka pada hari Senin berikutnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga stabilitas keuangan dan mengelola risiko dengan baik dalam industri perbankan.

.

Referensi

CNBC, https://www.cnbcindonesia.com/market/20230313065358-17-421037/ini-kronologi-lengkap-bank-besar-as-kolaps-dalam-48-jam Diakses pada 14 Maret, 2023.

CNN Indonesia, https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230311234807-78-923860/svb-kebangkrutan-bank-terbesar-sejak-2008-miliaran-dolar-tersandera Diakses pada 14 Maret, 2023.

Tempo, https://dunia.tempo.co/read/1701835/satu-lagi-bank-as-bangkrut-regulator-tutup-signature-bank-new-york Diakses pada 14 Maret, 2023.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *