Pandemi COVID-19 telah menjadi tonggak sejarah yang mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia kerja. Perubahan drastis dalam sistem kerja, termasuk kebijakan work from home (WFH), pembatasan mobilitas, dan penyesuaian jam kerja, telah memaksa organisasi dan karyawan untuk beradaptasi dengan cepat. Salah satu aspek penting yang terkena dampak adalah hubungan antara jam kerja, stres kerja, dan kinerja karyawan.
Sebuah penelitian dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) yang dimuat dalam Jurnal Productivity (2021) menyelami bagaimana perubahan jam kerja dan tingkat stres selama masa pandemi memengaruhi performa karyawan. Temuan ini bukan hanya relevan dalam konteks pandemi, tetapi juga memberikan pelajaran penting untuk desain kerja masa depan.
Perubahan Jam Kerja: Fleksibilitas atau Tantangan Baru?
Sebelum pandemi, jam kerja cenderung bersifat tetap dan konvensional—biasanya 8 jam sehari, Senin hingga Jumat. Namun, saat COVID-19 melanda, perusahaan mulai mengadopsi sistem kerja fleksibel: pengurangan jam kerja, sistem shift, hingga WFH. Bagi sebagian karyawan, hal ini memberikan keuntungan seperti lebih banyak waktu dengan keluarga dan penghematan biaya transportasi. Namun, bagi sebagian lain, perubahan ini menjadi sumber ketidakpastian.
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan jam kerja memang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, meskipun tidak selalu bersifat negatif. Jika dikelola dengan baik, fleksibilitas jam kerja dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja. Namun, tanpa komunikasi yang jelas dan pengaturan tugas yang terstruktur, justru dapat menimbulkan kebingungan dan menurunkan motivasi.
Dalam studi UNSRAT, ditemukan bahwa penyesuaian jam kerja selama pandemi ternyata memengaruhi beban kerja dan tingkat efektivitas pelaksanaan tugas. Karyawan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru, terutama mereka yang terbiasa dengan pengawasan langsung. Di sinilah pentingnya peran manajerial dalam menciptakan sistem kerja yang adaptif sekaligus tetap memberikan kejelasan arah.
Baca juga: https://warstek.com/bacaan-berkualitas/
Stres Kerja: Musuh Dalam Selimut Produktivitas
Stres kerja selama pandemi menjadi tantangan besar, terutama karena batas antara kehidupan profesional dan personal menjadi kabur. Banyak karyawan menghadapi tekanan ganda: tuntutan kerja yang tidak berkurang, sementara kondisi rumah tidak selalu mendukung produktivitas. Ditambah lagi dengan kekhawatiran terhadap kesehatan, keuangan, dan masa depan pekerjaan.
Hasil penelitian UNSRAT menegaskan bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja. Semakin tinggi tingkat stres, semakin menurun produktivitas, efektivitas pengambilan keputusan, dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah. Karyawan yang merasa stres cenderung menunjukkan tanda-tanda kelelahan, ketidakfokusan, dan bahkan menarik diri dari tugas-tugas penting.
Aspek menarik dari studi ini adalah bahwa stres tidak hanya berasal dari beban kerja yang tinggi, tetapi juga dari ketidakpastian sistem kerja baru, perubahan gaya komunikasi, dan minimnya dukungan sosial dari rekan kerja yang kini lebih banyak berinteraksi secara virtual.
Kinerja Karyawan: Korban atau Pendorong Adaptasi?
Kinerja karyawan selama pandemi adalah hasil kompleks dari berbagai faktor, termasuk perubahan jam kerja dan tingkat stres. Menurut kerangka teori dalam jurnal ini, kinerja tidak hanya mencakup output kerja, tetapi juga sikap, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri.
Hasil dari studi kuantitatif menunjukkan bahwa perubahan jam kerja memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja *(nilai t hitung = 3,420 > t tabel = 1,984), yang berarti fleksibilitas dapat menjadi alat peningkat produktivitas jika dikelola baik. Namun, stres kerja menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan *(t hitung = -5,481 < t tabel)** terhadap kinerja.
Implikasinya jelas: perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan jam kerja fleksibel tanpa memperhatikan kesejahteraan mental karyawan. Kedua variabel ini harus berjalan beriringan. Kinerja optimal hanya akan tercapai jika perubahan sistem kerja disertai dengan strategi mitigasi stres, seperti pelatihan manajemen waktu, konseling psikologis, atau peningkatan komunikasi internal.
Pelajaran untuk Dunia Kerja Pasca-Pandemi
Dari studi ini, kita belajar bahwa fleksibilitas dan kesehatan mental adalah dua sisi dari koin produktivitas. Perusahaan yang hanya fokus pada target kerja tanpa memperhatikan keseimbangan emosional karyawan justru akan menghadapi burnout massal dan penurunan kualitas kerja.
Sebaliknya, perusahaan yang berani berinovasi dalam pola kerja, tetapi tetap menjaga komunikasi, memberikan dukungan moral, dan membangun budaya saling percaya, akan lebih mampu bertahan di tengah krisis dan berkembang dalam jangka panjang.
Kesimpulan: Menciptakan Ekosistem Kerja Baru yang Manusiawi
Perubahan jam kerja selama pandemi bukan hanya adaptasi darurat, tetapi bisa menjadi peluang membangun sistem kerja yang lebih manusiawi dan produktif. Namun, ini hanya bisa berhasil jika stres kerja ditangani secara serius. Dengan kata lain, masa depan dunia kerja bukan hanya tentang fleksibilitas, tetapi juga tentang empati, dukungan psikologis, dan keseimbangan hidup.
Referensi:
Tumbelaka, N. (2021). Pengaruh Perubahan Jam Kerja dan Stres Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Productivity, Universitas Sam Ratulangi. Link PDF

