Beyond Big Bang: Menjelajahi Teori Alternatif Tentang Awal Mula Segala Sesuatu

Ketika orang awam mendengar kata Big Bang, biasanya yang terbayang adalah “ledakan besar” yang memunculkan alam semesta dari ketiadaan. Padahal, […]

Ketika orang awam mendengar kata Big Bang, biasanya yang terbayang adalah “ledakan besar” yang memunculkan alam semesta dari ketiadaan. Padahal, dalam kosmologi, Big Bang bukan berarti ledakan dalam ruang, melainkan perluasan ruang itu sendiri dari kondisi yang amat padat dan panas. Sejak pertama kali diperkenalkan pada abad ke-20, model Big Bang menjadi penjelasan utama tentang asal-usul dan evolusi alam semesta.

Bukti terkuat yang membuat Big Bang “naik tahta” adalah ditemukannya radiasi latar kosmik gelombang mikro (cosmic microwave background radiation, CMB). Pada tahun 1964, dua ilmuwan, Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan “dengungan” misterius dalam teleskop radio mereka. Ternyata, itu adalah sisa panas dari alam semesta muda, semacam gema dari masa-masa awal setelah Big Bang. Penemuan ini membuat teori Big Bang semakin sulit digoyahkan.

Namun, dunia sains selalu terbuka untuk alternatif. Banyak fisikawan dan kosmolog menawarkan model lain, baik untuk melengkapi maupun menantang Big Bang. Beberapa gagasannya terdengar masuk akal, sebagian lagi cukup “liar”, tapi semuanya punya satu tujuan: memahami asal-usul alam semesta.

Baca juga artikel tentang: JWST Ungkap Misteri Kosmos: Apakah Big Bang Terjadi di Dalam Lubang Hitam?

Teori Keadaan Tetap (Steady State Theory)

Sebelum Big Bang populer, salah satu saingannya adalah teori keadaan tetap. Gagasannya sederhana: alam semesta tidak pernah bermula, tidak pernah berakhir, dan selalu tampak sama dalam skala besar. Jika ruang terus mengembang, maka materi baru akan “muncul” secara konstan untuk menjaga kepadatan rata-rata tetap sama.

Masalahnya, teori ini sulit menjelaskan CMB. Jika alam semesta memang tidak bermula, dari mana asal “gema panas” yang diamati teleskop? Akhirnya, teori keadaan tetap ditinggalkan. Meski begitu, ide bahwa kosmos mungkin abadi masih memengaruhi sejumlah model modern.

Daripada sekali ledakan, bagaimana kalau alam semesta “bernafas”? Dalam model Big Bounce, alam semesta melewati siklus: mengembang, lalu menyusut, lalu mengembang lagi, dan seterusnya tanpa akhir. Jadi Big Bang yang kita pahami hanyalah “denyut” terbaru dari siklus panjang.

Teori ini menarik karena menyelamatkan kita dari pertanyaan “apa yang terjadi sebelum Big Bang?” jawabannya: ada “alam semesta” sebelumnya. Namun, fisika di balik momen penyusutan menuju kerapatan ekstrem masih sulit dipahami, apalagi dijelaskan dengan teori kuantum gravitasi yang belum lengkap.

Multiverse: Alam Semesta Bukan Satu-Satunya

Salah satu ide paling populer di luar sains murni adalah konsep multiverse. Menurut beberapa model kosmologi, termasuk inflasi kosmik, mungkin ada banyak “gelembung” alam semesta, dan kita hidup di salah satunya.

Dalam skenario ini, Big Bang bukanlah asal mula segalanya, melainkan hanya “kelahiran” satu gelembung di dalam ruang yang jauh lebih besar. Fisika yang berlaku di setiap gelembung bisa berbeda, di alam semesta lain mungkin tidak ada atom stabil, atau hukum fisikanya tidak memungkinkan kehidupan.

Multiverse memang keren untuk fiksi ilmiah, tapi sulit diuji dengan eksperimen. Bagaimana caranya mengamati “gelembung” lain yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan kita?

Ada pula pendekatan yang mencoba menjelaskan struktur kosmos menggunakan fisika plasma, bukan Big Bang. Plasma adalah gas bermuatan listrik yang mendominasi alam semesta (misalnya di bintang). Pendukung teori ini menyatakan bahwa medan listrik dan magnet besar bisa membentuk galaksi tanpa perlu ledakan awal.

Namun, teori plasma kesulitan menjelaskan CMB dan distribusi unsur ringan (hidrogen, helium) yang diamati di kosmos. Big Bang memprediksi keberadaan unsur-unsur itu dengan presisi, sementara teori plasma tidak.

Kosmologi Kuantum dan Alam Semesta Tanpa Awal

Beberapa fisikawan mencoba menjawab teka-teki ini lewat mekanika kuantum. Misalnya, teori bahwa alam semesta bisa muncul dari “fluktuasi kuantum vakum”. Dalam gambaran ini, ruang kosong sebenarnya penuh dengan energi, dan “percikan” kuantum bisa menumbuhkan seluruh kosmos.

Ada juga gagasan bahwa waktu sendiri mungkin tidak bermula. Seperti lingkaran yang tak punya awal, waktu bisa jadi melingkar. Jadi, menanyakan “sebelum Big Bang ada apa?” sama seperti bertanya “sebelum utara ada apa?”.

Mengapa Big Bang Masih Unggul?

Meskipun alternatif banyak, model Big Bang masih bertahan karena konsisten dengan bukti:

  • Radiasi latar kosmik (CMB) yang jadi “foto bayi” alam semesta.
  • Kelimpahan unsur ringan (hidrogen, helium, litium) sesuai prediksi.
  • Pengamatan galaksi menjauh (redshift) menunjukkan ruang memang mengembang.

Teori lain sering gagal menjelaskan semua bukti itu sekaligus. Big Bang, meski belum sempurna, masih jadi model terbaik yang kita miliki.

Sains Adalah Perjalanan

Apakah ini berarti Big Bang adalah “kebenaran mutlak”? Tidak juga. Dalam sains, tidak ada teori yang kebal dari revisi. Bahkan Big Bang mungkin kelak hanya menjadi bagian dari teori yang lebih luas, seperti Newton digantikan Einstein, lalu Einstein mungkin diperluas oleh fisika kuantum gravitasi.

Yang jelas, dengan setiap pengamatan baru, baik dari teleskop luar angkasa, eksperimen partikel, hingga teori matematika, kita semakin mendekat pada jawaban. Dan pertanyaan “dari mana asal-usul alam semesta?” akan terus menjadi salah satu misteri terbesar manusia.

Big Bang memberi kita narasi indah: dari alam semesta kecil, panas, dan padat 13,8 miliar tahun lalu, lahirlah galaksi, bintang, planet, hingga kita yang sedang membicarakannya sekarang. Tapi sains tidak berhenti di sana. Alternatif seperti Big Bounce, multiverse, atau kosmologi kuantum adalah bukti imajinasi manusia tak terbatas.

Mungkin suatu hari nanti kita akan menemukan jawaban yang lebih dalam, bahwa Big Bang hanyalah bab awal dari kisah kosmos yang lebih besar. Sampai saat itu, kita terus bertanya, meneliti, dan mengagumi keajaiban alam semesta.

Baca juga artikel tentang: Cermin Matahari Penangkal Asteroid: Inovasi Gila Tapi Nyata

REFERENSI:

Felton, James. 2025. What Alternatives Are There To The Big Bang Model?. IFLScience: https://www.iflscience.com/what-alternatives-are-there-to-the-big-bang-model-80815 diakses pada tanggal 26 September 2025.

Ferreira, Pedro G dkk. 2025. The spectre of underdetermination in modern cosmology. arXiv preprint arXiv:2501.06095.

Tan, Qin dkk. 2025. Pre-big-bang cosmology cannot explain the NANOGrav 15-year signal. Physical Review D 111 (12), 123525.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top