Bioteknologi Pertanian sebagai Solusi Hadapi Krisis Pangan dan Iklim

Slamet Fauzi - Bioteknologi
blank

Slamet Fauzi - Bioteknologi

Urgensi Pangan Global dan Iklim

Informasi terbaru dari World Population Clock tentang jumlah penduduk dunia saat ini semakin mengkhawatirkan. Pasalnya hingga Maret 2021, total penduduk dunia mencapai 7,85 Miliar jiwa [1]. Peningkatan jumlah penduduk dunia ini tentu berkorelasi dengan semakin meningkatnya jumlah kebutuhan pangan. Laporan dari World Food Progamme juga semakin mencemaskan karena jumlah kelaparan di dunia meningkat 19% akibat Covid-19 pada 2020 [2]. Bahkan organisasi pangan dunia atau FAO telah menyatakan bahwa kebutuhan pangan akan meningkat 2 kali lipat pada tahun 2050 [3]. Selain itu, aktivitas sektor pertanian yang dapat menyebabkan perubahan iklim juga semakin serius. Ironisnya, lebih dari 150 megatons (150 x 106 ton) CO2 di produksi setiap tahun akibat penggunaan pupuk nitrogen [4]. Demi menjawab masalah iklim tersebut, pada tahun 2015 telah disepakati Perjanjian Paris (Paris Agreement) untuk menurunkan suhu global hingga 2% [5]. Namun, tantangan lain yang dihadapi saat ini bukan hanya perubahan iklim dan jumlah penduduk yang terus meningkat, melainkan jumlah lahan produktif yang terus berkurang setiap tahunnya karena digunakan sebagai industri dan pemukiman. Kementerian Pertanian RI juga telah merilis pada 2020 bahwa 650 Ha lahan produktif beralih fungsi setiap tahunnya di Indonesia [6]. Berdasar pada beberapa masalah serius tersebut, maka dunia pertanian membutuhkan solusi yang cepat dan tepat.

blank

Bioteknologi Pertanian

Bioteknologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang manfaat organisme untuk menghasilkan produk dan jasa. Salah satu peran bioteknologi dapat diterapkan dalam dunia pertanian sebagai alat untuk menghasilkan produk pertanian yang bermutu tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, toleran terhadap kekeringan, dan tahan terhadap cekaman lingkungan. Bioteknologi yang diaplikasikan pada dunia pertanian tersebutlah yang dinamai dengan bioteknologi pertanian. Teknologi ini adalah suatu upaya untuk memerangi krisis pangan dan iklim di dunia. Beberapa negara maju di dunia telah memanfaatkan tanaman hasil bioteknologi yang terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Mulai dari Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 79 Ha lahan tanaman hasil rekayasa genetik, Brazil 50 Ha, dan disusul oleh India dengan 11 Juta Ha [7].  Oleh sebab itu, peluang tanaman transgenik di Indonesia juga sangat besar dan potensial sebagai jawab untuk menghadapi krisis pangan, menurunkan suhu karbondioksida, dan menciptakan produk yang sehat serta bernutrisi tinggi.

Peran Bioteknologi Pertanian dalam Menanggulangi Krisis Pangan dan Iklim

Organisasi Pertanian Dunia (FAO) telah memberikan alarm atau sinyal bahaya pada 2050 akan terjadi peningkatan jumlah kebutuhan pangan dunia hingga 60% [8]. Hal ini bukan tanpa dasar, tetapi mengacu pada angka peningkatan penduduk, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim yang ekstrim setiap tahunnya. Bioteknologi belakangan ini telah menjadi satu topik bahasan yang hangat dikalangan masyarakat dunia dalam rangka mengatasi krisis pangan global. Perkembangan siginifikan terjadi pada luasan lahan yang dimanfaatkan sebagai tempat untuk budidaya tanaman hasil bioteknologi (Genetic Engineering) dari 1,79 Juta Ha pada 1996 telah meningkat drastis dalam 18 tahun terakhir [7]. Pada tahun 2018 luasan untuk budidaya tanaman hasil bioteknologi atau transgenik mencapai 175,2 Juta Ha [7]. International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) melaporkan bahwa sekitar 18 juta petani dunia telah membudidayakan tanaman transgenik dari 27 negara [9]. Tanaman transgenik merupakan tanaman yang sudah disisipi gen tertentu (Gen Cry) sehingga memiliki sifat khusus sesuai dengan yang diinginkan. Namun, penggunaan tanaman transgenik belum sepenuhnya merata di dunia. Dominasi penggunaan tanaman transgenik masih berada di Amerika Serikat dengan 40% dari total area produksi dunia [10]. Sementara itu, negara di asia masih tertinggal jauh dalam budidaya tanaman hasil bioteknologi, terutama Indonesia.

Posisi Indonesia dalam pemerataan pangan cukup mengkhawatirkan hingga saat ini. Pasalnya menurut Global Hunger Index, bahwa pada tahun 2019 angka kelaparan di Indonesia masih diatas 20% [11]. Catatan ini tentu jauh lebih buruk dari negara tetangga yaitu Malaysia 13,1% dan Thailand 9,7%. Demi merespon kekhawatiran tersebut, seharusnya pemerintah Indonesia harus menyusun rencana matang dalam pemanfaatan bioteknologi pertanian di Indonesia. Hal yang harus dilakukan pertama adalah meningkatkan jumlah dana riset dan sosialisasi keamanan produk hasil tanaman transgenik. Ironisnya, anggaran riset di Indonesia sangat rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Anggaran riset di Indonesia hanya senilai 17 Triliun yang sama dengan 0,2% dari anggaran di Indonesia. Hal ini tentu sangat tertinggal jauh dengan Singapura dan Thailand yang memiliki anggaran 2,5% dan Malaysia sebesar 1,8% [7]. Sehingga pemerintah harus menaruh perhatian khusus pada anggaran riset jika ingin menghasilkan produk bioteknologi yang bermutu tinggi dari kualitas dan kuantitas demi menanggulangi krisis pangan.

Beberapa tanaman hasil rekayasa genetika telah dikembangkan di Indonesia. Termasuk Pepaya California, Golden Rice, Kapas tahan hama, Tomat tahan busuk, dan lainnya. Salah satu ilmuan yang mengembangkan dan sebagai penemu tanaman hasil bioteknologi berupa tebu transgenik yang tahan kekeringan adalah Prof.Bambang Sugiharto dari Center for Development Advance Science and Technology (CDAST) Universitas Jember. Namun, beliau mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran dari masyarakat Indonesia akan keamanan produk hasil rekayasa genetika. Hal ini seharusnya segera ada peraturan standar yang menjamin keamanan pangan sehingga menghilangkan kekhawatiran masyarakat.

blank

Hasil produksi tanaman trangenik telah dirasakan oleh masyarakat dunia dan berperan dalam ketahanan pangan, pemanfaatan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati dan membantu mitigasi perubahan iklim (karena tanaman transgenik dapat memenuhi nutrisi yang cukup tanpa penggunaan pupuk kimia berlebih yang mengandung N yang dapat meningkatkan suhu udara ketika menguap). Selain itu, tanaman hasil rekayasa genetika juga meningkatkan produksi panen senilai 116.9 miliar USD, menyediakan lingkungan yang lebih baik dengan menghemat 497 juta kg pestisida (karena tanaman transgenik dapat tahan terhadap hama dan penyakit sehingga mengurangi biaya produksi), mengurangi pencemaran lingkungan [11]. Hal ini dibuktikan pada tahun 2012 telah berhasil mengurangi emisi karbondioksida (CO2) sebesar 26.7 miliar kg atau setara dengan menghilangkan 11.8 juta mobil dari jalanan selama satu tahun [10]. Selain itu, penggunaan tanaman trangenik juga membantu konservasi kenekaragaman hayati dengan menjaga kelestarian 123 juta hektar lahan selama periode 1996-2012, dan mengurangi kemiskinan dengan membantu meningkatkan pendapatan lebih dari 16.5 juta petani kecil dan keluarganya yang termasuk penduduk termiskin di Dunia [12]. Oleh karena itu, bioteknologi pertanian sangat berperan penting dalam menanggulangi masalah pangan global dan sekaligus memerangi perubahan iklim.

Daftar Pustaka

[1]Current World Population. 2021. https://www.worldometers.info.
[2]Urgent actions to redesign the future of food in 2021.https://www.weforum.org/.
[3]2050: A third more mouths to feed. Food and Agricultural Organization of The United Nations.
[4]CO2 EQUIVALENTS. Climate Change Connection.
[5]The Paris Agreement.2015. https://unfccc.int/process-and-meetings/the-paris-agreement/the-paris-agreement
[6]Kementan: Setiap Tahun Luas Baku Sawah Berkurang 650 Ribu Ha. 2020.
[7]Herman,M. 2010. Aplikasi Teknik Rekayasa Genetik dalam Perbaikan Sumber Daya
Genetik Tanaman untuk Ketahanan Cekaman Biotik. Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.1 Th.2010.

[8]Krisis Pangan Global dan Alternatif Solusinya (Bagian I). 2017.
[9]James,C. 2006. Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek/Hasil Rekayasa Genetika.
[10]Tanaman Transgenik, Solusi atau Polusi?. 2014. Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan
[11]Global Hunger Index. 2019. https://www.globalhungerindex.org/indonesia.html
[12]GMOs and poverty: the relationship between improved seeds and rural transformations. 2017.

SLAMET FAUZI
follow me
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

1 tanggapan pada “Bioteknologi Pertanian sebagai Solusi Hadapi Krisis Pangan dan Iklim”

  1. Artikel yang sangat keren. Terima kasih sudah memberikan banyak informasi mengenai urgensi bioteknologi. Berbicara mengenai tanaman transgenik apakah tanaman hasil transgenik memiliki kekurangan atau kelemahan dibanding tanaman biasa dari segi ekonomi, agama, atau dari segi keamanan konsumsi? Terima kasih.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar