Rumah Apung: Solusi Mengatasi Banjir

blank

Banjir merupakan bencana yang sering terjadi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 2021, bencana alam berupa banjir terjadi sebanyak 337 kejadian. Jumlah tersebut baru terjadi di awal tahun 2021. Pada tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kejadian banjir juga banyak. Banjir dikenal sebagai bencana alam yang dominan terjadi. Korban jiwa dan kerugian yang diakibatkan juga tidak sedikit. Pada tahun 2020, BNPB menyatakan bahwa banjir menjadi bencana alam paling mematikan. Berdasarkan data BNPB, lebih dari 100 jiwa meninggal akibat banjir dan 17 lainnya hilang. Banjir tahun lalu mengakibatkan lebih dari 2,8 juta orang mengungsi. Banjir merusak ratusan ribu unit rumah dengan rincian rusak berat 4.581 unit, rusak sedang 2.784 unit, rusak ringan 9.833 unit dan terendam 540.739 unit. Fasilitas umum juga tidak luput dari terjangan banjir. Kerusakan fasilitas pendidikan 496 unit, peribadatan 581 unit, kesehatan 112 unit, perkantoran 109 unit, dan jembatan 299 unit.

Beberapa cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah banjir, namun banjir masih saja terjadi dan kerugian yang diakibatkan juga tidak sedikit. Tidak hanya di Indonesia, banjir juga melanda negara-negara lain, salah satunya Belanda. Negara yang sebagian besar wilayahnya berada di permukaan air laut ini selalu berinovasi untuk menghindari banjir. Namun kondisi alam selalu berubah. Fenomena naiknya permukaan air laut membuat negara ini tidak hanya berupaya untuk membangun tanggul-tanggul dan sistem drainase yang baik. Belanda mencoba hidup dengan cara baru, tidak hanya berusaha membendung air, tetapi mencoba untuk menyatu dengan air, melalui kompleks rumah apung.

Gagasan rumah apung mendapat sambutan baik dari warga Belanda. Proyek rumah apung mulai menyebar di Belanda. Arsitek Alexander Henny membangun rumah apung di kanal Amsterdam. Dura Veermer bersama perusahaan FlexBase melanjutkan proyek membangun Floating Pavilion di pelabuhan Rotterdam. Setelah membangun rumah apung di kanal, sungai, dan pelabuhan, para arsitek Belanda juga memikirkan untuk membangun sebuah rumah apung di laut. Paviliun apung merupakan awal dari perkembangan kota masa depan yang tahan terhadap banjir. Kota apung juga dapat memberikan ruang lebih di Belanda yang mulai mengalami kepadatan.

blank

Salah satu kompleks perumahan apung canggih dan modern di Amsterdam adalah Waterbuurt. Kompleks rumah apung ini berada di sekitar Danau Eimer. Ada 100 rumah apung di kompleks perumahan ini. Saat ini, Waterbuurt masih dalam pengerjaan, namun beberapa rumah sudah dihuni. Berbeda dengan rumah apung di Venezia Italia, yang tampak mengambang namun sebenarnya memiliki pondasi tertanam di tanah, rumah apung di Waterbuurt ini benar-benar mengapung. Ketika permukaan air di sekitar rumah naik, maka rumah apung ini juga ikut naik, demikian sebaliknya, ketika air surut, rumah apung akan ikut turun. Kompleks ini mengapung berdekatan dengan dermaga dan dilekatkan ke tiang baja, jadi rumah-rumah ini hanya bergerak secara vertikal dengan perubahan pasang surut.

Rumah apung ini dapat benar-benar mengapung di air karena dibangun di atas platform beton terendam. Rumah apung ini terdiri atas rangka baja ringan, dinding, dan panel kayu. Uniknya, kamar tidur dan kamar mandi terletak di lantai bawah, yang sebagian terendam air. Dapur dan ruang makan terletak di lantai dasar yang ditinggikan. Ruang tamu dan teras luar ruangan berada di lantai atas. Terdapat fasilitas tambahan yang disediakan dalam kompleks ini, seperti teras apung, pintu masuk kedua atau jalan setapak di sekitar rumah apung. Rumah-rumah apung ini dibangun di galangan kapal sekitar 65 km sebelah utara Danau Eimer, setelah itu diangkut melalui jaringan kanal.

Rumah apung memiliki cara kerja yang unik. Pada dasar rumah terdapat fondasi beton berbentuk kubus yang memiliki rongga didalamnya, sehingga dapat memberikan gaya apung saat banjir. Ketika permukaan air naik, rumah apung tidak akan terbawa arus air karena pada sisi kanan dan sisi kiri rumah apung terdapat kayu yang berfungsi sebagai tambatan. Ketika permukaan air turun, rumah apung akan segera kembali ke posisi semula dimana fondasi beton berongga akan ditopang oleh pilar-pilar kayu yang terletak di dalam air. Konstruksi kayu yang ringan membantu menjaga rumah tetap stabil. Rumah apung ini mampu menahan kenaikan air hingga 4 meter. Kebutuhan utama berupa listrik dan air bersih disalurkan lewat pipa yang bisa bergerak secara fleksibel sehingga pipa mengikuti gerak rumah apung ketika rumah mengapung.

blank
blank

Rumah apung tidaklah suatu hal yang mustahil untuk dibangun, tetapi tidak semua daerah bisa dijadikan lokasi pembangunan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun rumah apung adalah lebar dan kedalaman air. Jika rumah apung dibangun di sungai, idealnya lebar sungai lebih dari 100 meter. Tujuannya agar tidak menganggu lalu lintas perahu atau kapal yang ada di sungai. Kedalaman sungai minimal dua meter karena konstruksi untuk pondasi apungnya butuh satu meter sehingga 70 persen pondasi apung harus tenggelam dan 30 persen sisanya terapung. Selain itu, berat rumah yang mampu ditopang oleh pondasi apung tidak melebihi batas beratnya. Jika pondasi apung memiliki beban maksimal 1.000 kilogram, maka sebaiknya beban di atasnya maksimal 700 kilogram atau idealnya 500 kilogram. Jadi, perbandingannya 2:1. Ini bisa diperoleh dengan memilih bahan untuk lantai, dinding, dan material lainnya yang ringan.

Referensi

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar