Banyak orang mengira Tinospora crispa dan Tinospora cordifolia itu sama, padahal mereka ibarat “kembar beda negara.” T. cordifolia populer di India dengan nama guduchi, si ramuan herbal penambah imun dalam pengobatan Ayurveda. Pemberian Tinospora cordifolia (TC) mampu melindungi otak dari kerusakan akibat stres prenatal, memperbaiki struktur neuron amigdala dan meningkatkan daya ingat. TC menunjukkan efek neuroprotektif yang signifikan melalui pemanjangan serta peningkatan percabangan dendrit, yang berperan dalam pemulihan fungsi memori pada tikus. Sementara di Indonesia, yang tumbuh liar di pagar atau kebun dan terkenal karena rasanya super pahit itu adalah brotowali alias Tinospora crispa. Meski masih satu genus, efek biologis keduanya bisa berbeda jauh. Menariknya, di balik reputasinya sebagai obat alami serba bisa karena klaim khasiat antidiabetes, antiinflamasi, dan imunomodulatornya, brotowali juga menyimpan sisi gelap yaitu potensi toksik dan teratogenik yang patut diwaspadai.
Semua yang Alami kan Pasti Aman?!
Siapa bilang semua yang alami pasti aman? Faktanya, beberapa tanaman obat bisa punya “sisi gelap” yang menyebabkan janin dalam kandungan jadi korban tanpa disadari. Efek semacam ini disebut teratogenik, yaitu kemampuan suatu zat menyebabkan gangguan pada pembentukan janin, mulai dari cacat fisik, kelainan organ, sampai kematian embrio. Secara ilmiah, mekanismenya bisa lewat gangguan pembelahan sel, stres oksidatif, perubahan hormon, atau hambatan suplai nutrisi ke embrio. Beberapa herbal sudah terbukti memiliki efek ini misalnya brotowali (Tinospora crispa), pegagan (Centella asiatica) pada dosis tinggi, lidah buaya (Aloe vera), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) tertentu yang bisa memicu kegagalan perkembangan embrio pada hewan uji. Jadi, meski “dari alam” bukan berarti aman total terutama buat ibu hamil.
Efek Toksisitas dan Teratogenik Pada Hewan
Melalui berbagai penelitian eksperimental, Tinospora crispa atau brotowali terbukti memiliki efek embrio-fetotoksik yang cukup konsisten pada model hewan laboratorium. Beberapa studi pada mencit dan tikus memperlihatkan peningkatan angka resorpsi (janin tidak berkembang), kematian janin, serta kelainan morfologi setelah pemberian ekstrak selama fase organogenesis dengan efek yang bergantung pada dosis dan lama paparan. Penelitian lain juga mencatat adanya embriotoksisitas dan fetotoksisitas akibat pemberian ekstrak brotowali selama kehamilan. Mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi kandungan fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid diduga mengganggu jalur metabolik penting, termasuk sinyal cAMP (molekul dalam sel yang berfungsi menyampaikan sinyal dan mengatur proses pertumbuhan serta pembentukan jaringan tubuh, termasuk saat perkembangan janin) dan aktivitas enzim yang berperan dalam proliferasi serta diferensiasi sel embrio. Selain itu, ekstrak batang brotowali juga berdampak pada fungsi reproduksi. Penelitian menunjukkan bahwa pada mencit jantan, dosis 250–1000 mg/kgBB menurunkan jumlah dan motilitas sperma akibat gangguan kerja hormon FSH pada sel Sertoli, sementara pada tikus betina dosis ≥500 mg/kgBB menurunkan jumlah folikel ovarium karena penurunan kadar FSH, LH, dan estrogen.
Selain isu teratogenik, kasus hepatotoksik yang dikaitkan dengan konsumsi Tinospora crispa juga telah banyak dilaporkan. Hal ini mengindikasikan kemungkinan hepatotoksisitas pada sebagian orang. Laporan dari beberapa kasus menyarankan bahwa penggunaan jangka panjang atau dosis besar dapat menimbulkan risiko pada organ hati untuk individu rentan. Sebagai contoh, studi modern menyebutkan LD₅₀ > 2000 mg/kg dan NOAEL ~1000 mg/kg dalam percobaan berulang pada tikus. Meskipun dikenal sebagai bahan herbal tradisional dengan berbagai manfaat, brotowali terbukti memiliki sisi toksik yang tidak bisa diabaikan, sehingga penggunaannya tidak disarankan pada wanita hamil atau usia subur tanpa persetujuan dokter kandungan.
Apa arti angka-angka dosis itu untuk manusia?
Konversi dosis dari hewan ke manusia tidak bisa dilakukan secara langsung. Meskipun dosis uji klinis pada manusia (1 gram tiga kali sehari atau total 3 gram per hari) masih jauh di bawah ambang toksisitas (LD₅₀) pada hewan jika dihitung berdasarkan berat badan, dosis tersebut tetap berpotensi menimbulkan efek samping pada organ hati atau reaksi khusus pada kelompok sensitif, seperti ibu hamil dan penderita penyakit hati. Karena belum ada uji keamanan yang memadai selama kehamilan, penggunaan pada ibu hamil tidak disarankan, apalagi hasil uji pada hewan sudah menunjukkan adanya tanda-tanda bahaya yang patut diwaspadai. Lalu bagaimana dengan data klinis manusia ? Senyawa aktif yang diduga berperan adalah flavonoid dan alkaloid yang dapat memengaruhi mekanisme pertumbuhan janin. Hingga saat ini, belum ada penelitian langsung pada manusia yang mengonfirmasi efek teratogenik tersebut.
Lalu, bagaimana jika ibu hamil tidak sengaja mengonsumsi ramuan brotowali, apa yang harus dilakukan ?
Jika ibu hamil tanpa sengaja meminum brotowali, langkah pertama adalah tetap tenang dan segera hentikan konsumsinya. Minumlah air putih untuk membantu mengencerkan zat aktif yang masuk ke tubuh. Jangan memaksakan muntah karena dapat menimbulkan risiko lain. Setelah itu, segera konsultasikan ke bidan atau dokter kandungan dengan menyebutkan jumlah dan waktu konsumsi herbal brotowali. Dokter kandungan akan melakukan pemantauan atau USG untuk memastikan kondisi janin tetap aman, mengingat beberapa penelitian menunjukkan potensi efek toksik atau teratogenik pada dosis tinggi. Pemantauan yang cepat dapat mencegah risiko.
Kesimpulan
Brotowali memang menjanjikan sebab molekul bioaktifnya memberikan sinyal terapeutik yang menarik. Ibu hamil atau wanita yang sedang merencanakan kehamilan harus menghindari brotowali namun jika tanpa sengaja mengonsumsi maka perlu untuk konsultasi kepada dokter kandungan untuk dilakukan pemeriksaan. Bukti hewan menunjukkan embriotoksisitas/fetotoksisitas serta data manusia tidak memadai untuk menjamin keamanan. Sampai studi keselamatan reproduksi dan pemantauan klinis yang kuat tersedia, ibu hamil harus tetap berhati-hati dalam penggunaan herbal ini.
Referensi
- Ardiyantoro, B., & Arniwati Mat Daud, N. (2024). Teratogenic Tinospora cordifolia and Carica papaya on white mouse fetuses (Mus musculus). Proceeding of International Conference on Science, Health, and Technology, 541–550.
- Ashwini, L. S., Rao, M. K. G., Rai, K. S., Shetty, S. B., Rao, G., Udupa, E. G. P., & Suryavanshi, C. A. (2024). Treatment with Tinospora cordifolia ameliorates prenatal stress and maternal separation-induced memory deficits by restoring amygdaloid neuronal architecture. Journal of Herbmed Pharmacology, 13(4), 606–619.
- Gupta, R., & Sharma, V. (2011). Ameliorative effects of Tinospora cordifolia root extract on histopathological and biochemical changes induced by aflatoxin-B₁ in mice kidney. Toxicology International, 18(2), 94–98.
- Romagosa, C. M., David, E. S., & Dulay, R. M. (2016). Embryo-toxic and teratogenic effects of Tinospora cordifolia leaves and bark extracts in zebrafish (Danio rerio) embryos. Asian Journal of Plant Science & Research, 6, 1–6.
- Shivananjappa, M. M., & Muralidhara. (2012). Abrogation of maternal and fetal oxidative stress in the streptozotocin-induced diabetic rat by dietary supplements of Tinospora cordifolia. Nutrition, 28(5), 581–587.
- Widiana, R., & Sumarmin, R. (2016). Toxic effects and teratogenic extract (Tinospora crispa L.) on reproductive system and embryos mice (Mus musculus L. Swiss Webster) [Efek toksik dan teratogenik ekstrak brotowali (Tinospora crispa L.) terhadap sistem reproduksi dan embrio mencit (Mus musculus L. Swiss Webster)]. BioCONCETTA: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi, 2(1), 1–7. ISSN 2460-8556 / E-ISSN 2502-1737.

