Bahasa yang Melukai: Mengapa Istilah Gangguan Mental Tidak Layak Jadi Hinaan Politik

Politik sering memunculkan drama yang menegangkan, tetapi beberapa bentuk drama justru muncul dari cara para politisi menggunakan kata. Dalam ruang […]

Politik sering memunculkan drama yang menegangkan, tetapi beberapa bentuk drama justru muncul dari cara para politisi menggunakan kata. Dalam ruang debat yang seharusnya menjadi arena gagasan, para anggota parlemen kadang melontarkan istilah yang berasal dari dunia kesehatan mental untuk menyerang dan merendahkan lawan mereka. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pilihan kata. Penelitian terbaru dari Marta Consuegra Fernández, Emilia Castaño, dan Joan Gabriel Burguera Serra menunjukkan bahwa cara politisi memakai metafora gangguan mental memiliki dampak besar pada persepsi publik terhadap kesehatan mental.

Penelitian tersebut menyoroti pidato yang disampaikan dalam Parlemen Spanyol selama lebih dari tiga dasawarsa, mulai dari tahun 1993 hingga 2024. Selama rentang waktu tersebut, para peneliti mengumpulkan lebih dari enam ratus pidato publik dan menganalisis bagaimana sembilan kondisi mental digunakan sebagai metafora. Kondisi tersebut meliputi anoreksia, autisme, gangguan bipolar, bulimia, paranoia, psikosis, psikopati, skizofrenia, dan sosiopati. Semua istilah itu memiliki latar medis yang sangat serius, tetapi sering berubah menjadi alat retorika untuk mempermalukan pihak lain.

Penggunaan istilah medis sebagai metafora sebenarnya bukan hal baru. Dalam percakapan sehari hari, masyarakat sering mengucapkan kalimat seperti orang itu gila atau dia paranoid tanpa memikirkan makna klinis di balik kata tersebut. Namun dalam konteks politik, penggunaan metafora ini memiliki bobot yang lebih berat. Ketika seorang politisi menyebut pihak lain sebagai sekumpulan sosiopat, ia tidak hanya mengkritik kebijakan lawannya, tetapi juga memperkuat stigma yang menempel pada orang yang benar benar hidup dengan kondisi tersebut.

Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital

Para peneliti menemukan bahwa lebih dari enam puluh persen penggunaan istilah kesehatan mental dalam pidato parlemen adalah metaforis. Artinya, istilah tersebut tidak dipakai untuk membahas isu kesehatan mental, tetapi untuk melabeli tindakan, karakter, atau kemampuan pihak lain. Selain itu, mayoritas penggunaan metafora tersebut membawa konotasi negatif. Istilah tersebut muncul sebagai alat menyerang, bukan sebagai bagian dari pembahasan substansi kebijakan publik.

Ketika seorang politisi menyamakan lawan politiknya dengan seseorang yang memiliki psikosis atau skizofrenia, ia tidak sedang memberikan gambaran objektif. Ia sedang menyederhanakan kondisi medis kompleks menjadi cap buruk yang mudah dilemparkan ke siapa saja. Dengan cara itu, gangguan mental berubah menjadi bentuk penghinaan. Penggunaan ini tidak hanya merendahkan pihak yang dituju, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa gangguan mental identik dengan bahaya, kegilaan, atau ketidakmampuan berpikir jernih.

Fenomena inilah yang membuat para peneliti memandang perlu adanya perhatian lebih tinggi terhadap cara bahasa digunakan dalam arena politik. Pilihan kata yang diucapkan tokoh publik mempengaruhi cara masyarakat memahami realitas. Ketika istilah gangguan mental diserempetkan pada perilaku buruk atau karakter tidak bermoral, masyarakat cenderung memandang gangguan mental sebagai sesuatu yang bersifat moral, bukan medis. Orang yang hidup dengan skizofrenia atau bipolar pun dapat merasakan dampaknya dalam bentuk perlakuan diskriminatif.

Grafik jumlah kemunculan berbagai istilah gangguan mental dalam tiga bentuk penggunaan bahasa (metaforis, literal, dan ujaran yang dilaporkan), dengan “schizophreni-” muncul paling sering terutama dalam penggunaan metaforis.

Analisis dalam penelitian ini menggunakan beberapa kerangka teori, termasuk Teori Metafora Konseptual dan Analisis Metafora Kritis. Teori tersebut membantu para peneliti memetakan bagaimana metafora bekerja sebagai alat untuk membentuk cara berpikir. Dalam politik, metafora bukan sekadar perbandingan kreatif. Metafora dapat membentuk batas antara kita dan mereka. Ketika politisi menyebut pihak lain sebagai sosiopat, ia sedang menciptakan jarak moral antara dirinya dan lawan, seolah lawan tidak punya nilai kemanusiaan yang setara.

Selain itu, penelitian ini memanfaatkan konsep persegi ideologis Teun van Dijk. Konsep ini menjelaskan bahwa wacana politik cenderung menonjolkan hal positif tentang kelompok sendiri dan menonjolkan hal negatif tentang kelompok lawan. Penggunaan istilah kesehatan mental sebagai metafora ternyata menjadi salah satu cara untuk menampilkan hal negatif tersebut. Dengan kata lain, penyebutan sosiopat atau psikopat menjadi strategi retoris yang bertujuan memperburuk citra lawan dan memperkuat posisi kelompok sendiri.

Di balik temuan ini, para peneliti menekankan perlunya kesadaran baru tentang dampak jangka panjang bahasa politik. Jika politisi terus menggunakan istilah gangguan mental sebagai bentuk hinaan, masyarakat akan semakin jauh dari pemahaman yang sehat tentang kesehatan mental. Stigma akan terus berkembang, dan orang yang membutuhkan bantuan psikologis akan semakin enggan mencari pertolongan karena takut menerima label yang merendahkan.

Dalam dunia yang terus bergerak menuju pemahaman lebih baik tentang kesehatan mental, penggunaan bahasa politik yang tidak sensitif menjadi ironi tersendiri. Media telah banyak dikritik karena cara mereka menggambarkan gangguan mental. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa ruang politik, yang seharusnya menjadi contoh penggunaan bahasa publik yang bertanggung jawab, justru ikut berperan dalam memperkuat stereotip yang merugikan.

Kesadaran merupakan langkah pertama menuju perubahan. Jika masyarakat memahami bahwa penggunaan metafora gangguan mental sebagai penghinaan memperburuk stigma, masyarakat dapat menekan politisi untuk mengubah cara berkomunikasi. Politisi memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menyebarkan prasangka melalui kata kata. Bahasa politik seharusnya membangun pemahaman, bukan memperluas kesalahpahaman tentang kesehatan mental.

Dalam konteks ini, penelitian tersebut memberikan kontribusi penting. Dengan mendokumentasikan dan menganalisis ribuan contoh penggunaan metafora, penelitian ini membuka ruang diskusi tentang batas etika bahasa dalam politik. Kajian ini juga menegaskan bahwa pilihan kata bukan hal sepele. Kata dapat menyembuhkan, tetapi kata juga dapat melukai.

Lingkungan politik yang sehat membutuhkan bahasa yang tidak menyudutkan kelompok rentan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menyampaikan kritik dengan argumen, bukan dengan stigma. Pada akhirnya, penelitian ini mengajak kita untuk tidak hanya memperhatikan apa yang politisi katakan, tetapi juga bagaimana mereka mengatakannya.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak

REFERENSI:

Consuegra-Fernández, Marta dkk. 2025. “With all due respect, you are a bunch of sociopaths”: A critical discourse analysis of the metaphorical use of mental health disorders in the Spanish Parliament. Discourse & Society, 09579265251384333.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top