Fenomena BTS Meal dan Penyakit Psikologis Pembelian Kompulsif

Sudah tahu berita ini? BTS meal

blank
blank

Tahukah kamu kalau fenomena BTS Meal tersebut dapat digolongkan sebagai Compulsive Shopping Disorder?

Gangguan compulsive shopping disorder atau yang juga dikenal sebagai compulsive buying disorder merupakan jenis gangguan kontrol impuls dan kecanduan perilaku, yang berkaitan dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD) [1]. Salah satu cirinya adalah membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, rela dengan harga tinggi, membeli tanpa memikirkan risiko keuangan, dan cemas bahkan merasa rendah diri jika tidak mendapatkan barangnya.

Singkat kata perilaku gangguan ini membeli sesuatu secara berlebihan (kuantitas atau harga) dan kadang tidak dibutuhkan tanpa mempertimbangkan dampak yang akan muncul dalam kehidupan pribadi, sosial, pekerjaan, dan keuangannya [2]. Namun perlu diingat bahwa artikel ini bukan untuk diagnosis diri atau self diagnose.

Letty Workman (2010) menyatakan bahwa gangguan perilaku compulsive buying terjadi karena terdapat error di otak yakni tidak berfunginya rangkaian neuron dengan baik dan adanya perilaku berbasis-imbalan, yaitu ketika seseorang berbelanja, seseorang akan menerima perasaan yang lebih menyenangkan daripada sebelumnya [3].

Gangguan mental ini pada umumnya terjadi di usia 30 tahunan ketika mencapai kemandirian finansial. Namun karena fenomena BTS Meal, gangguan ini dapat terjadi di usia yang lebih muda bahkan ketika belum mandiri secara finansial.

Hal ini diperparah dengan strategi McD yang menjual BTS meal secara terbatas. Akibatnya konsumen merasa mendapatkan keistimewaan, merasa langka, sehingga terjadilah fenomena saat ini. Belum lagi adanya level-level fans BTS menurut akademi dan praktisi bisnis Prof. Rhenald Kasali [4]. Bahkan pada kondisi ekstrim ada yang sampai memperlakukan BTS selayaknya sebuah agama, seperti ditunjukkan oleh video bernuansa satir berikut. Tak ayal begitu muncul produk berkaitan dengan BTS langsung diburu.

Bagaimana dampak dari penyakit pembelian kompulsif ini? Dalam disertasinya, Retno Mangestuni menjabarkan hal tersebut [5].

1. Dari segi keuangan yakni rendahnya dana yang bisa ditabung dan dapat terlibat dalam masalah hutang.
2. Menimbulkan perasaan gelisah, depresi, frustasi, dan konflik interpersonal pada individu yang belum mendapatkan barang yang diinginkannya.
3. Rela melakukan apapun untuk mendapatkan barang yang diinginkannya.

Bagaimana penyembuhannya?

Berbagai cara dapat dilakukan seperti terapi individu, terapi kelompok, terapi pasangan, konseling untuk klien, dan lingkungan sederhana [2].

  • Terapi individu
    Terapi individu pada psikolog secara menyeluruh, mulai dari terapi psikodinamik dengan fokus yang mendasari munculnya perilaku bermasalah dahulu sampai saat ini.
  • Terapi kelompok
    Merupakan kombinasi yang kuat antara dukungan teman sebaya, pemberian semangat, adanya umpan balik, pertentangan antar anggota, dan semua dilakukan dibawah bimbingan konselor terlatih.
  • Terapi pasangan
    Ada kalanya pemborosan menjadi ancaman bagi sebuah hubungan sehingga diperlukan kerjasama dari pasangan dalam melakukan terapi pasangan untuk menyelesaikan masalah.
  • Lingkungan sederhana
    Merupakan tempat berkumpul dengan orang lain yang membahas tentang perubahan yang dialami masing-masing personal dan kepuasan hidup yang dicapai dengan melakukan hidup sederhana. Pertemuan mingguan disebut juga dengan lingkungan belajar yang diisi dengan diskusi kelompok dalam rangka menggali pengertian kesederhanaan dalam bentuk pendidikan menjadi orang yang dewasa.

Jadi Sahabat Warstek perlu mewaspadai gejala gangguan mental Compulsive Shopping Disorder. Jangan sampai promo atau idola kita menjerat kita pada perilaku tersebut. Dan jika telah terlampau susah mengontrolnya, silakan lakukan konsultasi ke psikolog terdekat.

Referensi:
[1] https://www.halodoc.com/artikel/awas-kalap-harbolnas-kenali-compulsive-shopping-disorder diakses pada 12 Juni 2021.
[2] Rajaheng, Hanis. 2014. STUDI KASUS PERILAKU COMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA DI YOGYAKARTA. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
[3] Workman, Letty. 2010. The Essential Structure of Compulsive Buying: A Phenomenological Inquiry. All Graduate Theses and Disertations, Paper Utah State University.
[4] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5600614/kok-bisa-sih-bts-meal-heboh-banget-begini-penjelasan-pakar diakses pada 12 Juni 2021.
[5] Mangestuti, R. (2014). Model pembelian kompulsif pada remaja (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta).

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 4 / 5. Banyaknya vote: 4

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

1 tanggapan pada “Fenomena BTS Meal dan Penyakit Psikologis Pembelian Kompulsif”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *