Mengganti Energi Nuklir Dengan Energi Terbarukan Bukanlah Ide Bagus—Setidaknya di Inggris dan Swedia

Bagikan Artikel ini di:

Perubahan iklim menjadi salah satu isu lingkungan yang paling disorot di abad 21. Pembakaran energi fosil secara besar-besaran sejak dimulainya Revolusi Industri telah menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer semakin bertambah. Alih-alih berkurang, pembakaran energi fosil semakin lama semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, yang meniscayakan peningkatan kebutuhan energi. Tercatat, pada tahun 2017, lebih dari 33 milyar ton CO2 dilepaskan ke atmosfer sebagai imbas konsumsi energi fosil [1]. Untuk menambah kabar buruk, tren selama sembilan tahun terakhir cenderung terus meningkat!

Gambar 1. Emisi Karbon Dunia 2009-2017 (sumber: BP Statistical Review of World Energy 2018)

Untuk mencegah dampak katastropik yang dapat disebabkan perubahan iklim, seruan revolusi energi menuju energi bersih pun banyak didengungkan. Namun, ada hal yang menggelikan dalam seruan revolusi ini: energi nuklir, sebagai energi yang tidak melepaskan emisi GRK, dikriminalisasi nyaris sama buruknya dengan energi fosil. Bahkan, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terbaru secara mengerikan melemparkan penyesatan-penyesatan terhadap energi nuklir [2]!

Baca juga Seberapa Besar Radiasi PLTN Yang Dilepaskan Ke Lingkungan?

Bias anti-nuklir ini sebenarnya mengherankan, karena justru berdasarkan analisis IPCC sendiri [3], energi nuklir adalah energi paling bersih, hanya melepaskan 12 g CO2 ekivalen/kWh listrik, setara dengan energi bayu. Lalu, kontras dengan pemahaman publik, energi nuklir adalah energi paling selamat sejauh ini. Hal ini disebabkan angka kematian per TWh energi nuklir paling rendah, yakni 0,04 kematian per TWh [4].

Kecenderungan irasional anti-nuklir telah menyebabkan sebagian negara memilih untuk phase-out energi nuklir dan berniat menggantinya dengan so-called “energi terbarukan”, yakni energi bayu dan energi surya. Mengganti PLTN dengan turbin angin dan panel surya. Walau sekilas ide ini terkesan menarik dan populer, tapi tidak meyakinkan berdasarkan matematika. Setidaknya, sebagaimana studi yang dilakukan di Inggris dan Swedia.

Tim Yeo, Ketua New Nuclear Watch Institute (NNWI), lembaga think-tank nuklir yang berbasis di Inggris, menyoroti ide untuk mempensiunkan PLTN-PLTN yang ada di Inggris Raya dan menggantinya dengan turbin angin plus gas alam [5]. Kenapa harus ada gas alam? Karena sifat alami turbin angin yang intermiten—angin tidak berembus 24 jam dalam sehari, sehingga waktu kosong itu harus diisi dengan pembangkit lain. Pembangkit apa? Ya gas alam itu, karena kemampuannya untuk ramp-up dan ramp-down yang cepat.

Tapi apakah itu pilihan yang tepat? NNWI menganalisis skenario emisi CO­2 di Inggris pada tahun 2030 dalam dua skenario. Pertama, ketika energi nuklir dipensiunkan total dari jaringan listrik pada tahun 2030. Hal ini memungkinkan terjadi, karena setengah dari kapasitas PLTN di Inggris akan memasuki masa pension pada tahun 2025. Jadi, listrik di Inggris hanya berasal dari energi bayu dan gas alam saja. Pada skenario ini, energi bayu diasumsikan memiliki daya terpasang 30 GWe [5].

Baca juga Benarkah Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar

Skenario kedua, energi nuklir tidak dipensiunkan melainkan diganti dengan yang baru, baik itu Hinkley Point C, Wylfa Newydd dan lainnya. Sehingga, nuklir akan menjadi bauran listrik bersama-sama energi bayu dan gas alam. Namun, pada skenario ini, energi bayu hanya akan berkontribusi sebesar 25 GWe [5].

Dalam studi ini, NNWI menganalisis skenario mana yang paling murah harga listriknya dan emisi CO2 yang dihasilkan paling rendah. Hasil studi terkait emisi CO2 adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Emisi CO2 antara skenario nuklir (kiri) dan pensiun nuklir (kanan)

Jelas sekali bahwa emisi CO2 jauh lebih banyak dihasilkan jika nuklir dipensiunkan. Apa pasal? Energi bayu tidak bisa berdiri sendiri, butuh backup pembangkit lain. Semakin tinggi bauran energi bayu, semakin tinggi pula bauran gas alam. Artinya, semakin besar polusi yang dihasilkan. Studi yang dilakukan Yeo menunjukkan bahwa emisi CO2 akan naik dai 51 g CO2/kWh pada skenario bauran nuklir menjadi 186 g CO2/kWh pada skenario nuklir pensiun. Emisinya naik 265% dari kondisi awal! [5]

Tidak hanya membuat emisi naik, tapi opsi pensiun nuklir juga menyebabkan harga listrik naik. Jika masih menggunakan nuklir, nilai levelised cost of electricity (LCOE) hanya sebesar GBP 82/MWh atau GBP 8,2 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.660/kWh, termasuk murah untuk Eropa Barat. Sementara, menggunakan opsi pensiun nuklir, LCOE naik menjadi GBP 95/MWh atau GBP 9,5 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.921/kWh [5].

Gambar 3. LCOE pada skenario pensiun nuklir (atas) dan nuklir (bawah)

Kenaikan tarif listrik ini mudah dipahami. Pertama, energi nuklir masih lebih murah daripada energi bayu, terlepas dari propaganda kalangan pro-“energi terbarukan”. Pasalnya, energi bayu tidak beroperasi setiap saat, sementara nuklir bisa beroperasi 24×7. Sehingga, load factor nuklir lebih tinggi.

Kedua, pada skenario pensiun nuklir, gas mengambil alih setengah dari kapasitas pembangkitan di Inggris. Harga gas alam yang mahal ketika dikonversi menjadi biaya bahan bakar akhirnya menjadi beban utama bagi jaringan listrik Inggris, seandainya skenario seperti ini terjadi.

Jadi jelas, mempensiunkan nuklir demi “energi terbarukan” bukan ide bagus di Inggris. Karena realitanya, energi bayu tetap membutuhkan energi fosil berupa gas alam sebagai backup.

Bagaimana di Swedia?

Pada tahun 2015 lalu, muncul wacana untuk menutup empat PLTN tertua di Swedia pada tahun 2020, termasuk pelarangan untuk membangun PLTN baru. Walau akhirnya wacana ini berubah pada tahun 2016, dengan diizinkannya dibangun hingga 10 PLTN baru untuk menggantikan PLTN yang ditutup, sebuah studi yang dilakukan F. Wagner dan E. Rachlew telah dipublikasikan pada tahun yang sama, untuk menilai skenario apabila energi nuklir di Swedia diganti dengan energi bayu [6].

Studi ini mengasumsikan energi nuklir diganti sebagian dan sepenuhnya oleh energi bayu, sembari menganalisis apakah energi hidro bisa menyesuaikan pembangkitan listrik dari energi bayu yang bersifat intermiten. Basisnya adalah data beban kelistrikan pada tahun 2013, yang didominasi oleh energi nuklir dan hidro. Pembangkitan energi hidro diasumsikan tetap, sehingga yang dinaikkan adalah bauran energi bayu terhadap nuklir [6].

Gambar 4. Beban listrik Swedia standar

Hasilnya, ketika energi nuklir dipangkas setengahnya, kapasitas energi bayu harus dinaikkan lebih dari dua kali lipat, dari 4,47 GWe pada saat itu menjadi 11,2 GWe [6]. Pada kondisi ini, dibutuhkan sedikit backup energi karena keterbatasan pembangkitan hidro. Backup ini kemungkinan besar adalah gas alam, yang seperti dinyatakan sebelumnya, dapat ramp up dan ramp down dengan cepat menyesuaikan kebutuhan jaringan listrik.

Gambar 5. Beban listrik Swedia dengan nuklir dipangkas setengahnya. Backup daya mulai digunakan.

Ketika nuklir dipangkas habis, kapasitas energi bayu harus ditingkatkan menjadi 22,3 GWe. Kondisi ini membutuhkan backup daya sebesar 8,6 GWe yang memiliki faktor kapasitas dan keekonomisan rendah [6]. Lagi-lagi yang digunakan pasti gas alam. Backup daya juga harus ada demi ‘menghaluskan’ gradien daya yang tajam, akibat sifat intermiten energi bayu.

Gambar 6. Beban listrik Swedia dengan nuklir dihilangkan. Penggunaan backup daya lebih tinggi lagi untuk mengompensasi sifat intermiten energi bayu.

Backup daya menggunakan gas alam bersifat kontraproduktif dengan usaha memitigasi perubahan iklim. Pasalnya, emisi spesifik listrik Swedia naik dari 23 g CO2/kWh menjadi 34 g CO2/kWh, naik 50% [6]. Tidak sebesar kenaikan di Inggris, tapi cukup signifikan dibandingkan emisi pada awalnya.

Baca juga Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Untuk mengganti energi nuklir berkapasitas 9 GWe di Swedia, dibutuhkan 22,3 GWe energi bayu dan 8,6 GWe pembangkit gas alam. Ditambah lagi, instalasi energi bayu sebesar itu lebih besar dua kali lipat daripada kapasitas terpasang energi bayu dan surya per kapita di Jerman pada tahun 2016. Mengingat Jerman mengalami kenaikan tarif listrik karena penggunaan energi bayu dan surya, bisa dibayangkan kenaikan tarif listrik di Swedia dengan kapasitas spesifik dua kali lipatnya.

Jadi, di Swedia pun bukan ide bagus untuk mengganti energi nuklir dengan energi bayu.

Kedua studi ini menyoroti hal yang sama, bahwa so-called “energi terbarukan” tidak bisa berdiri sendiri untuk menggantikan energi fosil. Pasti harus dibarengi dengan penggunaan energi fosil. Padahal, penggunaan energi fosil justru bertentangan dengan usaha untuk mitigasi perubahan iklim. Alih-alih mereduksi emisi karbon, yang ada justru membuatnya meningkat!

Mengganti energi nuklir dengan so-called “energi terbarukan” tidak pernah berimbas baik dan bertentangan dengan fundamental mitigasi perubahan iklim, yakni memangkas emisi karbon. Justru, energi nuklir telah terbukti secara historis berdampak positif pada mitigasi perubahan iklim dan mencegah kematian jutaan manusia akibat polusi energi fosil [7]. Bias anti-nuklir yang melandasi tindakan irasional ini harus segera dihentikan. Kebijakan energi harus dibuat berdasarkan sains, bukan bias irasional.

 

Referensi

  1. British Petroleum. BP Statistical Review of World Energy June 2018. London: BP.
  2. Michael Shellenberger. Anti-Nuclear Bias of UN and IPCC Is Rooted In Cold War Fears of Atomic and Population Bombs. (https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/10/09/anti-nuclear-bias-of-u-n-ipcc-is-rooted-in-cold-war-fears-of-atomic-and-population-bombs/#60efd4f65dd6). Diakses 10 Oktober 2018.
  3. Intergovernmental Panel on Climate Change Working Group III. 2014. Mitigation of Climate Change, Annex III: Technology – specific cost and performance parameter. Cambridge: Cambridge University Press.
  4. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 10 Oktober 2018.
  5. The New Nuclear Watch Institute. 2018. The False Economy of Abandoning Nuclear Power: Techno-Zealotry and the Transition Fuel Narrative. London: NNWI.
  6. F. Wagner dan E. Rachlew. 2016. Study on a hypothetical replacement of nuclear electricity by wind power in Sweden. European Physical Journal Plus 131: 173.
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir. (https://warstek.com/2018/06/11/nukliriklim). Diakses 11 Oktober 2018.
Bagikan Artikel ini di:

Teknologi Nuklir Untuk Perubahan Iklim

Bagikan Artikel ini di:

Halo sahabat Warstek, apa kabar ? Pasti baik yah.  Kali ini kita akan membahas masalah tentang Nuklir sebagai perbaikan sumber daya masa kini. Kalian pasti berpikir, kok Nuklir? Bukannya Nuklir itu cuma menghancurkan saja. Terlepas dari buruknya pemakaian Nuklir di masa lalu, sekarang kita menemukan bahwa Nuklir bukan hanya di gunakan untuk kerusakan tapi Nuklir sekarang berkembang sebagai sumber daya yang menjanjikan untuk dunia dan indonesia loh. Oke kita langsung ke pembahasan saja yah.

Apa Itu Nuklir Dan Reaksi Nuklir Sebenarnya ?

Nuklir? Apa sih sebenarnya Nuklir itu? Pada umumnya masyarakat awam mengenal istilah Nuklir dari sejarah Perang Dunia II. Pada saat itu, dua buah bom Nuklir meledak atau diledakkan oleh tentara Sekutu (Amerika Serikat) masing-masing di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.

Bagi bangsa Indonesia, peristiwa pengeboman dua kota di Jepang tadi juga terkait langsung dengan arah perjalanan bangsa ini. Dalam waktu yang sangat berdekatan dengan kekalahan tentara Jepang terhadap kekuatan Sekutu pada Perang Dunia II itulah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah sebelumnya selama tiga setengah abad dijajah oleh Belanda dan selama tiga setengah tahun dijajah oleh Jepang.

Kok bahasnya masalah Kemerdekaan,penjajahan,nagasika dan hiroshima sih?. hehehe. iya tapi itulah memang sebenarnya awal kita mengenal yang namanya Nuklir. oke tanpa berpanjang lama kita akan menjelaskan apa sih itu Nuklir. Kata Nuklir berarti bagian dari atau yang berhubungan dengan nukleus atom (inti atom).. Dalam fisika Nuklir, sebuah reaksi Nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei ataupartikel Nuklir bertubrukan.

Sejarah Nuklir 

Diatas Sebenarnya kita sudah membahas sedikit sejarah Nuklir tapi kita akan membahas Nuklir dari sisi keilmuanya dan lansung saja .Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Nuklir bermula ketika Otto Hahn dan Fritz Strasmann pada tahun 1938 menemukan reaksi pembelahan inti atom.

Mereka melakukan penelitian dengan cara menembaki unsur Uranium-235 (U-235) dengan partikel neutron yang bergerak sangat lambat. Dari hasil penembakan tersebut mereka mendapatkan bahwa inti atom U-235 pecah menjadi inti-inti atom yang lebih kecil dan massanya lebih ringan dibandingkan U-235, lalu dipancarkan dua hingga tiga buah partikel neutron baru yang bergerak sangat cepat (neutron ini disebut neutron cepat), hingga pada akhirnya dilepaskanlah energi dalam bentuk panas sebesar 200 Mega electron-Volt (MeV).

Reaksi yang ditemukan oleh Hahn dan Strasmann ternyata sangat berlainan dengan reaksi kimia biasa yang sudah dikenal pada saat itu. Pada reaksi kimia biasa, reaksi itu terjadi antara unsur-unsur kimia, dimana unsur-unsur yang bereaksi masih dapat ditemukan dalam senyawa hasil reaksi.

Reaksi pembelahan inti atom U-235 tersebut disebut reaksi Nuklir, karena setelah terjadi reaksi pembelahan tidak ditemukan lagi adanya inti atom U-235. Reaksi ini sering kali disebut juga sebagai reaksi fisi (pembelahan) karena inti U-235 pecah menjadi dua inti yang lebih kecil.

Dari penemuan reaksi inilah persamaan kesetaraan massa dan energi yang dirumuskan oleh Albert Einstein dengan persamaan: E = mc2 (E = energi dalam Joule, m = massa dalam kilogram, dan c = kecepatan cahaya yang nilainya 300.000 kilometer per detik) dapat dibuktikan dan diakui kebenarannya oleh kalangan ilmuwan secara luas.

Kenapa Kita Perlu Nuklir Untuk Perubahan Iklim ?

Munkin kalian bertanya kenapa kita perlu merubah iklim ? Itu karna  pemanasan global dan dampaknya bagi kelangsungan hidup sangat diperlukan karna apabila kita terus membiarkan iklim terjadi begitu saja maka akan terjadi berbagai bencana yang akan memusnahkan bumi oleh karna itu kalian harus menjaga bumi ini yah.

Nuklir Untuk Perubahan Iklim 

Saat ini, sumber energi rendah karbon membentuk sedikit 5 persen dari produksi energi primer dunia, memasok hanya 11 persen dari listrik global.

Dengan tantangan perubahan iklim menggigit di tumit kami, para penulis studi baru berpendapat bahwa sekarang adalah waktu untuk mengambil pandangan baru pada teknologi karbon rendah yang kontroversial.

Kebutuhan akan pengurangan emisi karbon global yang cepat dan drastis menjadi semakin sulit ketika pemerintah juga harus memastikan perluasan akses energi ke miliaran orang. Teka-teki telah meninggalkan kita sedikit pilihan lain.

Meskipun penelitian ini tidak mengusulkan untuk meninggalkan solusi rendah atau nol-karbon lainnya, tetapi ini menyarankan untuk membuang energi Nuklir ke dalam campuran – setidaknya sampai potensi teknologi baru tersebut dapat sepenuhnya terwujud.

Ketika datang ke sektor listrik, energi Nuklir bisa memiliki dampak besar. Pada pertengahan abad, konsumsi listrik menjadi hampir dua kali lipat, meningkat hingga 45 persen.

Energi terbarukan hanya dapat memenuhi begitu banyak permintaan itu. Pada 2050, angin, matahari, dan penyimpanan baterai diperkirakan hanya memasok separuh listrik dunia.

Jika energi Nuklir dikecualikan sebagai solusi rendah karbon lainnya, temuan itu mengungkapkan bahwa itu dapat menyebabkan biaya rata-rata listrik untuk meningkat secara dramatis di seluruh dunia.

 Nuklir Di Indonesia 

Teknologi Nuklir merupakan sarana penting dalam mendukung program pembangunan di negara berkembang, seperti: Indonesia. Namun, perkembangan tersebut menimbulkan polemik di masyarakat nusantara. Ancaman yang ditimbulkan, sedangkan peluang yang didapatkan, selalu menjadi hal yang dipertanyakan. Isu mengenai ancaman, hal yang benar dan patut dikhawatirkan.

Namun, Dwight D. Einshower pada 8 desember tahun 1953 dalam pidatonya, mengatakan: “Ancaman besar yang dihasilkan dari penggunaan energi Nuklir dapat menjadi keuntungan besar bagi seluruh umat manusia.” Tahukah kamu? Menurut asosiasi Nuklir dunia: Indonesia bisa penuhi kebutuhan listrik dengan Nuklir.

Dilatar belakangi oleh hal tersebut, indonesia memiliki peluang melipatgandakan kapasitas pembangkit listrik dan melakukan ekspansi, dengan tujuan untuk memperbaiki akses terhadap listrik dan memenuhi permintaan ekonomi.Dewasa ini, Indonesia kaya akan cadangan Nuklir. Selain memiliki cadangan 70.000 ton uranium, Indonesia juga memiliki 210.000-280.000 ton thorium.(iar)

Oke itulah tadi sedikit pembahasan panjang mengenai Nuklir semoga dengan membaca artikel di atas itu dapat membantu teman teman dalam memahami Nuklir bukan hanya dari segi keburukan yang di timbulkan saja. Terimah Kasih.

[1] chikhungunya.wordpress https://chikhungunya.wordpress.com/2010/03/26/apa-sih-Nuklir-itu/

[2] wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Nuklir

[3] SainsIndonesia https://sainsindonesia.wordpress.com/2010/10/06/peran-Nuklir-pada-mitigasi-perubahan-iklim/

[4] SienceAlert https://www.sciencealert.com/nuclear-energy-must-be-part-of-the-climate-change-solution-mit-study-suggests

Bagikan Artikel ini di:

Dokumen Rahasia Tahun 1964: Bom Nuklir Amerika Hendak Musnahkan Populasi Uni Soviet dan China

Bagikan Artikel ini di:

Sejumlah dokumen rahasia Amerika Serikat (AS) yang tidak diklasifikasikan mengungkap rencana Pentagon menghancurkan Uni Soviet dan China dengan bom nuklir. Rencana itu dibuat tahun 1964, namun batal dijalankan. Uni Soviet telah runtuh tahun 1991 dan sekarang bernama Rusia.

Rencana perang nuklir dirancang oleh Angkatan Darat AS pada tahun 1964. Tujuan pemboman nuklir kala itu adalah menghancurkan potensi industri dan melenyapkan sebagian besar populasi kedua negara tersebut.

Dokumen rahasia tersebut baru-baru ini diterbitkan oleh proyek Arsip Keamanan Nasional Universitas George Washington. Dokumen-dokumen rahasia itu menunjukkan bagaimana Pentagon mempelajari opsi “layak” untuk menghancurkan masyarakat Uni Soviet dan China.

Tujuan penghancuran Uni Soviet dikarenakan Uni Soviet merupakan “masyarakat yang hidup” dan targetnya  memusnahkan 70 persen dari luas lantai industrinya selama serangan nuklir pre-emptive dan pembalasan. Tujuan yang sama juga untuk untuk China, mengingat ekonominya saat itu berbasis agraris.

Menurut rencana, AS akan memusnahkan 30 kota besar China, membunuh 30 persen populasi perkotaan dan mengurangi separuh kemampuan industrinya. “Keberhasilan pelaksanaan serangan nuklir berskala besar akan memastikan bahwa China tidak lagi menjadi negara yang layak,” bunyi ulasan dokumen tersebut, seperti dikutip Russia Today  (2/9/2018) .

Staf Gabungan AS kala itu telah mengusulkan untuk menggunakan “hilangnya populasi sebagai tolak ukur utama untuk keefektifan dalam menghancurkan masyarakat musuh yang kolateral terhadap kerusakan industri”.

Menurut para peneliti di Universitas George Washington, ide yang mengkhawatirkan itu berarti bahwa selama pekerja dan manajer kota terbunuh, kerusakan aktual untuk target industri mungkin tidak terlalu penting.

Rencana tahun 1964 tidak menyebutkan tingkat korban musuh yang diantisipasi, tetapi—seperti yang dicatat para peneliti—perkiraan sebelumnya dari tahun 1961 memproyeksikan bahwa serangan AS akan membunuh 71 persen penduduk di pusat-pusat perkotaan utama Soviet dan 53 persen penduduk di China.

Pentagon hingga tahun ini masih sangat bergantung pada pencegahan nuklir, dan seperti pada 1960-an, strategi nuklir AS masih menganggap kemampuan militer Rusia dan China sebagai tantangan utama yang dihadapi oleh Washington.

Dokumen Nuclear Posture Review terbaru pemerintah Donald Trump yang diadopsi pada bulan Februari 2018 lalu menggarisbawahi ancaman utama yang berasal dari Beijing dan Moskow. Dokumen, yang menyebutkan Rusia 127 kali itu, mengutip modernisasi persenjataan nuklir Rusia sebagai masalah bagi AS.

Strategi nuklir Washington tersebut juga memungkinkan AS untuk melakukan serangan nuklir tidak hanya dalam menanggapi serangan nuklir musuh, tetapi juga sebagai tanggapan terhadap serangan strategis non-nuklir yang signifikan di AS, sekutu dan mitra.

Dokumen Nuclear Posture Review AS telah dikecam  oleh Rusia dan China. Moskow mengecam strategi itu sebagai sikap konfrontatif. Sedangkan Beijing menggambarkan pendekatan Pentagon sebagai contoh dari mentalitas Perang Dingin.

© Sindonews.com

Artikel ini berasal dan telah dipublikasikan di Sindonews.com

 

Bagikan Artikel ini di: