Mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency, kini menjadi topik yang menyita perhatian para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Banyak negara mulai mengembangkan versi digital dari mata uang resmi mereka karena perubahan pola transaksi masyarakat, kemajuan teknologi finansial, serta kebutuhan untuk menjaga stabilitas sistem moneter di era digital. CBDC bukan sekadar inovasi perbankan, tetapi juga simbol perubahan besar dalam cara sebuah negara mengelola mata uang dan ekonomi.
Perubahan ini terjadi lebih cepat daripada kemampuan sebagian besar negara untuk menyusun aturan yang jelas dan kompatibel satu sama lain. Setiap negara merancang kebijakan yang berbeda sesuai kebutuhan masing masing. Akibatnya, perkembangan CBDC tumbuh secara terpisah antara satu negara dan negara lain. Situasi ini menimbulkan pertanyaan global yang mendasar mengenai bagaimana seluruh negara dapat menciptakan aturan yang seragam tanpa mengorbankan kedaulatan moneter mereka. Buku Global Regulations for CBDC: Bridging Uniformity in International Policy mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui analisis menyeluruh mengenai kondisi regulasi saat ini, tantangan internasional, serta kemungkinan jalan tengah yang dapat diterapkan.
Baca juga artikel tentang: Ketahui Kebijakan Fiskal dalam Perspektif Ekonomi Makro Islam Lebih Dalam!
CBDC berbeda dengan cryptocurrency. Mata uang digital bank sentral berada di bawah pengawasan pemerintah dan terjamin oleh bank sentral. Cryptocurrency tidak memiliki otoritas tunggal yang mengatur sehingga nilainya mengikuti mekanisme pasar yang volatile dan tidak selalu stabil. CBDC dirancang untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan menjadi alat pembayaran yang aman, efisien, serta mudah diakses. Karena alasan inilah para pembuat kebijakan menaruh harapan besar pada CBDC sebagai bagian dari transformasi ekonomi yang lebih besar.
Perkembangan CBDC terjadi di banyak wilayah dengan pendekatan yang tidak sama. China menguji coba penggunaan e yuan di berbagai kota. Uni Eropa melakukan persiapan euro digital dengan standar keamanan dan regulasi yang ketat. Negara negara berkembang menunda implementasi karena kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi domestik dan kesiapan infrastruktur digital. Ketidakselarasan ini menciptakan tantangan besar ketika negara negara ingin melakukan transaksi lintas batas dengan CBDC yang berbeda. Dunia kini membutuhkan interoperabilitas agar sistem moneter digital dapat berfungsi secara harmonis lintas negara.
Perbedaan regulasi tidak hanya menimbulkan hambatan teknis. Risiko besar juga muncul di bidang ekonomi, keamanan, dan geopolitik. CBDC membawa data transaksi berskala besar yang perlu dilindungi secara ketat. Tanpa kebijakan global yang jelas, data tersebut berpotensi menjadi alat politik atau ekonomi yang dapat mengganggu keseimbangan internasional. Buku tersebut menekankan bahwa negara membutuhkan panduan bersama agar keamanan data, privasi masyarakat, dan stabilitas pasar tetap terjaga.
Ketidaksamaan regulasi juga dapat memicu ketidakseimbangan geopolitik. Negara yang lebih maju dalam mengembangkan CBDC bisa menguasai alur transaksi global dan memberi tekanan pada negara yang masih tertinggal. Ketidakseimbangan ini berpotensi menimbulkan ketegangan yang tidak diinginkan. Karena itu, kebijakan global harus mampu menjaga kesetaraan sehingga negara mana pun tidak merasa dirugikan.
Penulis buku menawarkan panduan praktis untuk membantu negara menavigasi tantangan tersebut. Salah satu gagasan utamanya adalah kebutuhan untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dan tata kelola yang ketat. CBDC membuka peluang baru bagi efisiensi ekonomi, tetapi inovasi yang terlalu bebas dapat mengancam stabilitas keuangan. Negara perlu menemukan titik tengah yang memungkinkan pertumbuhan teknologi tanpa mengorbankan keamanan dan transparansi.
Konsep kedaulatan moneter menjadi perhatian penting lain dalam pembentukan kebijakan global. Setiap negara memiliki hak untuk menentukan aturan moneternya. Kerangka aturan internasional tidak boleh menghilangkan hak tersebut. Regulasi global sebaiknya bersifat harmonis, bukan mengikat secara memaksa. Keseragaman yang dimaksud bukan penyamaan total, tetapi keselarasan prinsip dasar sehingga sistem yang berbeda dapat beroperasi bersama secara efektif.
Buku ini juga menyoroti pentingnya pembangunan sistem yang saling terhubung. Interoperabilitas memerlukan kesepakatan pada level teknis, seperti standar keamanan data, protokol transaksi, dan sistem autentikasi. Negara perlu menyusun panduan teknis agar CBDC dapat saling mengenali dan berfungsi dalam transaksi lintas batas. Tanpa hal tersebut, CBDC akan menjadi alat pembayaran yang hanya efektif di dalam negeri dan sulit digunakan untuk transaksi internasional.
Tantangan lain muncul dari perbedaan kesiapan infrastruktur digital antar negara. Negara maju dapat mengadopsi CBDC dengan cepat karena memiliki jaringan internet stabil, perangkat digital yang memadai, serta masyarakat yang terbiasa bertransaksi secara digital. Negara berkembang menghadapi masalah seperti akses internet terbatas, perangkat yang tidak merata, dan kesenjangan literasi digital. Regulasi global harus mempertimbangkan perbedaan ini agar tidak menimbulkan ketimpangan baru.
Penulis buku menyajikan sejumlah rekomendasi strategis untuk mengatasi hambatan tersebut. Pembentukan forum global khusus CBDC menjadi salah satu gagasan penting. Forum semacam ini dapat berfungsi sebagai wadah koordinasi internasional, tempat negara berbagi pengalaman, menyusun standar bersama, dan menyepakati kerangka regulasi yang kompatibel. Selain itu, forum ini juga dapat memperkuat transparansi antarnegara sehingga mengurangi risiko ketidakpercayaan atau kekhawatiran yang bersifat politis.
Keberhasilan implementasi CBDC juga membutuhkan keterlibatan industri teknologi. Bank sentral tidak dapat bekerja sendiri karena CBDC beroperasi dalam infrastruktur digital yang kompleks. Kolaborasi antara pemerintah, pengembang teknologi, akademisi, serta lembaga keuangan menjadi syarat penting bagi keberhasilan sistem ini. Kerja sama lintas sektor memungkinkan solusi yang lebih cepat dan efektif dalam menghadapi tantangan teknis maupun etika.
Buku ini memberikan kontribusi besar terhadap wacana internasional mengenai masa depan mata uang digital. Pembahasan mengenai regulasi global menjadi semakin relevan ketika semakin banyak negara mempertimbangkan penggunaan CBDC sebagai alternatif uang fisik. CBDC berpotensi memperluas akses layanan keuangan, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperkuat ketahanan ekonomi. Namun manfaat tersebut hanya dapat terwujud jika dunia memiliki kerangka regulasi yang seragam dan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan global.
Masa depan transaksi internasional sangat bergantung pada kemampuan negara negara untuk bekerja sama membangun sistem CBDC yang aman, transparan, dan inklusif. Keseragaman kebijakan bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi juga fondasi bagi kepercayaan global. Melalui analisis dan panduan yang tersaji dalam buku tersebut, para pemimpin dunia memiliki kesempatan untuk menciptakan fondasi yang kokoh bagi era baru keuangan digital.
Baca juga artikel tentang: Menyatukan Kebijakan di Dunia yang Terpecah: Pelajaran dari Arktik untuk Adaptasi Iklim Global
REFERENSI:
Rachmad, Yoesoep Edhie. 2025. Global Regulations for CBDC: Bridging Uniformity in International Policy. The United Nations and the Nobel Peace Prize Awards.

