Banyak orang beranggapan bahwa hewan albino sangat jarang ditemukan di alam liar karena penampilannya yang mencolok. Tanpa adanya pigmen melanin yang memberi warna pada kulit, bulu, atau sisik, tubuh mereka tampak pucat atau bahkan putih sepenuhnya. Kondisi ini membuat hewan albino lebih mudah terlihat oleh predator, sehingga dianggap memiliki peluang hidup lebih rendah. Dalam bayangan sederhana, tubuh pucat mereka seperti “lampu sorot” yang menjadikan mereka target empuk di lingkungan yang penuh bahaya.
Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa masalah albinisme tidak sesederhana soal mudah terlihat saja. Kekurangan pigmen ternyata juga membawa konsekuensi lain yang lebih dalam, yaitu berbagai kelemahan fisiologis yang berhubungan langsung dengan kesehatan tubuh dan kemampuan bertahan hidup. Misalnya, albinisme dapat memengaruhi penglihatan karena melanin juga berperan penting dalam perkembangan retina dan saraf mata. Selain itu, kurangnya pigmen pelindung membuat kulit hewan albino lebih rentan terhadap kerusakan akibat sinar ultraviolet matahari.
Dengan kata lain, rendahnya jumlah hewan albino di alam bukan hanya karena mereka lebih gampang diburu, tetapi juga karena kondisi tubuh mereka sendiri memiliki keterbatasan biologis yang membuat mereka sulit bersaing dengan individu normal dalam jangka panjang.
Kodok Tebu dan Percobaan Genetik
Kodok tebu (Rhinella marina) dikenal luas sebagai salah satu spesies paling invasif di Australia. Kata invasif berarti hewan ini berkembang biak sangat cepat dan mendominasi ekosistem baru, sehingga sering mengganggu keseimbangan alam serta mengancam spesies lokal. Kodok tebu awalnya diperkenalkan untuk mengendalikan hama, tetapi justru menyebar tak terkendali dan kini menjadi masalah besar bagi lingkungan.
Dalam upaya memahami lebih jauh tentang albinisme, sekelompok ilmuwan dari Macquarie University, Australia melakukan eksperimen menggunakan teknologi mutakhir yang dikenal sebagai CRISPR-Cas9. Teknologi ini sering dijuluki sebagai “gunting genetik”, karena memungkinkan peneliti untuk memotong dan menyunting DNA secara presisi. Dengan alat ini, mereka dapat menonaktifkan atau mengubah gen tertentu untuk melihat efeknya terhadap organisme.
Target mereka adalah gen yang bernama tyrosinase. Gen ini sangat penting karena bertugas mengatur produksi melanin, yaitu pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut, atau mata, sekaligus berfungsi melindungi tubuh dari sinar ultraviolet. Dengan menyunting gen ini, para ilmuwan secara efektif “mematikan” kemampuan kodok untuk menghasilkan pigmen pelindung tersebut.
Hasilnya benar-benar terlihat jelas: lahirlah kodok tebu albino. Tidak seperti saudara-saudaranya yang biasanya berwarna cokelat kehijauan dan bisa menyatu dengan lingkungan, kodok hasil eksperimen ini memiliki kulit yang pucat keputihan, khas hewan albino. Perbedaan ini memberi para ilmuwan kesempatan unik untuk meneliti secara langsung bagaimana ketiadaan pigmen memengaruhi kelangsungan hidup dan fisiologi seekor amfibi.
Baca juga artikel tentang: Kodok (Bufo bufo), Salah satu Hewan Super Yang Mampu Memprediksi Gempa Bumi Dan Aktivitas Seismik
Efek Albinisme pada Pertumbuhan dan Daya Hidup
Hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan perbedaan mencolok:
- Pertumbuhan lambat → kodok albino berkembang lebih pelan daripada yang normal.
- Tingkat kelangsungan hidup rendah → banyak yang tidak bertahan lama, bahkan sejak fase kecebong.
- Metamorfosis lebih cepat → tanda stres fisiologis, seolah tubuh terburu-buru menyelesaikan tahap perkembangan.
- Kesulitan dalam kompetisi → ketika ditempatkan bersama kecebong normal, albino kalah dalam perebutan sumber daya.
Masalah Utama: Penglihatan yang Buram
Uji coba berburu memberikan jawaban lebih jelas: kodok albino kesulitan melihat mangsanya.
Kodok dewasa mengandalkan penglihatan untuk menangkap serangga. Tanpa pigmen pelindung di mata, retina mereka tidak berfungsi optimal, sehingga:
- Mereka butuh cahaya lebih terang untuk mengenali mangsa.
- Lebih sering gagal saat menyambar makanan.
Artinya, bahkan tanpa adanya predator, kodok albino tetap dirugikan oleh keterbatasan sensorik ini.
Mengungkap Misteri Seleksi Alam
Studi ini memperlihatkan bagaimana seleksi alam bekerja secara halus dan kompleks. Bukan hanya predator yang menentukan apakah seekor albino bisa bertahan, melainkan juga kesehatan, efisiensi energi, dan kemampuan bersaing. Dengan CRISPR, ilmuwan dapat mengisolasi satu faktor genetik lalu mengamati dampaknya secara langsung, memberi pemahaman baru tentang bagaimana kelemahan biologis bisa mengurangi peluang bertahan hidup.
Kenapa Penting untuk Ilmu dan Konservasi?
- Menambah wawasan evolusi – Penelitian ini memperkuat gagasan bahwa ciri fisik tertentu bisa memiliki konsekuensi luas, lebih dari yang terlihat.
- Metode baru memahami genetika – Dengan membuat saudara kandung “hampir identik” kecuali satu gen, ilmuwan bisa melihat dengan jelas peran gen tersebut.
- Relevan untuk konservasi – Banyak spesies terancam memiliki variasi warna atau kelainan genetik. Memahami dampaknya membantu menyusun strategi perlindungan yang lebih tepat.
Ringkasan dalam Tabel
| Aspek | Temuan |
|---|---|
| Gen yang diubah | Tyrosinase (penghasil pigmen melanin) |
| Ciri fisik | Kulit pucat (albino), mata tanpa pigmen |
| Efek utama | Pertumbuhan lambat, survival rendah, metamorfosis cepat |
| Masalah terbesar | Penglihatan terganggu → kesulitan berburu |
| Makna ilmiah | Albinisme merugikan bukan hanya karena predator, tapi juga fisiologi |
Eksperimen kodok tebu albino menunjukkan bahwa albinisme adalah “biaya biologis” yang berat. Warna pucat bukan hanya membuatnya lebih tampak, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan, daya tahan hidup, hingga kemampuan berburu. Dengan alat genetika modern, kita bisa melihat bagaimana seleksi alam menyingkirkan individu yang kurang kompetitif dengan cara yang tidak selalu kasatmata.
Baca juga artikel tentang: Mamalia Ektotermis: mamalia mengagumkan yang hidup di daerah subtropis
REFERENSI:
Hale, Tom. 2025. Scientists Created Gene-Edited Albino Cane Toads To Unravel The Mysteries Of Natural Selection. IFLScience: https://www.iflscience.com/scientists-created-gene-edited-albino-cane-frogs-to-unravel-the-mysteries-of-natural-selection-80591 diakses pada tanggal 1 September 2025.
Rolón, Melisa CJ dkk. 2025. Estimating Population Size and Survival for Two Subpopulations of the Critically Endangered Patagonia Frog, Atelognathus patagonicus, in Laguna Blanca National Park, Argentinian Patagonia. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems 35 (7), e70175.
Westaway, Dylan M. 2025. Amphibian albinism: an albino spotted marsh frog (Limnodynastes tasmaniensis) observed in western Victoria, Australia. Australian Zoologist.

