Dari Bikini Bottom ke Samudra Atlantik: Fakta Ilmiah Spons dan Bintang Laut

Dalam serial animasi populer SpongeBob SquarePants, kita mengenal dua tokoh utama yang sangat ikonik: SpongeBob, seekor spons laut berwarna kuning […]

Dalam serial animasi populer SpongeBob SquarePants, kita mengenal dua tokoh utama yang sangat ikonik: SpongeBob, seekor spons laut berwarna kuning cerah, dan Patrick, seekor bintang laut berwarna merah muda. Keduanya digambarkan sebagai sahabat karib yang hampir selalu menghabiskan waktu bersama. Mereka tinggal di Bikini Bottom, sebuah kota bawah laut rekaan yang menjadi latar berbagai petualangan kocak dan kisah persahabatan mereka.

Serial ini menampilkan hubungan yang penuh humor, kekonyolan, dan rasa saling mendukung, sehingga penonton terutama anak-anak sering membayangkan bahwa di dunia nyata, spons laut dan bintang laut memang hidup rukun layaknya sahabat sejati. Gambaran ini secara tidak langsung membentuk persepsi umum bahwa dua makhluk laut tersebut memiliki hubungan yang harmonis di habitat aslinya.

Namun, sains menceritakan kisah yang berbeda. Di alam liar, hubungan antara spons dan bintang laut tidaklah sehangat yang digambarkan di layar televisi. Spons laut (Porifera) adalah hewan sederhana yang hidup menempel di permukaan dasar laut dan menyaring makanan dari air, sedangkan bintang laut (Asteroidea) adalah predator yang memakan berbagai hewan dasar laut, termasuk spons.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah ekspedisi ilmiah di Samudra Atlantik bagian barat. Tim peneliti menggunakan kapal selam robotik milik NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) sebuah lembaga ilmiah Amerika Serikat yang mempelajari lautan dan atmosfer untuk menjelajahi kedalaman laut. Kamera robot tersebut menangkap pemandangan langka: seekor spons kuning cerah berada tepat di samping bintang laut merah muda, pemandangan yang langsung mengingatkan pada duo SpongeBob dan Patrick versi kartun.

Meski terlihat lucu dan menggemaskan, para ilmuwan menduga interaksi ini bukanlah tanda persahabatan. Secara biologis, kemungkinan besar bintang laut itu sedang mendekati spons sebagai calon mangsa lebih mirip “acara makan malam” ketimbang “main bersama”.

Baca juga artikel tentang: Anoxycalyx Joubini, Spons Raksasa yang Mampu Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Bintang laut adalah predator unik di lautan. Berbeda dengan kebanyakan hewan, mereka tidak memiliki mulut besar atau gigi untuk menggigit mangsanya. Sebaliknya, bintang laut memiliki cara makan yang cukup “aneh” namun efektif. Saat menemukan spons atau mangsa lain, bintang laut akan menempelkan bagian tubuhnya di atas target, lalu mengeluarkan perutnya melalui mulut yang terletak di bagian bawah tubuhnya. Perut ini membungkus sebagian tubuh mangsa, mengeluarkan enzim pencernaan, dan mulai memecah jaringan spons di luar tubuh bintang laut. Setelah itu, makanan yang sudah lembek diserap kembali ke dalam tubuh untuk dicerna lebih lanjut.

Bagi spons, proses ini tentu fatal. Meski spons tidak punya sistem saraf atau otak untuk “merasakan” sakit seperti manusia, mereka tetaplah makhluk hidup yang menjalankan fungsi biologisnya. Kehilangan jaringan akibat dimakan bintang laut dapat membuat spons melemah atau mati, terutama di habitat laut dalam di mana pertumbuhan kembali berjalan lambat.

Fenomena seperti yang tertangkap kamera NOAA ini memberi para ilmuwan kesempatan untuk mengamati langsung interaksi predator, mangsa di laut dalam, sesuatu yang jarang terjadi karena kondisi di sana gelap, bertekanan tinggi, dan sulit dijangkau manusia. Dari pemandangan sederhana ini, peneliti bisa mendapatkan informasi berharga tentang rantai makanan laut dalam, perilaku spesies, dan kesehatan ekosistem.

Mengapa Ekosistem Laut Dalam Penting?

Laut dalam mencakup lebih dari 60% permukaan Bumi, tetapi masih menjadi wilayah yang paling sedikit kita pahami. Di kedalaman ribuan meter, cahaya matahari tidak mampu menembus, suhunya sangat rendah, dan tekanannya bisa ratusan kali lipat lebih besar daripada di permukaan. Kondisi ekstrem ini membuat eksplorasi menjadi rumit dan mahal, sehingga hanya sebagian kecil dari habitat laut dalam yang pernah dipetakan atau dipelajari secara detail.

Meski begitu, laut dalam adalah rumah bagi berbagai bentuk kehidupan unik, mulai dari mikroorganisme hingga hewan besar yang tidak pernah terlihat di perairan dangkal. Banyak di antaranya memiliki adaptasi luar biasa untuk bertahan di lingkungan keras, seperti kemampuan menghasilkan cahaya sendiri (bioluminescence), metabolisme yang lambat, atau tubuh yang tahan tekanan tinggi.

Nilai Ilmiah dari Temuan “SpongeBob dan Patrick” Versi Nyata

Menemukan spons kuning dan bintang laut merah muda berdampingan bukan hanya momen lucu yang mirip kartun. Dari sudut pandang ilmiah, momen ini adalah:

  1. Bukti interaksi predator (mangsa di habitat laut dalam). Pengamatan langsung seperti ini membantu memvalidasi teori ekologi yang selama ini hanya diasumsikan berdasarkan spesimen mati atau data laboratorium.
  2. Data biodiversitas. Setiap spesies yang diidentifikasi, termasuk spons dan bintang laut ini, menambah catatan keanekaragaman hayati laut dalam. Bahkan, bisa saja spesies ini belum pernah dideskripsikan secara resmi.
  3. Peningkatan kesadaran publik. Foto atau video yang menarik perhatian, seperti “SpongeBob dan Patrick” di dunia nyata, sering kali membuat orang awam tertarik pada sains laut. Hal ini bisa mendorong dukungan publik dan pendanaan untuk penelitian lebih lanjut.

Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Kartun bisa memberi gambaran imajinatif, tetapi alam memiliki ceritanya sendiri. Hubungan antarspesies di dunia nyata tidak selalu harmonis; justru sering diwarnai kompetisi dan predasi. Mempelajari interaksi seperti ini membantu ilmuwan memahami bagaimana energi dan nutrisi mengalir melalui rantai makanan, informasi penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk yang berada jauh di dasar samudra.

Dengan kata lain, meskipun di dunia nyata spons dan bintang laut tidak “bermain gelembung” bersama, keduanya tetap punya peran penting dalam menjaga dinamika kehidupan laut. Penemuan ini menjadi pengingat bahwa lautan kita masih penuh misteri, dan setiap ekspedisi bisa membawa kejutan yang memperkaya pengetahuan manusia.

Baca juga artikel tentang: Mengenal Kelas Terbesar dari Filum Moluska – Gastropoda (Gary si Siput Spongebob)

REFERENSI:

Baker, Harry. 2025. Real-life SpongeBob and Patrick found side by side on seafloor. But they likely don’t get along. Live Science: https://www.livescience.com/real-life-spongebob-and-patrick.html diakses pada tanggal 11 Agustus 2025.

Mah, Christopher. Video Feature: “Real-Life” Sighting of SpongeBob SquarePants and Patrick Star. National Museum of Natural History: https://oceanexplorer.noaa.gov/okeanos/explorations/ex2104/features/spongebob/spongebob.html diakses pada tanggal 11 Agustus 2025.

Putra, RD Ferdiansyah Aprillianto Dwi dkk. 2025. Satire Humor in the Children’s Cartoon Series Spongebob Squarepants by Stephen Hillenburg. Apollo Project: Jurnal Ilmiah Program Studi Sastra Inggris 14 (1), 59-68.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top