Ketika India meluncurkan National Clean Air Programme atau NCAP pada tahun 2019, harapannya sederhana namun sangat penting. Negara ini ingin menurunkan polusi udara PM10 sebanyak empat puluh persen pada tahun 2026 dibandingkan angka tahun 2017. Target ini sangat ambisius, mengingat India terus menempati posisi atas dalam daftar negara dengan udara paling tercemar di dunia. Sebagian besar polusi berasal dari sumber yang sudah lama menjadi persoalan, seperti pembakaran biomassa, emisi industri, lalu lintas padat, serta penggunaan bahan bakar fosil dalam skala besar. Namun berbagai kota India menunjukkan kondisi yang berbeda beda, sehingga solusi menyeluruh membutuhkan pemahaman yang kuat tentang situasi lapangan.
Sebuah studi terbaru dalam jurnal Atmospheric Environment mencoba menjawab satu pertanyaan besar. Apakah NCAP benar benar memperbaiki kualitas udara India selama periode 2019 hingga 2023. Pertanyaan ini penting karena pemerintah India telah menginvestasikan sumber daya besar untuk memperluas pemantauan polusi, meningkatkan kapasitas kota kota dalam mengukur emisi, serta mendorong kebijakan yang lebih ketat terhadap berbagai sumber pencemar. Hasil penelitian ini memberikan gambaran realistis tentang capaian dan tantangan yang masih harus ditempuh.
Baca juga artikel tentang: Nyquist Sampling Rate: Fondasi Pengolahan Sinyal Digital
Sejak NCAP dimulai, pemerintah pusat memberikan suntikan dana cukup besar untuk memperbaiki sistem pemantauan polusi. Banyak kota kini memiliki stasiun pemantauan baru, baik manual maupun otomatis. Jumlahnya meningkat hingga tiga hingga empat kali lipat. Ini merupakan perkembangan penting karena selama bertahun tahun, banyak kota India tidak memiliki alat pemantauan yang memadai sehingga data kualitas udara sering tidak lengkap atau tidak stabil dari tahun ke tahun. Dengan kemampuan memantau yang lebih baik, pejabat kota dapat melihat pola polusi harian dan tahunan secara lebih jelas, sekaligus memahami kapan dan dari mana polusi berasal.
Data dari buletin harian kualitas udara menunjukkan adanya penurunan tiga belas persen dalam indeks kualitas udara antara tahun 2019 dan 2023. Sekilas, angka ini terlihat menggembirakan. Namun para peneliti mengingatkan bahwa indeks ini tidak selalu menggambarkan penurunan polusi dari satu jenis zat pencemar saja. Perubahan komposisi polusi dalam udara dapat membuat indeks tampak lebih baik walaupun beberapa komponen polutan justru meningkat. Karena itu, penurunan indeks tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti keberhasilan program.
Salah satu temuan mencolok dalam penelitian ini adalah meningkatnya peran PM10 sebagai polutan dominan dalam hampir seluruh buletin kualitas udara harian. Meskipun sembilan puluh lima dari seratus tiga puluh satu kota yang masuk daftar NCAP menunjukkan penurunan tingkat PM10, komponen lain yang lebih berbahaya seperti PM2.5 belum mengalami perubahan signifikan di beberapa wilayah. PM2.5 adalah partikel sangat kecil yang dapat masuk ke dalam paru paru dan aliran darah, sehingga menjadi salah satu polutan paling berbahaya bagi kesehatan. Delhi yang dikenal sebagai ibu kota paling tercemar di dunia pada tahun 2023 bahkan tidak menunjukkan perbaikan dalam konsentrasi PM2.5.

Penelitian ini juga melihat data satelit dari TROPOMI untuk memahami pola polusi pada skala wilayah yang lebih luas, bukan hanya batas administrasi kota. Temuan dari satelit menunjukkan adanya peningkatan beban atmosfer untuk dua polutan utama, yaitu sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Kedua gas ini biasanya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil serta aktivitas industri dan lalu lintas. Peningkatan ini juga disertai kenaikan indeks aerosol sisa yang menunjukkan bahwa emisi dari pembakaran masih menjadi faktor dominan. Artinya, meskipun ada perbaikan kecil di beberapa indikator, aktivitas yang menghasilkan polusi tetap tinggi di tingkat nasional.
Di balik angka angka itu, terdapat satu persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi. Polusi udara tidak mengenal batas kota. Sering kali udara tercemar berasal dari daerah pertanian, kawasan industri, atau wilayah lain yang lokasinya jauh dari pusat kota. Ketika angin bergerak, polusi ikut berpindah sehingga wilayah yang tampaknya telah mengendalikan emisi lokal tetap mengalami lonjakan polusi akibat sumber dari luar daerah. Karena itu, evaluasi kualitas udara berbasis batas administrasi kota sering kali tidak cukup. Para peneliti menekankan perlunya menggunakan pendekatan skala udara regional yang mencakup pergerakan angin dan pola emisi dari berbagai wilayah.
Jika dilihat secara keseluruhan, NCAP telah membawa sejumlah kemajuan nyata. India kini memiliki jaringan pemantauan polusi yang jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu. Banyak kota mulai memahami pola emisi secara lebih detail. Pemerintah pusat juga telah menyusun rencana aksi udara bersih untuk masing masing kota sehingga upaya pengendalian polusi menjadi lebih terfokus. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan tersebut masih jauh dari cukup untuk benar benar menurunkan tingkat polusi secara signifikan dan berkelanjutan.
Para peneliti memberikan beberapa rekomendasi penting. Pertama, India perlu meningkatkan kapasitas pemantauan hingga sepuluh kali lipat dari kondisi saat ini. Jaringan pemantauan harus dapat mengukur berbagai jenis polutan, terutama polutan berbahaya yang selama ini kurang dilaporkan. Kedua, setiap kota harus memiliki angka dasar emisi untuk berbagai polutan sehingga efek kebijakan dapat diukur secara akurat. Ketiga, perlu ada sistem evaluasi di tingkat regional yang mencakup beberapa kota sekaligus. Dengan memahami pola pergerakan polusi lintas wilayah, rencana pengendalian dapat disusun secara lebih efektif.
Selain itu, India juga perlu memperkuat upaya pengendalian pada sumber nyata di lapangan. Ini termasuk peningkatan standar industri, pengawasan lebih ketat terhadap pembakaran terbuka, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, serta percepatan transisi menuju energi bersih. Perubahan perilaku masyarakat juga memegang peran besar. Penggunaan transportasi publik, pengendalian debu konstruksi, dan pengurangan pembakaran biomassa dapat memberikan dampak langsung pada penurunan kadar polusi.
Pada akhirnya, studi ini mengingatkan bahwa memperbaiki kualitas udara bukanlah tugas yang bisa selesai dalam beberapa tahun. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, sektor industri, dan masyarakat umum. Hasil awal NCAP menunjukkan bahwa kemajuan mungkin terjadi, namun tantangan yang tersisa masih besar. Dengan strategi yang lebih cermat, data yang lebih lengkap, dan komitmen jangka panjang, India memiliki peluang untuk mewujudkan udara yang benar benar lebih bersih di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Luaran Sensor: Apakah Arus atau Tegangan yang Lebih Baik?
REFERENSI:
Guttikunda, Sarath K dkk. 2025. Assessing air quality during India’s National Clean Air Programme (NCAP): 2019–2023. Atmospheric Environment 343, 120974.

