Di tengah gempuran pasar modern dan supermarket, ada satu tempat yang masih menjadi jantung kehidupan masyarakat di Asia Tenggara: pasar tradisional. Bagi banyak komunitas, pasar bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga ruang hidup di mana budaya, ekonomi, dan alam saling bertemu.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Horticulturae (2025) oleh Piyaporn Saensouk dan rekan-rekannya menyoroti bagaimana sayuran lokal di pasar komunitas Chai Chumphol Temple di Provinsi Maha Sarakham, Thailand, memegang peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, dan warisan budaya.
Baca juga artikel tentang: Sayuran yang Mengandung Tingkat Antioksidan Tinggi
Sayuran Lokal: Lebih dari Sekadar Bahan Masakan
Sayuran yang dijual di pasar ini bukanlah produk hasil industri pertanian besar. Sebagian besar adalah spesies lokal atau varietas tradisional yang telah dibudidayakan turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Jenis-jenis ini sering kali diabaikan oleh pasar komersial karena tidak memenuhi standar ukuran, bentuk, atau warna yang “seragam”.
Namun justru di sinilah keunikannya: setiap daun, akar, dan buah memiliki cerita, tentang budaya, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan alam.
Dalam konteks ilmiah, hal ini dikenal dengan istilah etnobotani, yaitu studi tentang hubungan antara manusia dan tumbuhan dalam konteks budaya, ekonomi, dan spiritual.
Mengukur Nilai dari Perspektif Ekologi dan Sosial
Tim peneliti tidak hanya mencatat jenis-jenis sayuran yang dijual, tetapi juga menilai nilai ekonomi, kegunaan, dan makna budayanya dengan berbagai indikator, seperti:
- EVV (Economic Value of Vegetables) – nilai ekonomi, dilihat dari kontribusi sayuran terhadap pendapatan lokal.
- UV (Use Value) – seberapa sering dan beragam sayuran digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
- CI (Cultural Importance) – makna sosial dan ritual tanaman bagi masyarakat.
- IAR (Informant Agreement Ratio) – tingkat kesepakatan antarwarga tentang manfaat tanaman tertentu.
- Fidelity Level (%FL) – seberapa kuat suatu spesies dikaitkan dengan kegunaan tertentu (misalnya obat atau bahan makanan khas).
Pendekatan ini memungkinkan ilmuwan memetakan “peta nilai” sayur-sayur lokal, bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga dari dimensi sosial dan ekologinya.
Hasil yang Mengejutkan: Sayur Lokal = Pilar Keberlanjutan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran lokal di pasar Chai Chumphol memiliki peran multifungsi: mereka bukan hanya sumber makanan, tapi juga penopang ekonomi rumah tangga, simbol budaya, dan agen konservasi alam.
Beberapa temuan penting antara lain:
- Keragaman tinggi: terdapat puluhan spesies sayuran lokal yang berasal dari lahan kering, rawa, hingga tepi sungai.
- Pemanfaatan luas: masyarakat menggunakan berbagai bagian tanaman (daun, bunga, buah, batang, hingga akar) untuk makanan, obat, dan ritual keagamaan.
- Dampak ekonomi nyata: penjualan sayuran lokal menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga petani kecil dan pedagang di pasar komunitas.
- Nilai ekologis: tanaman-tanaman lokal ini berperan menjaga keanekaragaman genetik dan memperkuat ketahanan ekosistem pertanian terhadap perubahan iklim.
Dengan kata lain, sayuran lokal adalah jantung dari sistem pangan berkelanjutan di tingkat komunitas.
Sayur Sebagai Penjaga Budaya
Penelitian ini juga mengungkap bahwa sayuran lokal tidak bisa dipisahkan dari identitas budaya masyarakat Thailand bagian timur laut. Banyak di antaranya digunakan dalam upacara keagamaan, festival, dan masakan khas daerah. Misalnya, beberapa daun pahit digunakan dalam ritual pembersihan tubuh, sementara jenis lain disajikan pada hari-hari suci di kuil.
Bagi masyarakat, menanam dan menjual sayur bukan hanya urusan ekonomi, tapi juga cara melestarikan tradisi dan menghormati leluhur.
Etnohortikultura: Ilmu yang Menggabungkan Pengetahuan Lokal dan Modern
Salah satu kekuatan besar studi ini adalah cara peneliti menggabungkan etnobotani (ilmu budaya tumbuhan) dengan hortikultura modern. Pendekatan ini disebut etnohortikultura, yaitu studi tentang bagaimana pengetahuan tradisional tentang tanaman bisa digunakan untuk mengembangkan pertanian modern yang berkelanjutan.
Sebagai contoh:
- Pengetahuan petani lokal tentang musim tanam dan hama digunakan untuk mengurangi kebutuhan pestisida.
- Varietas sayur lokal yang tahan kekeringan dijadikan bahan dasar untuk program pemuliaan tanaman modern.
- Teknik budidaya tradisional, seperti penggunaan pupuk alami dan rotasi tanaman terbukti menjaga kesuburan tanah lebih lama.
Dengan kata lain, masa depan pertanian bisa ditemukan di kebijaksanaan masa lalu.
Pelajaran untuk Dunia
Meskipun penelitian ini dilakukan di Thailand, pesannya bersifat universal. Banyak negara tropis, termasuk Indonesia memiliki situasi serupa: pasar tradisional yang kaya dengan sayur-sayuran lokal, namun sering kali terpinggirkan oleh sistem pertanian industri.
Hasil studi ini mengingatkan kita bahwa:
- Keanekaragaman sayur lokal adalah aset global. Setiap spesies memiliki potensi unik untuk adaptasi iklim dan sumber gizi baru.
- Warisan kuliner lokal adalah bagian dari ketahanan pangan. Ketika kita kehilangan resep dan tanaman tradisional, kita juga kehilangan bagian dari identitas dan keamanan pangan.
- Pertanian berkelanjutan dimulai dari komunitas. Ketika pasar lokal diperkuat, rantai pasok menjadi lebih pendek, polusi berkurang, dan petani memperoleh keuntungan yang lebih adil.
Menuju Masa Depan Pangan yang Lebih Hijau
Peneliti Saensouk dan timnya menekankan bahwa upaya memperkuat pasar lokal dan sayuran tradisional dapat menjadi strategi nyata untuk menghadapi krisis pangan global.
Di tengah ancaman monokultur dan perubahan iklim, diversitas hortikultura lokal adalah perisai ekologi.
Mereka merekomendasikan agar pemerintah dan lembaga riset:
- Meningkatkan dokumentasi etnobotani lokal sebelum pengetahuan tradisional hilang.
- Mendorong pengembangan agribisnis berbasis komunitas, dengan produk bernilai tambah seperti benih lokal, olahan sayur tradisional, dan paket wisata kuliner.
- Menjadikan pasar komunitas sebagai pusat edukasi dan konservasi tanaman lokal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sayuran lokal bukan sekadar sumber makanan, tetapi juga sumber makna. Didalamnya tertanam nilai ekonomi, budaya, dan ekologis yang saling terkait. Dari pasar kecil di Chai Chumphol Temple, kita belajar bahwa ketahanan pangan masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi tinggi, tetapi juga oleh akar budaya dan keberagaman lokal.
Baca juga artikel tentang: Hati-Hati! Menggoreng Sayuran Bisa Menghilangkan Nutrisi dan Memicu Senyawa Berbahaya
REFERENSI:
Saensouk, Piyaporn dkk. 2025. Diversity, ethnobotany, and horticultural potential of local vegetables in Chai Chumphol Temple Community Market, Maha Sarakham Province, Thailand. Horticulturae 11 (3), 243.

