Gambar Pertama Buatan Manusia Berusia 73.000 Tahun Ditemukan di Afrika

Gambar abstrak tertua yang diketahui hingga saat ini telah ditemukan di Gua Blombos, Afrika Selatan dalam sebuah penggalian arkeologi. Gambar […]

blank
blank
Gambar 1. Serpihan Silcrete dari Gua Blombos yang terdapat pola garis-garis merah menyilang.

Gambar abstrak tertua yang diketahui hingga saat ini telah ditemukan di Gua Blombos, Afrika Selatan dalam sebuah penggalian arkeologi. Gambar tersebut terdapat pada serpihan batuan silika yang disebut silcrete, batuan yang terbentuk pasir yang mengandung mineral pada kondisi temperatur dan tekanan yang rendah di permukaan bumi.

Batu tersebut diperkirakan berusia 73.000 tahun karena diambil dari stratigrafi atau lapisan tanah arkeologi yang berusia 73.000-100.000 tahun. Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi lapisan tanah dan interpretasi lapisan batuan.

blank
Gambar 2. Stratigrafi bagian selatan dari Gua Blombos.

Usia tersebut diketahui lebih tua 30.000 tahun dari rekor gambar tertua sebelumnya yang pernah ditemukan. Untuk diketahui, untuk waktu yang lama para arkeolog yakin bahwa gambar pertama muncul ketika Homo Sapiens memasuki wilayah Eropa sekitar 40.000 tahun yang lalu, namun penemuan arkeologi baru-baru ini di Afrika, Eropa dan Asia menunjukan bahwa pembuatan dan penggunaan simbol muncul lebih awal dari perkiraan.

blank
Gambar 3. Hasil penafsiran ulang dari gambar yang tercetak pada serpihan silcrete.

Penggunaan gambar seperti penemuan dalam penggalian arkeologi di Eropa, Afrika dan Asia Tenggara sebelumnya yang berusia 40.000 tahun diyakini merupakan indikator utama dari kognisi dan perilaku modern. Misalnya, ukiran tertua yang diketahui adalah yang diukir pada cangkang kerang air tawar yang ditemukan di Trinil (Jawa) dalam lapisan arkeologi berusia 540.000 tahun. Dan benda-benda untuk perhiasan pribadi seperti manik-manik dan beberapa alat inovatif yang telah digali di beberapa situs arkeologi di Afrika sejak tahun 1991 juga diperkirakan berusia 70.000 hingga 120.000 tahun yang lalu.

Namun, meski ukiran yang ditemukan di Trinil adalah ukiran tertua yang di dunia yang telah ditemukan, namun temuan di Gua Blombos, Afrika Selatan ini adalah gambar abstrak pertama yang diketahui, artinya gambar ini bukan hanya ukiran acak tanpa arti, sementara gambar pada fragmen yang ditemukan di Gua Blombos diyakini hampir  pasti memiliki arti bagi pembuatnya dan manusia di zaman itu, zaman berburu dan meramu.

blank
Gambar 4. Ukiran acak pada cangkang yang dibuat oleh Homo erectus di Trinil di Jawa.

Para peneliti dari tim internasional yang terdiri atas ilmuwan dari PACEA (CNRS/University of Bordeaux/Kementerian Kebudayaan Prancis) and TRACES (CNRS/ University of Toulouse-Jean Jaurès/Kementerian Kebudayaan Prancis) mengidentifikasikan gambar tersebut dibuat dengan oker, sejenis tanah lunak yang terdiri dari campuran oksida besi, tanah liat kapur atau bahan-bahan yang berbentuk pasir yang kemudian dibentuk seperti krayon.

Christopher Henshilwood, Arkeolog dari Universitas Bergen di Norwegia dan Universitas Witwatersrand di Afrika Selatan yang memimpin penelitian tersebut menjelaskan bahwa oretan tersebut terlihat seperti garis-garis berwarna merah yang ditarik saling bersinggungan berdasarkan hasil penafsiran ulang para peneliti. Pola yang dibentuk dari gambar di batu tersebut mirip seperti tanda pagar yang menurut Henshilwood bahwa gambar tersebut adalah sebuah simbol.

Lebih lanjut ia menjelaskan, garis-garis pada simbol itu terputus pada sisi-sisi serpihan batu tersebut dan kemungkinannya adalah bahwa pola tersebut lebih besar, lebih rumit dan terstruktur dari yang terlihat di batu tersebut dengan permukaan yang lebih besar. Pengamatan masih terus dilakukan, sembari para peneliti juga sambil menganalisis alat-alat batu yang dikumpulkan selama penggalian di Gua Blombos, Afrika Selatan.

blank
Gambar 5. Tampilan jarak dekat garik yang ditarik pada permukaan serpihan silcrete pada analisis mikroskopis.

Pada penemuan penting ini, tantangan utama metodologis bagi para ahli adalah membuktikan bahwa garis-garis ini sengaja dibuat oleh manusia. Pekerjaan ini ditangani oleh tim peneliti dari Prancis, ahli dalam hal ini yang khusus dalam analisis pigmen kimia.

Pertama mereka memproduksi ulang baris yang sama menggunakan berbagai teknik, kemudian mereka mencoba fragmen oker dengan titik atau lekukan dan menggunakan cara pengenceran dengan serbuk oker menggunakan kuas, hingga menggunakan teknik analisis mikroskopis, kimia, dan tribologi.

Mereka kemudian membandingkan gambar mereka dengan gambar aslinya yang kuno. Temuan itu mengkonfirmasi bahwa garis-garis itu sengaja dibuat dengan alat oker runcing pada permukaan yang awalnya telah dihaluskan dengan digosok.

blank
Gambar 6. Oker dan silcrete yang digunakan pada eksperimen replikasi.

Dari hasil analisis mikroskopis dan kimiawi tersebut, pola dari hasil penafsiran ulang dikonfrimasi bahwa pigmen oker merah sengaja ditarik pada serpihan batuan silcrete dengan krayon yang dibuat dari oker. Objek tersebut berasal dari tingkat yang sama dan terkait dengan alat-alat batu dari penggalian sebelumnya yang menemukan manik-manik dari kerang dan beberapa perkakas lainnya.

Lapisan arkeologi tempat temuan penting ini ditemukan, juga telah ditemukan banyak objek lain dengan tanda simbolik, termasuk fragmen oker yang memiliki ukuran silang yang sangat mirip. Temuan ini menunjukan bahwa Homo Sapiens pertama di wilayah Afrika ini menggunakan teknis yang berbeda untuk menghasilkan coretan yang sama pada bahan yang berbeda, yang juga mendukung hipotesa bahwa tanda-tanda ini berfungsi sebagai simbol dan modernitas budaya pada zaman mesolitikum atau zaman batu tengah.

Referensi
[1] Henshilwood, Christopher S. d’Errico, Francesco. van Niekerk, Karen L. Dayet, Laure. Queffelec, Alain. Pollarolo, Luca. 2018. An abstract drawing from the 73,000-year-old levels at Blombos Cave, South Africa. Jurnal Nature Communication. DOI: 10.1038/s41586-018-0514-3
[2] CNRS. 2018. Discovery of the earliest drawing. Diakses dari : https://www.sciencedaily.com/releases/2018/09/180912133531.htm pada tanggal 15 September 2018

[3] Joordens, Josephine C. A. D’Errico, Francesco , Wesselingh, Frank P. Munro, Stephen. De Vos, John. Wallinga, Jakob. Ankjærgaard, Christina. Reimann, Tony. Wijbrans, Jan R. Kuiper, Klaudia F. Mücher, Herman J. Coqueugniot, Hélène. Prié, Vincent. Joosten, Ineke. van Os, Bertil. Schulp, Anne S. Panuel, Michel. van der Haas,, Victoria. Lustenhouwer, Wim. G. Reijmer, John J. Roebroeks, Wil. 2014. Homo erectus at Trinil on Java used shells for tool production and engraving. Jurnal Nature Communication. DOI: 10.1038/nature13962

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *