Gunung yang Meleleh, Danau yang Meledak: Mengungkap Tragedi Lhonak 2023

Pada malam 3 Oktober 2023, langit di pegunungan Himalaya bagian timur tampak tenang. Namun, di balik ketenangan itu, sebuah bencana […]

Pada malam 3 Oktober 2023, langit di pegunungan Himalaya bagian timur tampak tenang. Namun, di balik ketenangan itu, sebuah bencana besar sedang menunggu detik-detiknya. Di negara bagian Sikkim, India, Danau South Lhonak tiba-tiba melepaskan air dalam jumlah luar biasa besar. Dalam hitungan menit, air bah meluncur deras menuruni lembah, menghancurkan jembatan, permukiman, dan tiga proyek pembangkit listrik tenaga air di jalurnya. Akibatnya, 178 orang tewas, ratusan rumah lenyap, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Banjir ini bukan sembarang banjir gunung. Ia dikenal dengan istilah GLOF (Glacial Lake Outburst Flood) banjir bandang yang terjadi ketika danau di kaki gletser mendadak jebol. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Taigang Zhang dan timnya dari Universitas Beijing menjelaskan bahwa peristiwa mematikan ini bukan hanya akibat volume air yang besar, tetapi juga karena runtuhnya lereng gletser raksasa yang memicu reaksi berantai di danau tersebut.

Baca juga artikel tentang: Danau Natron: Laboratorium Alam Ekstrem yang Membatu dan Menghidupi

Apa yang Terjadi di Malam Itu

Danau South Lhonak terletak di ketinggian lebih dari 5.200 meter di Pegunungan Himalaya bagian Sikkim. Danau ini terbentuk dari pencairan gletser yang mundur selama beberapa dekade terakhir akibat pemanasan global. Permukaannya terbendung oleh tumpukan material alami berupa tanah, batu, dan es yang disebut moraine.

Pada malam tragedi itu, bagian sisi barat danau yang terdiri dari moraine lateral (tanggul alami di sisi gletser) tiba-tiba runtuh. Menurut perhitungan ilmuwan, volume longsoran mencapai 16,75 juta meter kubik material, setara dengan sekitar 6.700 kolam renang ukuran Olimpiade. Longsoran ini menciptakan gelombang besar yang mengguncang danau, membuat air meluap melewati tanggul dan akhirnya menghancurkan dinding penahan utama.

Dalam waktu singkat, lebih dari 38 juta meter kubik air hampir setara dengan isi Waduk Manggarai mengalir turun dengan kecepatan luar biasa. Arus puncak mencapai 302.000 meter kubik per detik, jauh melebihi banjir biasa. Air bah itu melaju sejauh 169 kilometer, melintasi lembah-lembah sempit Himalaya dan membawa batu, lumpur, serta bongkahan es raksasa di jalurnya.

Mengapa Danau Ini Bisa Jebol?

Para peneliti menelusuri penyebabnya menggunakan citra satelit, pemodelan numerik, dan data geospasial yang dikumpulkan bertahun-tahun sebelum kejadian. Mereka menemukan bahwa South Lhonak Lake telah tumbuh pesat selama dua dekade terakhir akibat pencairan gletser. Antara 1990 hingga 2023, luas danau meningkat dari 1,46 menjadi 1,69 kilometer persegi, namun volume air yang tersimpan jauh lebih besar karena kedalamannya juga bertambah.

Namun, bukan hanya ukuran danau yang berbahaya. Tanggul moraine yang menahan air ternyata rapuh dan tidak stabil. Struktur alami ini tersusun dari campuran batu lepas, pasir, dan es purba yang mudah runtuh ketika terkena getaran atau curah hujan ekstrem.

Ketika sebagian besar gletser mencair, moraine kehilangan penopangnya, membuatnya lebih mudah longsor. Para peneliti menyimpulkan bahwa kombinasi antara curah hujan tinggi, suhu hangat, dan tekanan air dari dalam danau menjadi pemicu utama keruntuhan tersebut.

Dampak yang Luar Biasa

Banjir yang dihasilkan dari jebolnya South Lhonak Lake adalah salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Himalaya. Gelombang air dan material menghancurkan tiga proyek pembangkit listrik tenaga air di lembah Teesta, termasuk PLTA Teesta III yang merupakan proyek energi terbesar di Sikkim.

Ketinggian gelombang di lokasi longsoran mencapai lebih dari 16 meter, cukup untuk menyapu apa pun di jalurnya. Setelah mencapai lembah yang lebih rendah, arus memang melambat, tetapi tetap mematikan. Puluhan jembatan dan jalan utama hancur, jaringan komunikasi terputus, dan desa-desa terpencil terisolasi berhari-hari.

Para ilmuwan memperkirakan total area yang terdampak mencapai lebih dari 32 kilometer persegi. Dampak jangka panjangnya juga tidak kecil: erosi tanah, hilangnya lapisan subur di lembah pertanian, serta ancaman penyakit akibat air tercemar.

Runtuhnya morena lateral besar di Danau South Lhonak yang memicu banjir gletser besar pada tahun 2023, menyebabkan erosi saluran, kegagalan bendungan, dan kerusakan parah pada infrastruktur hilir di wilayah Sikkim, India.

Himalaya yang Meleleh dan Ancaman Baru

Kasus South Lhonak bukanlah peristiwa tunggal. Pemanasan global telah mempercepat mencairnya gletser di Himalaya, yang dikenal sebagai “menara air Asia” karena menjadi sumber sungai besar seperti Gangga, Indus, dan Brahmaputra. Saat gletser mencair, airnya terkumpul di danau-danau yang tertahan oleh tanggul es atau batu.

Menurut data terbaru, jumlah danau gletser di Himalaya telah meningkat drastis dalam 30 tahun terakhir, dan banyak di antaranya kini berukuran besar dan berisiko tinggi. Namun, ancaman GLOF sering kali tidak terdeteksi hingga terlambat.

Zhang dan timnya memperingatkan bahwa banyak sistem pemantauan bahaya di kawasan ini belum siap. Wilayah Himalaya sangat sulit dijangkau, sinyal komunikasi lemah, dan alat pemantau real-time masih terbatas. Akibatnya, penduduk di bawah lembah sering kali tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

Menemukan Pola untuk Mencegah Tragedi Berikutnya

Dalam studi ini, para ilmuwan menggunakan model bernama r.avalfow, yang mensimulasikan bagaimana longsoran dan air bah bergerak dari titik awal hingga ke lembah bawah. Mereka menghitung kecepatan longsoran sekitar 26 meter per detik, atau hampir 100 kilometer per jam, kecepatan yang cukup untuk memindahkan bongkahan batu sebesar rumah.

Model ini membantu mereka memahami dinamika peristiwa dan mengembangkan kerangka baru untuk penilaian risiko GLOF di masa depan. Dengan mensimulasikan berbagai skenario longsor dan volume air, para peneliti dapat memperkirakan daerah yang paling berisiko dan merancang sistem peringatan dini yang lebih efektif.

Pendekatan ini juga dapat membantu pemerintah merancang saluran drainase buatan atau penguatan tanggul alami, agar tekanan air di danau tidak meningkat hingga titik berbahaya.

Pelajaran dari Sikkim untuk Dunia

Tragedi South Lhonak adalah pengingat keras bahwa perubahan iklim bukan hanya statistik suhu global, tetapi juga nyata dan mematikan. Apa yang terjadi di pegunungan terpencil Sikkim dapat terjadi di mana pun terdapat gletser yang mencair dan danau yang menahan tekanan air berlebih.

Ilmu pengetahuan kini memberi kita kemampuan untuk melihat tanda-tanda bahaya lebih awal, tetapi tantangannya adalah bagaimana hasil riset ini diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dari membangun sistem peringatan berbasis satelit, hingga melibatkan masyarakat lokal dalam pemantauan, setiap langkah kecil bisa menyelamatkan nyawa.

Himalaya yang megah kini menjadi saksi betapa rapuh keseimbangan antara es, air, dan batu. Jika kita tidak belajar dari South Lhonak, maka bencana serupa mungkin hanya menunggu waktu untuk terulang, di lembah lain, di gunung lain, di dunia yang semakin panas.

Baca juga artikel tentang: Depresi Danakil, Neraka di Bumi? Danau Beracun yang Bisa Membunuh Seketika

REFERENSI:

Zhang, Taigang dkk. 2025. A massive lateral moraine collapse triggered the 2023 South Lhonak Lake outburst flood, Sikkim Himalayas. Landslides 22 (2), 299-311.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top