Membaca Ketimpangan Risiko: Cerita Kelompok Disabilitas di Tengah Bencana Alam

Bencana alam terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena seperti badai besar, banjir, kebakaran hutan, dan gelombang panas terjadi lebih […]

Bencana alam terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena seperti badai besar, banjir, kebakaran hutan, dan gelombang panas terjadi lebih sering dan lebih ekstrem. Masyarakat global semakin sadar bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan tetapi kenyataan sehari hari. Namun kenyataan ini tidak berdampak sama untuk semua orang. Sebagian kelompok masyarakat menanggung beban jauh lebih besar dibandingkan kelompok lain, terutama penyandang disabilitas.

Sebuah penelitian terbaru dalam Disability and Health Journal edisi 2025 memberikan gambaran nyata tentang bagaimana penyandang disabilitas menghadapi risiko yang lebih tinggi selama dan setelah bencana alam. Peneliti Danielle Xiaodan Morales memanfaatkan data dari Household Pulse Survey tahun 2024, sebuah survei nasional di Amerika Serikat yang mengumpulkan informasi cepat mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mengalami kerentanan yang bersifat multidimensi dan sering kali tidak terlihat oleh kebijakan umum.

Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat

Bencana alam biasanya memengaruhi komunitas melalui tiga cara utama yaitu ancaman langsung terhadap keselamatan, gangguan pada kehidupan sehari hari, dan tekanan mental yang berlangsung lama. Ketiga bentuk dampak ini jauh lebih berat bagi penyandang disabilitas dibandingkan bagi kelompok tanpa hambatan fisik atau mental. Banyak penyandang disabilitas memerlukan dukungan rutin, perawatan medis, peralatan khusus, atau bantuan mobilitas. Saat terjadi bencana, akses terhadap semua kebutuhan ini dapat hilang dalam hitungan menit.

Survei menunjukkan bahwa penyandang disabilitas lebih sering mengalami perpindahan mendadak dari rumah mereka setelah bencana. Migrasi yang dipicu oleh bencana biasanya tidak terjadi secara terencana dan sering menempatkan individu dalam lingkungan yang tidak familiar. Pengungsi yang memiliki hambatan penglihatan, hambatan mobilitas, atau hambatan intelektual menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dalam menavigasi lokasi baru. Fasilitas pengungsian sering kali tidak sepenuhnya ramah disabilitas, sehingga kebutuhan dasar seperti kamar mandi, tempat tidur, hingga akses layanan kesehatan menjadi persoalan besar.

Ketika bencana memaksa orang untuk meninggalkan rumah mereka, kondisi mental mereka akan terpengaruh. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyandang disabilitas jauh lebih rentan mengalami tekanan psikologis dan penurunan kesehatan mental setelah bencana. Ketidakpastian jangka panjang mengenai tempat tinggal, kehilangan dukungan sosial, dan kecemasan mengenai akses perawatan kesehatan menjadi beban tambahan yang sulit dihadapi. Banyak penyandang disabilitas yang mengalami peningkatan gejala kecemasan dan depresi setelah bencana.

Hasil penelitian juga menyoroti bahwa penyandang disabilitas sering menerima dampak ekonomi yang lebih berat. Banyak dari mereka bekerja di sektor dengan keamanan kerja rendah atau bergantung pada bantuan pemerintah. Saat bencana merusak infrastruktur, menghentikan layanan sosial, dan mengganggu ekonomi lokal, kelompok ini sering kehilangan pendapatan lebih cepat dibandingkan kelompok lainnya. Mereka juga menghadapi hambatan besar untuk kembali bekerja karena keterbatasan akses transportasi dan fasilitas kerja.

Pengamatan yang diperoleh dari Household Pulse Survey memberikan pesan penting bagi para pembuat kebijakan. Selama ini banyak strategi penanggulangan bencana berfokus pada respons umum yang menargetkan seluruh populasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan khusus penyandang disabilitas. Pendekatan seperti ini meninggalkan kesenjangan besar dalam perlindungan sosial. Kebijakan yang tidak memasukkan perspektif disabilitas akan menghasilkan sistem yang tidak adil dan berpotensi membahayakan jutaan orang.

Negara dan pemerintah daerah perlu melihat bencana alam melalui lensa inklusi. Penyandang disabilitas harus masuk dalam perencanaan sejak awal. Perencanaan darurat perlu menyesuaikan mekanisme evakuasi, transportasi, dan akses terhadap tempat pengungsian agar sesuai bagi semua kelompok masyarakat. Fasilitas evakuasi juga harus dirancang agar bisa diakses oleh pengguna kursi roda, penyandang hambatan penglihatan, dan mereka yang memerlukan bantuan medis. Informasi kebencanaan juga harus tersedia dalam berbagai format termasuk bahasa isyarat dan audio.

Penelitian ini menekankan bahwa meningkatkan ketangguhan penyandang disabilitas bukan hanya masalah teknis tetapi juga masalah sosial. Komunitas yang inklusif akan memberikan lingkungan yang lebih aman bagi semua orang. Pemerintah perlu mendorong kesadaran publik mengenai kebutuhan penyandang disabilitas selama bencana dan melibatkan organisasi masyarakat dalam memetakan kelompok yang paling rentan. Kolaborasi lintas sektor dapat memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal saat bencana terjadi.

Satu temuan penting dari penelitian ini adalah perlunya pendekatan personal dalam pemulihan pascabencana. Penyandang disabilitas memiliki kebutuhan yang sangat bervariasi. Tidak ada satu bentuk bantuan yang cocok untuk semua. Bantuan yang efektif bisa berupa pelayanan kesehatan mental yang diperluas, penyediaan tempat tinggal sementara yang ramah disabilitas, atau akses cepat terhadap peralatan medis. Pemerintah juga perlu menciptakan sistem pendataan yang lebih baik agar kebutuhan penyandang disabilitas dapat teridentifikasi sebelum bencana datang.

Penelitian ini memberikan dorongan kuat bagi negara negara untuk mengembangkan kebijakan adaptif yang dapat mengurangi risiko bencana bagi kelompok paling rentan. Dalam konteks perubahan iklim, frekuensi bencana akan terus meningkat sehingga urgensi kebijakan inklusi semakin besar. Dunia menghadapi masa depan dengan ketidakpastian yang tinggi tetapi masyarakat memiliki kesempatan untuk menciptakan sistem perlindungan yang lebih manusiawi.

Bencana alam dapat menguji ketangguhan sebuah komunitas. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa ketangguhan tersebut tidak merata. Penyandang disabilitas berada pada garis depan risiko dan sering kali menghadapi dampak yang jauh lebih berat. Menyadari kenyataan ini merupakan langkah awal menuju perubahan. Upaya selanjutnya adalah memastikan bahwa sistem penanggulangan bencana dibangun dengan mempertimbangkan semua warga. Ketika kebijakan inklusif diterapkan, masyarakat tidak hanya lebih siap tetapi juga lebih adil dan lebih kuat menghadapi bencana yang mungkin datang.

Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global

REFERENSI:

Morales, Danielle Xiaodan. 2025. Natural disaster vulnerability among people with disabilities: Insights from the 2024 Household Pulse Survey. Disability and Health Journal 18 (2), 101763.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top