Insecure dan Berbagai Dampak Kesehatan Mental serta Upaya Mengatasi melalui Self Awareness

            Tak asing lagi di telinga kita saat ini dengan kata “insecure”. Lantas apakah kita semua paham mengenai insecure ini? Seberapa sering kita mengalami insecure? Mungkin banyak diantara kita semua yang saat ini sering merasakan insecure.

          Insecurity dalam bahasa inggris artinya “ketidakamanan” adalah suatu perasaan tidak aman dalam diri seorang individu yang dapat terjadi pada semua orang, perasaan ini merupakan wujud dari kekhawatiran seseorang, perasaan malu, dan tidak percaya diri. Saat orang hidup dalam perasaan tidak aman ini, maka cenderung akan merasa ketakutan. Berbagai alasan dapat menyebabkan perasaan ini muncul salah satunya adalah dengan menilai rendah diri sendiri. Contoh : ketika kita tidak percaya diri dengan bentuk fisik ataupun kemampuan dalam diri kita maka akan muncul rasa ketidakamanan yang dapat menyebabkan kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

            Sering atau pernah menjumpai beberapa anak didik kita yang memiliki karakter seperti pencemas, penakut, perasaan rendah diri dan pemalu. Oleh para profesional perilaku-perilaku tersebut sering disebut sebagai jenis perilaku “neurotik” atau insecure (perasaan tidak aman). Insecure, atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Rasa insecure inilah yang pada akhirnya, memicu anak untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Dengan kata lain, kita berusaha menutupi sisi lain itu dengan melakukan sesuatu yang menurut kita, bisa membuat kita tampak hebat di mata orang lain [1].

            Apabila seseorang tidak mampu keluar dari zona perasaan tidak aman ini dan semakin larut secara berlebihan maka akan memicu gangguan kesehatan mental. Gangguan dari kesehatan mental seperti rasa tidak percaya diri juga akan berimbas pada berbagai hal dalam kehidupannya, seperti prestasi, sikap sosial, komunikasi dan sebagainya seperti yang diungkapkan Oleh Stankov et al (2014) Dampak akademik rendahnya percaya diri siswa meliputi menurunnya performa akademik, motivasi berprestasi, dan performa akademik [2].  

            Dampak non-akademik terkait rendahnya percaya diri siswa meliputi meningkatnya kecemasan dalam melakukan komunikasi interpersonal dan berbicara di depan umum. Pertama, tingkat percaya diri yang rendah juga memiliki dampak pada kecemasan siswa dalam melakukan komunikasi interpersonal [3]

            Dalam penelitian Wahyuni (2014) Kepercayaan diri memberikan sumbangan efektif sebesar 52,6% terhadap kecemasan komunikasi interpersonal, sementara sisanya 47,4% ditentukan oleh faktor lain di luar kepercayaan diri, seperti keterampilan berkomunikasi, situasi, pengalaman kegagalan atau kesuksesan dalam komunikasi interpersonal, dan predisposisi genetik. Kedua, percaya diri memiliki korelasi dengan kecemasan berbicara di depan umum. Individu yang memiliki percaya diri rendah akan berdampak pada semakin cemasnya individu dalam berbicara di depan umum. Sebaliknya, jika individu semakin percaya diri, maka akan berdampak pada semakin rendahnya kecemasan seseorang berbicara di depan umum. Ketiga, body image siswa juga akan terpengaruh, hal ini dikarenakan percaya diri punya hubungan yang signifikan dengan body image [2].

            Rakhmat (1986) mengatakan bila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan gagasannya pada orang yang dihormatinya dan takut berbicara didepan umum karena takut orang lain menyalahkannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Heider (1958), bahwa kemampuan seseorang, termasuk kemampuan komunikasi, tidak hanya ditentukan oleh masalah fisik & ketrampilan saja, tetapi juga dipengaruhi oleh kepercayaan diri [3].

            Karena tak dapat dipungkiri bahwa perasaan seperti ini dapat menghampiri setiap orang, namun bagaimana kita menyikapinya adalah suatu hal yang sangat penting. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa disetiap diri kita memiliki berbagai potensi yang patut untuk dikembangkan lebih jauh lagi, agar kita tidak larut dalam perasaan dan pemikiran negatif seperti insecure. Oleh karena itu kesadaran dalam diri (Self-Awareness) mengenai potensi dalam diri (bakat) yang dimiliki sangat penting untuk dipahami oleh setiap orang.

            Self-Awareness yang dalam bahasa Indonesia adalah kesadaran diri ialah kesadaran seseorang yang mampu memahami, menerima, dan mengelola seluruh potensi dalam diri untuk pengembangan hidup di masa depan. Menurut Mayers (2012) menyatakan bahwa self-awareness adalah perhatian yang terus menerus terhadap keadaan batin individu [4].  Bagi seorang individu, kesadaran diri berfungsi untuk mengendalikan seluruh emosi agar dapat dimanfaatkan dalam menjalin relasi sosial dengan orang lain. Ia harus mampu mengendalikan diri dari sifat-sifat emosi negatif, dan lebih menonjolkan hal-hal yang positif sehingga tidak menganggu hubungan sosial dengan orang lain. Selain itu, kesadaran diri juga berfungsi untuk mengendalikan diri dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, agar ia berhasil mengatasi masalah (coping skill) [5].

            Latihan kesadaran diri adalah latihan sepanjang hayat dan tidak pernah ada batas akhirnya. Sepertinya belum pernah ada bahwa individu telah mencapai titik kesadaran. Kesadaran diri termasuk ke dalam ranah afektif, namun untuk mewujudkannya berkaitan dengan ranah kognitif dan psikomotorik [6].

            Berdasarkan penjelasan di atas maka kesadaran diri bukanlah suatu tujuan, melainkan suatu proses yang muncul di mana seseorang secara berkesinambungan memahami bakat uniknya, kekuatannya, memiliki tujuan, nilai-nilai inti, kepercayaan dan keinginan.

            Pada masa remaja, perubahan sering terjadi biasanya disebabkan oleh kemajuan teknologi, pengaruh lingkungan sekitar atau peserta didik merasa tidak menjadi diri sendiri, sehingga peserta didik tidak memiliki self awareness. Kesadaran diri membantu peserta didik untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri dan menyadari bahwa tingkah laku dikendalikan oleh pikiran sendiri.

            Self awareness sebagai konsep diri sangat penting artinya, karena individu dapat memandang dirinya dan dunianya, yang tidak hanya berpengaruh terhadap perilakunya, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya. Individu yang memiliki self awareness positif akan memiliki dorongan mandiri lebih baik dan dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri untuk dapat berprilaku efektif da-lam berbagai situasi. Dalam hal ini individu dapat menerima dirinya apa adanya dan mampu melakukan intropeksi diri serta lebih mengenal dirinya. Jika individu tidak memiliki kesadaran diri untuk mengenal dirinya sendiri, maka individu tersebut tentunya tidak memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan keputusannya. Individu yang memiliki kesadaran diri atau self awareness negatif tidak akan memiliki kestabilan dan keutuhan diri, serta tidak dapat mengenal dirinya dengan baik [7].

            Berdasarkan pemahaman diatas, bahwa self awareness bukanlah merupakan sebuah tujuan, melainkan sebuah proses dalam pembelajaran, penting bagi kita semua untuk merenungi, memahami, dan melatih kesadaran dalam diri kita. Terlebih lagi sebagai orangtua ataupun pendidik sangatlah penting memahami kemampuan anak-anak mereka, jangan terlalu memaksakan kehendak sendiri yang dapat membuat anak-anak tidak dapat menerima semuanya dan akibatnya mereka dikatakan gagal dalam sebuah pembelajaran. Memahami berbagai potensi yang ada dalam diri, menemukan sesuatu yang menarik dan terlebih lagi mengasah potensi lebih tajam lagi. Karena kita semua terlahir dengan keunikan tersendiri berbeda dari yang lainnya.  

           “I have no special talent. I am only passionately curious. Albert Einsten-         

REFERENSI :         

[1] Mu’awwanah, Uyu. (2017). PERILAKU INSECURE PADA ANAK USIA DINI. aṣ-ṣibyān: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2(01), 47-58.

[2] Saputra, W. N. E., & Prasetiawan, H. (2018). Meningkatkan Percaya Diri Siswa melalui Teknik Cognitive Defusion. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 3(1), 14-21.

[3] Siska, Sudardjo, & Purnamaningsih, E. H. (2003). Kepercayaan Diri dan Kecemasan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi, 30(2), 67–71.

[4] Putri, E. T., Tazkiyah, A. Y., & Amelia, R. (2019). Self-awareness training untuk menghadapi fenomena pernikahan dini. PLAKAT (Pelayanan Kepada Masyarakat), 1(1), 48-57.

[5] Dariyo, Agoes. (2016). Peran Self-Awareness dan Ego Support terhadap Kepuasan Hidup Remaja Tionghoa. PSIKODIMENSIA, 15(2), 254-274.

[6] Fluerentin, Elia. (2012). Latihan Kesadaran Diri (self awareness) dan kaitannya dengan penumbuhan karakter. Jurnal Inspirasi Pendidikan, 1(1), 9-18.

[7] Sari, N. L., Rosra, M., & Mayasari, S. (2019). Penggunaan Konseling Gestalt Untuk Meningkatkan Self Awareness Siswa. ALIBKIN (Jurnal Bimbingan Konseling), 7(1), 1-15.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *