Pola Asuh di Era Digital – Mendidik Generasi yang Siap dan Kristis di Era dDgital

Keluarga adalah tempat pendidikan awal dan mendasar bagi seorang anak, sebelum seorang anak sungguh-sungguh memasuki lingkungan pendidikan seperti halnya formal. Namun, dalam setiap era perubahan, termasuk juga peran orang tua ikut Juga mengalami perubahan. Apalagi, anak yang hidup di era teknologi digital pasti berbeda hidup di zaman era 80-an, sehingga pendidikan yang di berikan kepada orang tua kepada anaknya ikut juga mengalami perbedaan.

Pada umumnya, setiap populasi generasi yang muncul dalam kurun waktu setiap 15-18 tahun terakhir memiliki karakteristik demografik yang berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya. Pengelompokan karakteristik tiap generasi ini disebut sebagai cohort (Santosa, 2015:19).

Berbagai bentuk tindakan atau pola asuh orang tua (parenting) yang positif dan efektif bertujuan untuk membentuk karakter anak supaya anak mengalami atmosfer kehidupan yang menyenangkan. Anak-anak perlu diproteksi sejak dari keluarga dengan hal-hal yang positif, baik dan benar supaya dapat berkembang baik dalam kehidupan selanjutnya serta mampu mengendalikan diri berhadapan dengan pengaruhpengaruh yang destruktif dari era digital. Keluarga sebagai salah satu trisentra pendidikan merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi pembentukan karakter anak.

Keluarga sebagai locus atau tempat pembentukan karakter anak perlu mengembangkan pola asuh atau pola interaksi yang edukatif dan efektif. Pola asuh antara orang tua dengan anak terwujud dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan psikoligis anak. Selain itu, pola asuh tersebut dapat diimplementasikan dalam bentuk sosialisasi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat supaya anak-anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Pola asuh anak dalam keluarga mencakup empat (4) kategori, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif, pola asuh yang kurang memiliki tuntutan terhadap anak dan kurang responsive terhadap kebutuhan anak (orang uninvolved), pola asuh demokratis dan authoritative. Orang tua yang hebat harus terlibat dalam mendidik anak dengan mengimplementasikan pola asuh yang arif, positif, efektif, konstruktif dan transformatif.

Orang tua harus mendidik anak bukan dengan paksaan, tetapi dibujuk, diberi kebebasan tetapi tetap dengan suatu kontrol supaya pertumbuhan dan perkembangan anak tetap terkendali dengan baik. Pola asuh orang tua seperti ini menjadi semakin mendesak terutama di era digital saat ini. Pola asuh yang efektif di era digital adalah pola asuh authoritative dan demokratis. Kedua pola asuh ini tidak mensteril anak dari pengaruh era digital, tetapi berupaya menguatkan anak agar bersikap kritis terhadap pengaruh-pengaruh positif dan negatif era digital. Selain itu, orang tua harus mampu memahami ragam aplikasi yang mendidik dan memandu anak supaya anak menggunakannya untuk tujuan
yang baik dan positif.

Orang tua harus mengawasi atau menuntun anak dalam menggunakan media informasi tersebut supaya tidak menyimpang dari nilai-nilai pendidikan yang sebenarnya. Orang tua yang peduli terhadap anak berarti
orang tua yang terlibat dalam seluruh dimensi pembentukan seorang anak. Artinya, orang tuatidak hanya piawai dan paham segala macam hal dan istilah teknis dari perangkat dan media digital yang akan dibeli atau telah digunakan anak. Akan tetapi, selama anak masih tergantung kepada orang tua, maka orang tua wajib mengetahui, bukan membatasi, untuk apa dan bagaimana perangkat dan media digital digunakan anak.Orang tua sebaiknya memahami bahwa perangkat dan media digital adalah teknologi yang bak pisau bermata dua. Dalam arti bahwa apabila media tersebut salah digunakan, maka bisa mencelakai penggunanya.

Semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan, semakin “tajam pisaunya”-nya. Oleh karena itu, orang tua harus menunjukkan tanggung jawab yang ekstra dalam membimbing dan menuntun anak-anak dalam menggunakan perangkat dan media digital. Orang tua tidak boleh menyerahkan keputusan menggunakan perangkat dan media digital sepenuhnya kepada anak. Perilaku berkomunikasi internal keluarga dan peran orang tua adalah faktor dominan dan penentu untuk melindungi anak dan keluarga dari penggunaan perangkat digital dan paparan media digital. Kemenangan atau keberhasilan seorang anak dalam proses pendidikan pada tahap selanjutnya justru sangat ditentukan oleh proses pendidikan di tengah keluarga.“Berikanlah anak-anak kita akar yang kuat untuk tumbuh dan sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari”,kata Ramsey. Di sinilah, keluarga harus menjadi basis pertama dan utama dalam membentuk anak sebagai generasi yang siap dan kristis menghadapi pengaruh era digital zaman ini dan bukan menjadi generasi yang hilang (the lost generation) karena pengaruh-pengaruh negatif media digital yang cenderung destruktif.

Referensi:

[1] http://unikastpaulus.ac.id/jurnal/index.php/jpkm/article/view/166#:~:text=Pola%20asuh%20yang%20dilakukan%20orang,kebutuhan%20fisik%20dan%20psikologis%20anak.&text=Pola%20asuh%20yang%20dibutuhkan%20pada,pengaruh%20negative%20dari%20era%20digital. diakses pada 12 Desember 2020. diakses pada 3 Januari 2021

[2] https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bunayya/article/view/6386 diakses pada 12 Desember 2020

[3] https://jateng.tribunnews.com/2016/04/12/forum-guru-peran-pendidikan-keluarga-di-era-digital diakses pada 12 Desember 2020.

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar