Kopi dan 5 Faedahnya (Bahkan Menurunkan Risiko Kematian)

blank

Kopi merupakan minuman favorit dan salah satu minuman berkafein yang paling populer di dunia (Lire Wachamo, 2017). Saat ini lebih dari 70 negara menanam kopi. Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia (Syarifudin, 2019).

Kopi mengandung bahan kimia seperti karbohidrat, lipid, senyawa nitrogen, vitamin, mineral, alkaloid dan senyawa fenolik (Lire Wachamo, 2017). Namun kandungan yang paling terkenal adalah kafein. Kafein, zat aktif yang menjadi salah satu alasan untuk konsumsi kopi. Orang menggunakan kafein untuk tetap terjaga, waspada, dan berenergi (Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti, 2020). Lalu apakah baik bersahabat dengan kopi ?

Konsumsi kopi tentu akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Konsumsi minuman ini secara umum aman jika tingkat asupan masih wajar, dengan perkiraan 3-4 cangkir sehari dapat mengurangi risiko masalah kesehatan (Poole et al., 2017). Kandungan kafein dalam kopi bervariasi mulai dari 58-259 mg kafein per cangkir kopi (Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti, 2020). Namun tetap saja, mengkonsumsi kopi memiliki efek positif dan negatif pada kesehatan seperti risiko kardiovaskular (Lire Wachamo, 2017).

blank

Secara umum banyak penelitian menyimpulkan bahwa konsumsi kopi memiliki manfaat kesehatan (Lire Wachamo, 2017). Beberapa efek umum menurut FDA adalah sulit tidur, gelisah, palpitasi, peningkatan frekuensi detak jantung, peningkatan tekanan darah, dehidrasi, sering buang air kecil, sakit perut, sakit kepala dan pusing (Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti, 2020). Meskipun begitu, banyak jurnal penelitian yang membuktikan manfaat minuman ini untuk kesehatan. Agar lebih spesifik lagi, penulis akan membahas tentang dampak konsumsi kopi pada kasus kematian, penyakit kardiovaskular, kanker, metabolisme, dan persarafan.

blank
Pro dan Kontra Tentang Kopi

1. Kasus Kematian dan Kopi

Konsumsi kopi berhubungan dengan kasus kematian yang lebih rendah. Kategori paparan tertinggi (tujuh cangkir sehari) dengan risiko 10% lebih rendah dari semua penyebab kematian. Namun pengurangan risiko kematian relatif terbesar dengan mengkonsumsi tiga cangkir sehari dibandingkan tanpa konsumsi. Sedangkan konsumsi satu cangkir tambahan berhubungan dengan risiko 4% lebih rendah dari semua penyebab kematian (Poole et al., 2017). Bahkan studi di Jepang menemukan bahwa kebiasaan mengkonsumsi kopi berkaitan dengan risiko kematian total yang lebih rendah dengan kematian akibat penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, dan penyakit pernapasan (Nohara-Shitama et al., 2019).

Tidak hanya itu, Journal Of The Indonesian Medical Association menyatakan bahwa konsumsi kopi dan kematian pada pasien infark miokard memiliki hubungan terbalik. Maka semakin tinggi konsumsi, risiko kematian pada pasien infark miokard akan berkurang (infark miokard adalah salah satu penyakit jantung). Pengurangan risiko tertinggi ditemukan pada peminum berat (Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti, 2020). Hal ini dapat terjadi karena minuman ini dapat meningkatkan detak jantung. Meningkatnya detak jantung diketahui menjadi prediktor penting kematian, terutama pada penyakit kardiovaskular (Nohara-Shitama et al., 2019).

2. Kardiovaskular (Jantung dan Pembuluh Darah) dan Kopi

Konsumsi kopi secara konsisten berhubungan dengan penurunan risiko kematian akibat semua kasus penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, dan stroke. Pada penelitian lain, konsumsi arabika kopi Ethiopia secara signifikan mempengaruhi sebagian besar kadar lipid serum sehingga dapat melindungi dari risiko penyakit kardiovaskular (Poole et al., 2017).

Estimasi indikasi pengurangan terbesar dalam risiko relatif pada konsumsi 3 cangkir perhari. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi kopi, risiko berkurang sebesar 19% untuk kematian akibat penyakit kardiovaskular. Penurunan risiko sebesar 16% dari penyakit jantung koroner, dan 30% penurunan risiko kematian dari stroke (Poole et al., 2017). Bahkan Journal Of The Indonesian Medical Association merekomendasikan untuk konsumsi 1-4 cangkir sehari pada pasien setelah infark miokard akut. Apalagi jika pasien sudah menjadi peminum kopi jangka panjang (Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti, 2020). Tetapi di sisi lain, konsumsi juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserid (Poole et al., 2017).

3. Kanker

Insiden kanker lebih rendah pada konsumsi kopi yang tinggi daripada konsumsi yang rendah. Sementara itu, pada non-perokok ada risiko kematian 2% lebih rendah dari kanker untuk paparan satu cangkir tambahan sehari. Sebaliknya, pada perokok menurut hasil analisis non-linear, risiko kematian akibat kanker meningkat pada semua level dosis kopi, serta mencapai signifikansi di atas empat cangkir sehari. Data lain juga menunjukkan bahwa konsumsi tinggi jika dibandingkan dengan konsumsi rendah akan menurunkan risiko kanker prostat, endometrial, melanoma, dan kanker liver. Konsumsi kopi juga dapat menurunkan risiko sirosis (pengerasan hati) dibandingkan dengan konsumsi yang rendah. Tambahan satu cangkir perhari secara signifikan dapat menurunkan risiko kematian akibat sirosis hati (Poole et al., 2017).

blank

4. Metabolisme

Konsumsi kopi secara konsisten berhubungan dengan penurunan kejadian diabetes tipe 2 yang lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi rendah. Untuk sindrom metabolik tinggi versus konsumsi kopi rendah berkaitan dengan risiko 9% lebih rendah. Pada konsumsi yang tinggi juga menunjukkan risiko batu ginjal dan asam urat yang lebih rendah (Poole et al., 2017). Studi menunjukkan bahwa konsumsi kopi (2–3 cangkir/hari) berkaitan dengan pengurangan risiko sindrom metabolik, obesitas dan diabetes tipe 2. Selain itu, kopi juga terbukti memiliki efek menurunkan lemak pada manusia yang terkait dengan pengurangan lipogenesis (Farias-Pereira, Park and Park, 2019).

5. Persarafan

Konsumsi kopi berhubungan dengan risiko yang lebih rendah terkena penyakit Parkinson. Kopi dekafeinasi berhubungan dengan risiko Parkinson yang lebih rendah namun tidak terdapat signifikansi (tidak terbukti secara statistik). Mengkonsumsi juga dapat menurunkan depresi, gangguan kognitif, terutama pada penyakit Alzheimer (Poole et al., 2017). Peran potensial senyawa quercetin dalam regenerasi saraf dan aksonal serta aktivasi astrosit, selama cedera sumsum tulang belakang yang merupakan lesi sistim saraf pusat umum (Wang et al. 2018 dalam Farias-Pereira, Park and Park, 2019). Molekul ini mengurangi imunoreaktivitas neuron yang merosot dan mendukung pemulihan fungsi neuronal, aksonal dan elektrofisiologis melalui penghambatan respon inflamasi dan jalur sinyal JAK2/STAT3, yang terlibat dalam cedera tulang belakang (Farias-Pereira, Park and Park, 2019). untuk lebih banyak tentang manfaat kopi pada persarafan, silahkan baca artikel ini.

Paradigma Kritis dan Saran Penulis

Kita harus mengkritisi segala informasi namun penulis akan membahas lebih dalam di lain artikel. Hati-hati pada konsumsi minuman ini jika terlalu banyak menggunakan gula karena justru menambah risiko pada penyakit diabetes. Selain itu, konsumsi minuman populer ini kadang dapat meningkatkan keasaman lambung sehingga dapat menyebabkan penyakit asam lambung. Di lain sisi, konsumsi minuman berkafein ini juga kadang dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. benarkah hal tersebut ?. Jika anda juga mengetahui hal lain tentang minuman ini dan kaitannya dengan kesehatan, bisa anda sampaikan di kolom komentar dan salah satu akan saya bahas pada artikel saya selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Farias-Pereira, R., Park, C. S. and Park, Y. (2019) ‘Mechanisms of action of coffee bioactive components on lipid metabolism’, Food Science and Biotechnology, 28(5), pp. 1287–1296. doi: 10.1007/s10068-019-00662-0.
  • Kenneth Johan, Rahmat Cahyanur and Resultanti (2020) ‘Coffee Consumption Reduces Mortality in Patients with Acute Myocardial Infarction’, Journal Of The Indonesian Medical Association, 70(2), pp. 10–15. doi: 10.47830/jinma-vol.70.2-2020-172.
  • Lire Wachamo, H. (2017) ‘Review on Health Benefit and Risk of Coffee Consumption’, Medicinal & Aromatic Plants, 06(04). doi: 10.4172/2167-0412.1000301.
  • Nohara-Shitama, Y. et al. (2019) ‘Habitual coffee intake reduces all-cause mortality by decreasing heart rate’, Heart and Vessels, 34(11), pp. 1823–1829. doi: 10.1007/s00380-019-01422-0.
  • Poole, R. et al. (2017) ‘Coffee consumption and health: umbrella review of meta-analyses of multiple health outcomes’, BMJ (Clinical research ed.), 359, p. j5024. doi: 10.1136/bmj.j5024.
  • Syarifudin, O. (2019) Kopi Kita Untuk Dunia, kemenperin. Available at: https://www.kemenperin.go.id/artikel/20330/Kopi-Kita-untuk-Dunia.
Diki Maulana Rochman
Latest posts by Diki Maulana Rochman (see all)
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar