Bekantan (Nasalis larvatus) adalah primata endemik Kalimantan yang tergolong dalam famili Cercopithecidae dan subfamili Colobinae. Satwa ini dikenal dengan ciri khas hidung besar yang dimiliki oleh jantan dewasa, yang menjadi logo salah satu wahana bermain ternama di Indonesia. Bekantan hidup di berbagai ekosistem seperti hutan mangrove, rawa gambut, hutan tepi sungai, dan hutan rawa air tawar. Sayangnya, populasi bekantan terus mengalami penurunan akibat degradasi habitat dan aktivitas manusia.
Primata ini telah ditetapkan sebagai satwa identitas Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 29 Tahun 1990. Berdasarkan Red List IUCN 2020, bekantan dikategorikan sebagai satwa yang terancam punah (endangered), serta dilindungi oleh peraturan pemerintah Indonesia.
Habitat di Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan, hewan ini tersebar di berbagai lokasi konservasi maupun di luar kawasan konservasi. Adaun beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat bekantan antara lain:
- Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut dengan populasi sekitar 74 individu,
- Cagar Alam (CA) Pulau Kaget yang memiliki sekitar 30 individu,
- Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak dengan populasi terbesar sekitar 170 individu,
- TWA Pulau Kembang dengan populasi 21 individu.
Meskipun demikian, populasi bekantan di luar kawasan konservasi juga cukup besar, seperti di areal penggunaan lain (APL) yang meliputi kebun, bekas ladang, serta daerah permukiman.
Kehidupan Bekantan di Habitat Alami
Bekantan adalah primata diurnal yang aktif pada siang hari dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan, beristirahat, dan bergerak. Adapun pembagian proporsi aktivitas sehari-hari pada bekantan dapat digambarkan sebagai berikut.
- Makan (31,1%),
- Bergerak (14,3%),
- Istirahat (52,13%),
- Aktivitas sosial (2,5%).
Makanan utama mereka berupa daun muda (89,4%), bunga (6,82%), dan buah-buahan tertentu (3,78%). Struktur pencernaan bekantan yang khas membuat mereka lebih bergantung pada daun sebagai sumber nutrisi utama. Beberapa tanaman favorit mereka meliputi pulantan, kelakai, tamparah, perupuk, dan paku-pakuan. Aktivitas sosial hewan ini tergolong rendah, dengan interaksi utama berupa menyelisik atau saling membersihkan tubuh dari parasit.
Pergerakan Bekantan
Salah satu aspek menarik dari bekantan adalah sistem lokomotornya yang berkembang untuk beradaptasi dengan tekanan lingkungan. Bekantan memiliki indeks intermembral sekitar 90, yang menunjukkan bahwa panjang lengan mereka sekitar 90% dari panjang kaki. Indeks ini menunjukkan bahwa bekantan memiliki gaya berjalan quadrupedal terrestrial, meskipun dalam habitat alaminya mereka lebih banyak bergerak di atas pohon (arboreal).
Studi menunjukkan bahwa pergerakan arboreal pada hewan ini lebih dominan di habitat yang masih terjaga dengan baik, dimana kanopi hutan cukup untuk menopang aktivitas mereka. Sebaliknya, di area terbuka yang telah mengalami gangguan, bekantan lebih sering berjalan di tanah. Kemampuan mereka untuk bergerak baik di atas pohon maupun di tanah menjadikan mereka sebagai primata yang sangat adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Bekantan memiliki tangan dan kaki yang besar serta kuat, yang membantu mereka dalam berenang dengan baik, terutama di habitat pasang surut dan sungai. Hidung besar pada bekantan jantan tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan saat berenang, tetapi juga sebagai alat komunikasi sosial dan penanda status seksual.
Baca juga: https://warstek.com/hewan-mangrove/
Penelitian menunjukkan bahwa bekantan lebih sering menggunakan kaki belakang mereka untuk mendorong pergerakan ke depan, baik saat berjalan quadrupedal di tanah maupun saat melompat di pohon. Bekantan jarang menggunakan gaya berjalan bipedal, yang menunjukkan bahwa mereka lebih bergantung pada anggota tubuh belakang untuk mobilitas.
Dalam pengamatan terhadap pergerakan bekantan, ditemukan bahwa primata ini lebih memilih berjalan di tanah di area yang telah terdegradasi akibat aktivitas manusia, seperti pertanian dan pemukiman. Namun, di habitat yang masih alami, mereka tetap mengandalkan pergerakan di atas pohon untuk mencari makan dan berlindung dari predator.
Pergerakan bekantan sangat bergantung pada kondisi habitatnya. Konservasi habitat hutan riparian dan mangrove sangat penting untuk mempertahankan pola pergerakan alami bekantan. Dengan mempertahankan habitatnya, kita dapat memastikan kelangsungan hidup primata ini dan menjaga keseimbangan ekosistem dimana mereka berada.
Ancaman Terhadap Kelestarian Bekantan
Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup bekantan adalah konversi lahan, degradasi habitat akibat aktivitas manusia, serta perburuan liar. Deforestasi yang cepat, terutama di kawasan hutan riparian, menyebabkan bekantan kehilangan habitat dan sumber pakan alaminya. Selain itu, habitat yang semakin terfragmentasi menyebabkan populasi mereka terisolasi dalam kelompok-kelompok kecil yang rentan terhadap kepunahan lokal.
Upaya Konservasi
Upaya konservasi bekantan di Kalimantan Selatan menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga memiliki peluang besar jika dikelola dengan baik. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pengembangan ekowisata berbasis bekantan. Program ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi bekantan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal. Ekowisata yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat melalui penyediaan jasa transportasi, penginapan, dan penjualan cendera mata.

Sumber: canva.com
Restorasi habitat juga menjadi langkah penting dalam upaya konservasi. Penanaman kembali jenis tanaman yang menjadi sumber pakan bekantan, seperti pulantan dan paku-pakuan, perlu dilakukan untuk mendukung keberlanjutan populasi. Selain itu, penguatan payung hukum melalui regulasi daerah yang melindungi habitat mereka sangat penting untuk memastikan kelestarian spesies ini di masa mendatang.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian bekantan juga perlu dilakukan melalui berbagai kampanye edukasi dan sosialisasi. Program penyuluhan ke sekolah-sekolah dan desa-desa sekitar habitat bekantan dapat menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi satwa ini.
Sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia, bekantan memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Oleh karena itu, pelestariannya harus menjadi prioritas bagi semua pihak, baik pemerintah, akademisi, masyarakat, maupun sektor swasta. Dengan upaya konservasi yang berkelanjutan, diharapkan bekantan dapat tetap lestari di habitat alaminya serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan manusia.
Referensi
Iskandar, S, & Karlina, E. (2023). Tantangan dan peluang konservasi bekantan di Kalimantan Selatan. Dalam T. Atmoko, & H. Gunawan (Ed.), Mengenal lebih dekat satwa langka Indonesia dan memahami pelestariannya (185–197). Penerbit BRIN. DOI: 10.55981/brin.602.c627, E-ISBN: 978-623-8372-15-7. Diakses pada 24 Januari 2025 dari https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/download/602/771/18571?inline=1
Jadi, et al. 2019. Locomotion Study of Bekantan (Nasalis larvatus). BIO Web of Conferences 20, 04002. Diakses pada 24 Januari 2025 dari https://doi.org/10.1051/bioconf/20202004002

