ST-segment Elevation Myocardial Infarction atau terkenal dengan istilah STEMI, merupakan kondisi darurat medis yang terjadi akibat oklusi total arteri koroner utama, biasanya akibat pecahnya plak aterosklerotik atau erosi plak. Serangan jantung jenis ini menyimpan risiko kematian yang besar jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Selama 15 tahun terakhir, terdapat kemajuan signifikan dalam penanganan STEMI, terutama dengan penerapan luas Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) sebagai standar emas pengobatan di Inggris.
- Diagnosis STEMI
- Patofisiologi STEMI
- Perkembangan Terapi STEMI
- Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) dan Implementasinya di Inggris
- Komponen Kunci dalam Penanganan STEMI dengan PPCI
- Penanganan STEMI pada Kondisi Khusus
- Pencegahan Sekunder
- Kasus STEMI: Pendekatan Penanganan STEMI Tanpa Stent
- Referensi
Diagnosis STEMI
Diagnosis STEMI didasarkan pada:
- Gejala klinis seperti nyeri dada mendadak.
- Adanya elevasi segmen ST pada elektrokardiogram (EKG).
- Kriteria khusus seperti Sgarbossa untuk pasien dengan Left Bundle Branch Block (LBBB).
- Interpretasi tambahan dari pedoman European Society of Cardiology (ESC).
Patofisiologi STEMI

Sumber: canva.com
STEMI umumnya terjadi karena ruptur plak aterosklerotik yang menyebabkan pembentukan trombus dan oklusi arteri koroner. Kerusakan miokard dapat terjadi dalam waktu satu jam setelah oklusi, sehingga intervensi yang cepat sangat penting untuk menyelamatkan jaringan miokard.
Perkembangan Terapi STEMI
Terapi reperfusi koroner pertama kali dilakukan dengan trombolitik (clot-busting drugs), tetapi memiliki keterbatasan seperti:
- Risiko perdarahan tinggi.
- Kegagalan reperfusi pada 20-30% pasien.
- Reoklusi arteri yang tinggi.
Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) dan Implementasinya di Inggris
Sebagai alternatif trombolitik, PPCI menjadi pilihan utama dalam pengelolaan STEMI karena mampu:
- Mengurangi mortalitas jangka pendek.
- Menurunkan angka komplikasi seperti stroke dan infark ulang.
- Memperbaiki aliran darah koroner secara mekanis menggunakan angioplasti balon dan pemasangan stent.
Sejak diterbitkannya laporan National Infarct Angioplasty Project (NIAP) pada tahun 2008, layanan PPCI di Inggris telah berkembang pesat. Saat ini, lebih dari 90% pasien STEMI di Inggris mendapatkan PPCI dibandingkan dengan 12% pada tahun 2008.
Komponen Kunci dalam Penanganan STEMI dengan PPCI
- Persiapan Pasien
- Pemberian terapi antiplatelet ganda sebelum prosedur.
- Konseling pasien untuk pemahaman risiko dan manfaat.
- Akses Vaskular
- Arteri radial menjadi pilihan utama karena lebih sedikit komplikasi dibanding arteri femoralis.
- Pilihan Terapi Stent
- Penggunaan stent berlapis obat (DES) sebagai standar perawatan.
- Terapi Sekunder Pasca PPCI
- Penggunaan obat antiplatelet selama 12 bulan.
- Manajemen faktor risiko seperti dislipidemia dan hipertensi.
Penanganan STEMI pada Kondisi Khusus
- STEMI dengan Syok Kardiogenik
- Berdasarkan hasil penelitian CULPRIT-SHOCK, hanya lesi penyebab infark yang diintervensi pada kondisi syok.
- Pasien dengan Henti Jantung di Luar Rumah Sakit (OHCA)
- PPCI tetap menjadi pilihan bagi pasien dengan STEMI yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit.
Pencegahan Sekunder
Pasien pasca STEMI memerlukan terapi jangka panjang untuk mencegah kejadian berulang, meliputi:
- Terapi statin untuk menurunkan kolesterol.
- ACE inhibitor atau beta-blocker untuk perlindungan jantung.
- Program rehabilitasi jantung untuk memperbaiki kualitas hidup.
Penggunaan PPCI telah menjadi tonggak penting dalam penanganan STEMI dengan meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Dengan penerapan standar pelayanan yang ketat, diharapkan pasien STEMI di Inggris dapat memperoleh intervensi yang cepat dan efektif.
Baca juga: https://warstek.com/eutanasia-dilema/
Kasus STEMI: Pendekatan Penanganan STEMI Tanpa Stent
Sebagian besar kasus STEMI ditangani dengan strategi pemasangan stent untuk membuka kembali arteri yang tersumbat. Namun, pendekatan terbaru berbasis patofisiologi, seperti yang dijelaskan dalam jurnal ini, menunjukkan bahwa tidak semua kasus memerlukan pemasangan stent.
Latar Belakang Kasus
Seorang wanita berusia 43 tahun dengan riwayat merokok berat datang dengan nyeri dada retrosternal yang berlangsung selama lima jam. Pemeriksaan awal menunjukkan tekanan darah tinggi (160/100 mmHg) dan denyut jantung 109 bpm. Elektrokardiogram (EKG) menunjukkan elevasi segmen ST di lead V1–V4, yang mengarah pada diagnosis STEMI anterior. Pasien segera diberikan terapi antiplatelet ganda dan dibawa ke laboratorium kateterisasi jantung untuk angiografi koroner.
Penemuan dan Pendekatan Pengobatan
Angiografi koroner menunjukkan oklusi trombotik akut di arteri koroner kiri bagian anterior (LAD) dengan rekalanisasi spontan dan stenosis sebesar 80%. Optical Coherence Tomography (OCT) dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab dasar, yang menunjukkan erosi plak tanpa ruptur plak yang signifikan. Dengan pertimbangan ini, pendekatan “no stent” diterapkan dengan aspirasi trombus dan terapi medis agresif menggunakan aspirin dan ticagrelor.
Setelah prosedur aspirasi trombus, aliran darah meningkat ke tingkat TIMI 3 tanpa perlunya pemasangan stent. Pemeriksaan lanjutan setelah dua bulan menunjukkan bahwa lesi koroner telah menjadi non-obstruktif, dan pasien mengalami pemulihan yang baik tanpa gejala lanjutan.
Keunggulan Pendekatan Tanpa Stent
Pendekatan tanpa stent dalam kasus ini memiliki beberapa keuntungan signifikan, termasuk:
- Menghindari Komplikasi Terkait Stent
Pemasangan stent dapat menyebabkan komplikasi seperti restenosis, trombosis stent, dan disfungsi endotel. Pendekatan no stent menghindari risiko ini dan memungkinkan pemulihan alami arteri. - Penggunaan Intravascular Imaging untuk Diagnosis yang Lebih Akurat
OCT memainkan peran kunci dalam membedakan erosi plak dari ruptur plak, memungkinkan terapi yang lebih terarah dan personalisasi pengobatan. - Manajemen Medis yang Optimal
Terapi medis agresif dengan kombinasi agen antiplatelet dan statin intensitas tinggi memberikan kontrol optimal terhadap aterosklerosis dan mencegah kejadian kardiovaskular berulang.
Hasil dan Tindak Lanjut
Pasien menunjukkan pemulihan yang signifikan dalam fungsi ventrikel kiri (LVEF meningkat dari 50% menjadi 58%) dalam dua bulan. Gambar lanjutan dengan OCT menunjukkan stabilisasi plak tanpa tanda-tanda trombus residual. Selama 27 bulan tindak lanjut, pasien tetap bebas dari gejala dan berhasil berhenti merokok dengan bantuan terapi penggantian nikotin.
Kasus ini menunjukkan bahwa tidak semua pasien STEMI memerlukan pemasangan stent, terutama dalam kasus yang disebabkan oleh erosi plak tanpa ruptur. Penggunaan pencitraan intravaskular seperti OCT memungkinkan strategi terapeutik berbasis patofisiologi, yang dapat mengurangi komplikasi dan meningkatkan hasil klinis jangka panjang. Meskipun strategi ini bukan standar saat ini, diperlukan studi klinis lebih lanjut untuk mengkonfirmasi manfaatnya dalam populasi yang lebih luas.
Referensi
Mughal LH, Sastry S. 2022. Advances in the treatment of ST Elevation Myocardial Infarction in the UK. JRSM Cardiovascular Disease;11. Diakses pada 24 Januari 2025 dari https://doi.org/10.1177/20480040221075519
Dhawan R, Samant S, Gajanan G and Chatzizisis YS (2022) Case Report: ST-Elevation Myocardial Infarction Secondary to Acute Atherothrombotic Occlusion Treated With No Stent Strategy.Front. Cardiovasc. Med. 9:834676. Diakses pada 24 Januari 2025 dari https://doi.org/10.3389/fcvm.2022.834676

