Para arkeolog, ilmuwan yang mempelajari kehidupan masa lalu melalui penggalian benda-benda kuno. Baru-baru ini menemukan sesuatu yang mengejutkan di Benteng Magna (Carvoran), sebuah pos militer penting yang dulunya berdiri di dekat Tembok Hadrian, perbatasan terkenal Kekaisaran Romawi di Inggris. Di sana, mereka menemukan sepatu kulit berusia sekitar 2.000 tahun. Yang membuatnya menarik bukan hanya karena usianya yang sangat tua, tetapi juga karena ukurannya yang luar biasa besar dibandingkan ukuran sepatu lain dari masa itu.
Sepatu-sepatu ini ditemukan di dalam sebuah parit pertahanan. Parit itu dulunya dikenal dengan julukan “pemecah pergelangan kaki” karena didesain untuk menjebak dan mencederai musuh yang mencoba mendekat. Anehnya, kondisi tanah di parit tersebut justru membantu melestarikan benda-benda kuno. Tanah yang selalu lembap dan kekurangan oksigen membuat proses pembusukan melambat drastis. Akibatnya, bahan organik yang biasanya cepat hancur, seperti kulit bisa tetap bertahan utuh selama ribuan tahun.
Bagi para ilmuwan, temuan ini sangat berharga. Sepatu kuno bukan hanya sekadar benda sehari-hari, tetapi juga “jejak kehidupan” yang bisa memberi tahu kita tentang ukuran tubuh, gaya hidup, hingga status sosial orang-orang Romawi di perbatasan utara kekaisaran mereka.
Bahan Sains: Mengapa Sepatu Bisa Tahan?
Biasanya, kulit adalah bahan yang cepat hancur karena mudah membusuk bila terkena udara, air, dan mikroba. Namun, di dasar parit tempat sepatu ini ditemukan, kondisi lingkungannya justru sangat istimewa. Lingkungan tersebut bersifat anaerobik, artinya hampir tidak ada oksigen. Tanpa oksigen, mikroorganisme yang biasanya mempercepat proses pembusukan tidak bisa bekerja secara normal. Selain itu, tanah yang lembap, stabil, dan tertutup sedimen (lapisan lumpur atau pasir halus yang mengendap) bertindak seperti “kapsul waktu alami”, sehingga benda-benda organik seperti kulit bisa tetap terawetkan meski sudah ribuan tahun terkubur.
Namun, tantangan baru muncul begitu benda berharga ini dikeluarkan dari dalam tanah. Ketika sepatu yang rapuh bertemu udara bebas, risiko kerusakan meningkat drastis. Untuk itu, para arkeolog tidak hanya berhenti pada proses penggalian. Mereka memanfaatkan sinar-X untuk melihat struktur sepatu tanpa harus menyentuhnya secara langsung, dan juga melakukan analisis mikroba guna memastikan tidak ada bakteri atau jamur yang akan mempercepat pelapukan setelah sepatu diangkat.
Teknik-teknik perawatan seperti ini termasuk dalam bidang yang disebut arkeometri. Arkeometri adalah cabang ilmu yang menggabungkan arkeologi (ilmu tentang masa lalu manusia melalui benda-benda peninggalan) dengan sains modern, seperti fisika, kimia, dan biologi. Dengan pendekatan ini, para peneliti bisa menjaga agar peninggalan kuno tidak hanya ditemukan, tetapi juga tetap awet untuk dipelajari generasi sekarang dan mendatang.
Biologi & Antropologi: Siapa Pemilik Sepatu Ini?
Ukuran sepatu mencapai 32 cm (setara ukuran modern US 14). Untuk zaman Romawi, ukuran ini termasuk di luar kebiasaan.
Ada dua kemungkinan yang sedang diteliti:
- Sepatu ini milik prajurit dengan postur tubuh luar biasa besar.
- Atau, ini bagian dari standar perlengkapan tertentu, misalnya sepatu musim dingin atau alas khusus untuk perjalanan berat.
Dalam ilmu antropologi fisik , ukuran sepatu bisa memberi petunjuk tentang tinggi badan rata-rata , pola gizi, bahkan peran sosial pemiliknya.
Baca juga artikel tentang: Inilah Alasan Mengapa Bangunan Tua Peninggalan Belanda Dapat Kokoh Berdiri Hingga Kini
Teknologi & Rekayasa: Desain Sepatu Romawi
Sepatu-sepatu Romawi dikenal dengan konstruksi hobnail boots : paku logam di sol untuk meningkatkan cengkeraman dan daya tahan. Jahitan rumit, lapisan kulit tebal, dan desain praktis memposting keahlian keahlian kala itu.
Analisis detail seperti pola jahitan dan letak paku membantu peneliti mengklasifikasikan apakah sepatu dipakai dalam aktivitas militer, sipil, atau upacara. Dengan kata lain, sepasang sepatu bisa menjadi “dokumen teknis” dari masa lalu.
Ilmu Sosial & Budaya: Jejak Kehidupan Sehari-hari
Bagi para sejarawan, sepatu bukanlah sekadar benda mati yang hanya berfungsi menutupi kaki. Sepatu bisa dianggap sebagai artefak pribadi, yaitu benda peninggalan yang menyimpan jejak kehidupan pemiliknya. Dari bentuk, bahan, dan kondisi sepatu, kita dapat membayangkan sosok orang yang pernah memakainya. Misalnya, sebuah sepatu milik prajurit Romawi kuno dapat membawa kita membayangkan bagaimana ia melangkah di sepanjang Tembok Hadrian, sebuah benteng pertahanan raksasa di utara Inggris yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi, sambil menghadapi angin kencang, hujan, dan cuaca dingin khas wilayah tersebut.
Sepatu kuno ini juga memberi informasi penting tentang logistik kekaisaran Romawi. Logistik adalah ilmu dan praktik mengenai bagaimana barang, peralatan, dan kebutuhan manusia diatur, diproduksi, serta dikirimkan ke tempat yang jauh. Dari sepatu, sejarawan dapat mengetahui bagaimana Romawi memproduksi perlengkapan dalam jumlah besar, bagaimana ukuran sepatu distandardisasi untuk ribuan tentara, dan bagaimana kebutuhan dasar pasukan di perbatasan kerajaan terpenuhi. Dengan kata lain, sepasang sepatu dapat menjadi “dokumen sejarah” yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, teknologi, serta organisasi besar di balik kekuatan militer Romawi.
Relevansi Modern: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
- Ilmu konservasi: sepatu ini mengajarkan cara melestarikan bahan organik berusia ribuan tahun.
- Evolusi manusia: ukuran tubuh dan kebutuhan alas kaki memberi data tambahan bagi studi biologi manusia kuno.
- Arkeologi publik: temuan ini membangkitkan minat masyarakat untuk lebih menghargai sejarah, karena ia bukan sekadar patung atau prasasti, tetapi benda sehari-hari yang pernah dipakai seseorang.
Sepatu kulit raksasa dari Benteng Magna adalah jejak pribadi yang menjadi bukti sejarah kolektif . Ia menampilkan bahwa arkeologi bukan hanya menggali, tetapi juga menghidupkan kisah manusia biasa. Dalam hal ini, seseorang dengan langkah besar yang menjejak bumi 2.000 tahun yang lalu.
Baca juga artikel tentang: Dari Puing ke Peninggalan: Bagaimana Sampah Mars Bisa Dikenang Sebagai Artefak Sejarah
REFERENSI:
Hardt, Jaco dkk. 2025. Integrating Geomorphology, Geology, and Geochemical Parameters to Understand the Preservation Status and Spatial Distribution of Archaeological Iron Objects Related to the 235 ce Roman–Germanic Harzhorn Conflict (Lower Saxony, Germany). Geoarchaeology 40 (3), e70012.
Joseph, Jordan. 2025. Archaeologists discover giant shoes dating back 2,000 years, the largest ever found. Earth.com: https://www.earth.com/news/archaeologists-discover-giant-roman-shoes-dating-back-2000-years-largest-ever-found/ diakses pada tanggal 23 Agustus 2025.

