Dari Kabut Metana ke Planet yang Terbakar: Sejarah Api di Bumi

Meskipun beberapa planet, seperti Venus, memiliki suhu ekstrem dan bahkan gunung berapi aktif yang memuntahkan magma panas, tidak pernah terjadi kebakaran seperti yang kita kenal di Bumi—yakni api yang menyala karena adanya oksigen di udara dan bahan bakar seperti tumbuhan kering.

Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui pernah mengalami kebakaran api secara alami. Ini adalah fenomena unik yang tidak ditemukan di planet lain, baik di Tata Surya maupun di luar sistem bintang kita.

Meskipun beberapa planet, seperti Venus, memiliki suhu ekstrem dan bahkan gunung berapi aktif yang memuntahkan magma panas, tidak pernah terjadi kebakaran seperti yang kita kenal di Bumi—yakni api yang menyala karena adanya oksigen di udara dan bahan bakar seperti tumbuhan kering. Venus, misalnya, meskipun sangat panas, atmosfernya terdiri dari gas-gas seperti karbon dioksida dan asam sulfat, bukan oksigen yang diperlukan untuk mendukung nyala api.

Begitu juga dengan planet-planet lain seperti Merkurius, Jupiter, atau Saturnus—mereka mungkin memiliki aktivitas geologis atau atmosfer yang kompleks, tetapi tidak memiliki kombinasi kondisi yang mendukung terjadinya kebakaran. Hal ini menunjukkan bahwa api—sesuatu yang tampak biasa di Bumi—sebenarnya adalah hasil dari kondisi lingkungan yang sangat langka dan khas, seperti keberadaan atmosfer yang kaya oksigen dan kehidupan tanaman yang bisa menjadi bahan bakarnya.

Hal yang menarik dan mungkin mengejutkan banyak orang adalah bahwa selama miliaran tahun pertama dalam sejarah Bumi, api belum pernah muncul sama sekali. Meskipun planet ini sudah memiliki gunung berapi dan panas dari dalam Bumi, nyala api seperti yang kita kenal—misalnya api yang muncul saat hutan terbakar atau kayu menyala—belum bisa terjadi.

Ini karena api membutuhkan dua hal penting yang dulu belum tersedia: oksigen bebas di atmosfer dan bahan yang mudah terbakar seperti tumbuhan kering. Pada masa awal kehidupan di Bumi, atmosfernya belum mengandung cukup oksigen. Oksigen baru mulai terbentuk dalam jumlah besar setelah organisme seperti cyanobacteria (sejenis mikroorganisme mirip alga) mulai melakukan fotosintesis dan melepaskan oksigen ke udara—proses ini dikenal sebagai “Peristiwa Oksidasi Besar,” yang terjadi sekitar 2,4 miliar tahun lalu.

Bahkan setelah oksigen mulai terkumpul, butuh waktu lama lagi sampai muncul kehidupan darat seperti tanaman, yang bisa menjadi bahan bakar alami untuk api. Artinya, makhluk hidup pertama di Bumi—yang hidup di laut dan mikroba darat awal—mengalami dunia yang tidak mengenal api sama sekali, selama waktu yang sangat lama jika dibandingkan dengan sejarah manusia. Jadi, api adalah penemuan baru dalam skala waktu geologi, dan kemunculannya menandai perubahan besar dalam cara ekosistem Bumi bekerja.

Meskipun letusan gunung berapi sering kali tampak seperti “air mancur api” yang spektakuler—dengan lava menyala-nyala dan gas panas yang menyembur—sebenarnya itu bukanlah api dalam pengertian yang sebenarnya.

Lava adalah batuan yang meleleh karena suhunya sangat tinggi, biasanya mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius. Ketika lava keluar dari perut Bumi, ia memang tampak menyala karena panasnya, tetapi ini adalah panas pijar, bukan nyala api. Api, seperti yang kita kenal sehari-hari, adalah hasil dari reaksi kimia yang disebut pembakaran.

Agar api bisa muncul, dibutuhkan tiga unsur utama yang dikenal sebagai segitiga api: bahan bakar (seperti kayu, rumput kering, atau minyak), oksigen (biasanya dari udara), dan sumber panas (misalnya percikan api atau suhu tinggi). Ketiga komponen ini harus hadir dalam takaran yang pas. Jika salah satu tidak ada—misalnya tidak ada oksigen seperti di Venus—maka api tidak bisa menyala, meskipun suhunya sangat panas.

Jadi, meski lava tampak seperti api, ia bukan hasil dari proses pembakaran seperti saat kita menyalakan lilin atau kompor gas. Lava adalah cairan panas dari dalam Bumi, sedangkan api adalah nyala yang muncul dari reaksi kimia yang sangat spesifik.

Baca juga artikel tentang: Kriosfer: Peran Penting Es dan Salju untuk Kehidupan di Bumi

Sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, atmosfer Bumi sangat berbeda dengan udara yang kita hirup sekarang. Pada masa itu, belum ada oksigen bebas dalam jumlah besar. Sebaliknya, udara kemungkinan besar dipenuhi oleh gas metana, yang dihasilkan oleh mikroorganisme purba seperti arkea. Metana ini membentuk kabut tebal yang menyelimuti langit Bumi, menjadikan suasananya sangat asing jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Perubahan besar mulai terjadi ketika muncul sekelompok mikroorganisme yang disebut sianobakteri. Mereka adalah makhluk bersel satu yang hidup di air dan memiliki kemampuan luar biasa: mereka bisa melakukan fotosintesis, yaitu proses menggunakan cahaya Matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi makanan (glukosa), sambil melepaskan oksigen sebagai produk sampingan.

Selama jutaan tahun, oksigen hasil kerja sianobakteri terus dilepaskan ke atmosfer. Proses inilah yang dikenal sebagai Great Oxidation Event atau Peristiwa Oksidasi Besar. Ini adalah momen penting dalam sejarah Bumi, karena oksigen mulai terakumulasi di atmosfer untuk pertama kalinya dalam jumlah signifikan. Oksigen ini nantinya memungkinkan munculnya bentuk kehidupan kompleks dan, pada akhirnya, menciptakan kondisi yang juga memungkinkan munculnya api. Jadi, bisa dikatakan bahwa tanpa peran sianobakteri, kita mungkin takkan pernah mengenal nyala api maupun bernapas dengan nyaman seperti sekarang.

Pada awal terjadinya Peristiwa Oksidasi Besar, oksigen memang mulai dilepaskan ke atmosfer, tetapi jumlahnya masih sangat kecil dan belum cukup untuk mendukung terjadinya pembakaran atau api. Justru, kehadiran oksigen membawa dampak besar yang tidak terduga terhadap iklim Bumi.

Salah satu efek paling signifikan adalah hilangnya metana dari atmosfer. Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat—bahkan jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam hal menahan panas Matahari di permukaan Bumi. Ketika oksigen mulai bereaksi dengan metana, gas ini secara bertahap menghilang dari atmosfer. Akibatnya, pelindung alami yang menjaga suhu Bumi tetap hangat lenyap.

Tanpa metana, suhu Bumi menurun drastis. Planet ini mengalami zaman es global yang ekstrem, dikenal sebagai Snowball Earth, di mana sebagian besar permukaan Bumi tertutup es. Ini adalah salah satu periode terdingin dalam sejarah planet kita.

Selama masa ini, meskipun oksigen mulai hadir, kadarnya belum cukup tinggi untuk menciptakan kondisi di mana api bisa menyala. Seperti dijelaskan sebelumnya, api membutuhkan oksigen dalam jumlah tertentu agar bisa terjadi pembakaran. Jadi, meskipun oksigen mulai terbentuk, Bumi masih belum siap menyambut kehadiran api. Kehidupan pada masa itu pun masih sangat sederhana, dan dunia masih jauh dari kondisi yang kita kenal sekarang.

Bukti pertama bahwa api benar-benar muncul di Bumi baru ditemukan jauh setelah terbentuknya atmosfer beroksigen—yaitu sekitar 470 juta tahun yang lalu, pada periode yang dikenal sebagai Ordovisium Tengah. Ini berarti butuh waktu miliaran tahun sejak kehidupan pertama muncul sebelum api akhirnya bisa eksis di planet kita.

Pada masa Ordovisium ini, kehidupan di darat mulai berkembang lebih pesat. Tumbuhan-tumbuhan sederhana seperti lumut dan lumut hati mulai menjajah daratan. Meski terlihat kecil dan sederhana, kehadiran tumbuhan ini sangat penting karena mereka menghasilkan oksigen lewat fotosintesis, dan oksigen inilah yang perlahan menambah kadar gas tersebut di atmosfer.

Namun, untuk bisa menyalakan api, oksigen saja tidak cukup—jumlahnya harus mencapai kadar tertentu agar pembakaran bisa berlangsung. Jika kadar oksigen di udara terlalu rendah, misalnya di bawah 13%, maka api tidak akan bisa menyala sama sekali karena reaksi kimianya tidak akan berlangsung. Sebaliknya, jika kadar oksigen terlalu tinggi, di atas 35%, api justru akan menjadi terlalu mudah menyebar. Dalam kondisi seperti itu, api bisa membakar vegetasi secara luas dan cepat, hingga membuat ekosistem seperti hutan sulit bertahan karena selalu rentan terbakar.

Jadi, kehadiran api sangat bergantung pada keseimbangan yang tepat antara oksigen, bahan bakar seperti tumbuhan kering, dan suhu panas. Baru setelah keseimbangan itu tercapai pada zaman Ordovisium, api bisa menjadi bagian alami dari siklus kehidupan di Bumi.

Sekitar 420 juta tahun yang lalu, para ilmuwan menemukan bukti pertama bahwa api benar-benar pernah membakar permukaan Bumi. Bukti ini berupa sisa-sisa arang yang terjebak dalam lapisan batuan kuno dari masa itu. Arang ini terbentuk ketika tanaman terbakar, lalu sisa-sisanya menghitam dan terawetkan di dalam sedimen selama jutaan tahun.

Namun, pada masa itu, kadar oksigen di atmosfer belum stabil. Terkadang cukup tinggi untuk memungkinkan terjadinya kebakaran, tetapi di waktu lain turun lagi hingga api sulit menyala. Akibatnya, kebakaran yang meluas, seperti kebakaran hutan, belum menjadi peristiwa yang umum.

Barulah sekitar 383 juta tahun lalu—ketika kadar oksigen sudah mencapai titik yang lebih stabil dan cukup tinggi—kebakaran besar mulai sering terjadi di daratan. Sejak saat itu, api menjadi bagian alami dari siklus ekologi di Bumi. Meski sering dianggap sebagai bencana karena bisa menghancurkan hutan dan mengancam makhluk hidup, kebakaran sebenarnya juga punya peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Misalnya, kebakaran bisa membersihkan tumbuhan-tumbuhan mati dan kering yang menumpuk di lantai hutan. Ini membuka ruang bagi tumbuhan baru untuk tumbuh. Beberapa tanaman bahkan berevolusi untuk bergantung pada api—bijinya baru bisa tumbuh setelah terkena panas kebakaran. Jadi, dalam jangka panjang, api bukan hanya simbol kehancuran, tetapi juga alat alam untuk memperbarui kehidupan.

Baca juga artikel tentang: Dari Inti Bumi ke Jam: Mengapa Lamanya Hari Berubah?

REFERENSI:

Felton, James. 2025. People Are Just Learning That For Billions Of Years, There Was No Fire On Earth. IFL Science: https://www.iflscience.com/people-are-just-learning-that-for-billions-of-years-there-was-no-fire-on-earth-77688 diakses pada tanggal 6 April 2025.

Forkel, Matthias dkk. 2025. Burning of woody debris dominates fire emissions in the Amazon and Cerrado. Nature Geoscience, 1-8.

Oele, Marjolein. 2025. Beyond Elemental Loss: Shifting Constellations of Water, Fire, Air, and Earth. Beyond Elemental Loss.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top