Wind Setdown: Fenomena Atmosfer yang Bisa Membelah Laut

Kisah Nabi Musa yang “membelah” laut telah diwariskan selama ribuan tahun dan menjadi bagian penting dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam sudut pandang keagamaan, peristiwa itu dipahami sebagai mukjizat, kejadian luar biasa yang terjadi atas izin Tuhan, melampaui kemampuan manusia dan kebiasaan alam.

Kisah Nabi Musa yang “membelah” laut telah diwariskan selama ribuan tahun dan menjadi bagian penting dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam sudut pandang keagamaan, peristiwa itu dipahami sebagai mukjizat, kejadian luar biasa yang terjadi atas izin Tuhan, melampaui kemampuan manusia dan kebiasaan alam.

Ilmuwan tertarik menelaah apakah ada mekanisme alam yang dapat menghasilkan fenomena mirip dengan gambaran kisah tersebut. Tujuannya bukan untuk meniadakan makna spiritual, melainkan untuk memahami bagaimana hukum alam pola keteraturan yang dapat dijelaskan dan diprediksi bisa berperan. Dengan kata lain, iman menjawab pertanyaan “mengapa” (makna dan tujuan), sementara sains mencoba menjawab “bagaimana” (proses dan mekanisme).

Beberapa gagasan berikut kerap diteliti melalui catatan geologi, meteorologi, dan simulasi komputer (pemodelan matematis untuk menguji skenario “bagaimana jika”):

  • Wind setdown (air terdorong angin): Angin kencang yang bertiup terus-menerus dari satu arah dapat mendorong massa air menjauh, menurunkan muka air di satu sisi teluk atau laguna yang dangkal dan untuk sementara menyingkap dasar perairan. Jika angin mereda atau arahnya berubah, air akan kembali menutup area tersebut.
  • Pasang surut dan bentuk pantai: Pasang surut ekstrem yang bertepatan dengan bentuk teluk dangkal dan jalur dasar yang lebih tinggi bisa menciptakan bentang “kering” sementara.
  • Peristiwa geofisika langka: Fenomena seperti seiche (gelombang berdiri di danau/teluk tertutup) atau surutan awal tsunami dapat membuat air mundur secara tiba-tiba, meski pola kembalinya air (gelombang besar) tidak seluruhnya cocok dengan gambaran “jalan kering yang stabil”.
Catatan penting: sains hanya dapat mengusulkan skenario masuk akal berdasarkan hukum alam dan data yang tersedia. Ia tidak dapat memastikan detail historis sebuah peristiwa kuno tanpa bukti langsung.

Simulasi Angin dan Efek “Wind Setdown”

Carl Drews dan tim dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) memanfaatkan simulasi komputer untuk menguji sebuah konsep yang disebut wind setdown. Ini adalah kondisi ketika angin kencang bertiup secara terus-menerus sehingga mampu mendorong air menjauh dari suatu wilayah perairan dangkal, membuat area tersebut kering sementara.

Hasil simulasi mereka menunjukkan bahwa angin dari arah timur dengan kecepatan sekitar 100 km/jam yang bertiup selama ±12 jam dapat memindahkan cukup banyak air sehingga membentuk jalur daratan selebar ±3 km. Jalur ini bisa tetap terbuka cukup lama untuk dilalui orang sebelum air kembali menutupinya.

Lokasi yang Lebih Masuk Akal Secara Geografi

Penelitian ini juga mengusulkan bahwa lokasi yang dimaksud mungkin bukan Laut Merah seperti yang kita kenal sekarang, melainkan wilayah perairan dangkal seperti Delta Nil atau Danau Tannis.

Citra Google Earth Laut Merah, terletak di antara Mesir dan Jazirah Arab.

Faktor bahasa juga mendukung teori ini. Istilah Ibrani Yam Suph, yang sering diterjemahkan menjadi “Laut Merah”, sebenarnya berarti “laut alang-alang” (sea of reeds), yang cocok dengan gambaran area delta, penuh tanaman air dan tidak sedalam lautan terbuka.

Baca juga artikel tentang: Kutu Laut Raksasa Berkaki 14, Musuh Tak Terduga bagi Hiu

Teori Alternatif: Memanfaatkan Pengetahuan Pasang Surut

Bruce Parker, seorang ahli oseanografi, mengemukakan hipotesis bahwa Nabi Musa mungkin memanfaatkan pengetahuan lokal mengenai pola pasang surut laut. Dalam sains kelautan, pasang surut terjadi karena tarikan gravitasi Bulan dan Matahari terhadap air laut. Pada momen tertentu, terutama ketika pasang surut ekstrem (spring tide) bertepatan dengan arah tiupan angin yang mendukung, permukaan air bisa surut jauh lebih dari biasanya.

Menurut teori Parker, jika penyeberangan dilakukan tepat pada saat surut ekstrem yang diperkuat oleh angin, jalur daratan yang biasanya tertutup air dapat muncul untuk beberapa jam. Setelah itu, ketika pasang kembali naik, jalur tersebut akan terendam lagi. Artinya, pengetahuan tentang waktu yang tepat, sesuatu yang mungkin diketahui masyarakat lokal pada masa itu bisa menjadi kunci keselamatan.

Bukti Fenomena di Zaman Modern

Gagasan wind setdown atau “pengusiran air oleh angin” bukan sekadar spekulasi. Fenomena ini sudah diamati dan didokumentasikan dalam berbagai kejadian modern. Misalnya, di Danau Erie, Amerika Utara, angin kencang yang bertiup dari satu arah selama berjam-jam mampu mendorong air menjauh dari garis pantai, sehingga sebagian dasar danau yang biasanya terendam menjadi terlihat.

Kejadian serupa juga pernah tercatat di delta Sungai Nil, di mana hembusan angin kuat menggeser massa air dan membuka hamparan tanah yang normalnya berada di bawah permukaan air. Pengamatan ini membuktikan bahwa kombinasi angin dan kondisi perairan dangkal memang bisa menciptakan jalur darat sementara.

Harmoni Sains dan Iman

Bagi banyak orang beriman, peristiwa pembelahan laut oleh Nabi Musa adalah mukjizat yang terjadi atas kehendak Tuhan. Penjelasan ilmiah seperti wind setdown tidak dimaksudkan untuk mengurangi nilai spiritualnya, melainkan untuk menunjukkan bahwa hukum alam (yang diyakini juga diciptakan oleh Tuhan) dapat menjadi “alat” untuk terjadinya peristiwa luar biasa.

Sains membantu menjawab pertanyaan “bagaimana hal itu bisa terjadi?” melalui mekanisme alam, sementara iman menjawab “mengapa hal itu terjadi?” dalam konteks keyakinan dan tujuan spiritual. Pendekatan ini membuka ruang bagi keduanya untuk berjalan berdampingan, memperluas rasa kagum kita terhadap kebesaran alam sekaligus memperkuat makna kisah yang diwariskan lintas generasi.

Baca juga artikel tentang: Dampak Pemanasan Global: Pencairan Lapisan Es Greenland dan Kenaikan Permukaan Laut

REFERENSI:

Aderouane, Fatima. 2025. Global Performance and Mooring Analysis for Floating Offshore Wind Turbines. Design, Construction, and Global Performance Analysis of Offshore Wind Turbines, 403-429.

Geraeds, Marlein. 2025. Assessing the importance of the near-field plume state on estuarine dynamics under varying wind conditions. Authorea Preprints.

Hunter, Wiliam. 2025. Scientists reveal how Moses COULD have parted the Red Sea – and say it may not have been a miracle after all. Daily Mail: https://www.google.com/amp/s/www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-14468581/amp/Scientists-reveal-Moses-parted-Red-Sea.html diakses pada tanggal 19 Agustus 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top