Indonesia Darurat Polio! Bagaimana Kabarnya Saat Ini?

Awal bulan Mei 2024 yang lalu, sebuah laporan dari lembaga resmi dunia, World Health Organization,bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa ada kasus luar biasa terkait virus polio terjadi pada anak-anak.

blank

Awal bulan Mei 2024 yang lalu, sebuah laporan dari lembaga resmi dunia, World Health Organization,bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa ada kasus luar biasa terkait virus polio terjadi pada anak-anak. Berdasarkan laporan tersebut, 3 kasus terjadi di Aceh, 1 kasus terjadi di Jawa Tengah, 1 kasus terjadi di Jawa Barat, dan 2 kasus terjadi di Jawa Timur, dimana vektor dari kejadian luar biasa ini merupakan varian terbaru virus polio, yaitu circulating Vaccine Derived Poliovirus type 2 (cVDPV-2). Selain 7 kasus yang telah disebutkan, ditemukan juga 1 kasus serupa di daerah papua, dan 17 anak didiagnosis terinfeksi virus cVDVP-2 walaupun statusnya dianggap sehat [4].

Berita ini tentunya perlu mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat, sehingga diharapkan kedepannya kasus pandemi, seperti pandemi COVID-19, tidak terjadi kembali. Sebagai masyarakat yang peduli akan dunia kesehatan dan sains, salah satu kontribusi yang bisa kita lakukan adalah dengan memahami dan menyebarkan informasi terkait virus polio varian terbaru ini. Seperti pada artikel ini, akan dijelaskan terkait varian baru virus polio yang saat ini menjadi perhatian di Indonesia, bagaimana mekanisme penyebarannya, gejala-gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya. Selamat membaca.

Mengenal apa itu cVDPV-2

blank
Circulating Vaccine Derived Polio Virus type 2 (cVDPV-2), Sumber : Esanum

Berbicara tentang cVDPV-2, kita akan berbicara tentang virus polio. Dikutip dari WHO, Polio merupakan penyakit yang sangat infeksius, yang umumnya menyebar pada anak usia dibawah 6 tahun. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan (sekitar 1 dari 120 kasus) dan yang paling berbahaya adalah kematian (2-10% dari kasus kelumpuhan). Virus ini menyebar melalui sistem pencernaan, dan dalam beberapa kasus pada makanan dan air yang terkontaminasi. Masa inkubasi dari virus ini umumnya 7-10 hari, namun dalam beberapa kasus bisa diantara 4-35 hari. Umumnya, orang yang terjangkit penyakit ini akan merasakan gejala ringan seperti panas dan mudah lelah [2][5].

blank
Oral Polio Vaccine (OPV), Sumber : Biofarma

Saat ini, vaksin untuk virus polio sudah beredar di pasaran. Vaksin tersebut bisa dikonsumsi secara langsung dengan cara diminum (Oral), sehingga vaksin ini dikenal sebagai Oral Polio Vaccine (OPV). OPV yang beredar di pasaran pada saat ini umumnya memanfaatkan virus polio yang telah dilemahkan untuk memperbanyak diri di dalam usus inangnya, sehingga imunitas dapat berkembang melalui perbanyakan antibodi.[3][5]

Kemungkinan virus polio berevolusi dari vaksin masih dapat terjadi. Virus yang berevolusi dari vaksin dikenal sebagai Vaccine-Derived Poliovirus (VDPV). Umumnya, VDPV ini dapat menyebar melalui orang yang tervaksin ke orang yang tidak tervaksin, terutama di daerah yang ramai, kurang higienis, dan kurang sanitasi. Semakin lemah imunitas orang yang tertular, maka virus akan menetap pada orang tersebut lebih lama dan perubahan genetik semakin sering terjadi.[3][5]

Apabila terdeteksi setidaknya dua orang memiliki VDPV, dan terjadi dalam kurun waktu dua bulan, maka status ini dinyatakan sebagai “circulating'”VDPV (cVDPV). cVDPV saat ini terdiri atas tiga jenis, yaitu type 1, type 2, dan type 3. Saat ini, Indonesia sedang darurat cVDPV type 2.[3][4][5]

Seberapa berbahayakah cVDPV type 2?

Pada dasarnya, tiga jenis cVDPV dapat dibedakan dengan dua cara, secara genetik dan melalui tingkat transmisinya (penyebarannya). [1][2]

Tingkat transmisi cVDPV type 3 umumnya berkisar antara rendah ke sedang, namun diantara ketiga jenis cVDPV virus ini memiliki tingkat penyebaran paling rendah. Karena tingkat penyebaran yang rendah ini, cVDPV type 3 hanya mendominasi 1% dari penyebaran cVDPV di seluruh dunia.[1]

cVDPV type 1 memiliki tingkat penyebaran yang lebih tinggi  dibandingkan cVDPV type 3 (dengan tingkat penyebaran yang sama yaitu rendah ke sedang), namun cenderung lebih rendah dibanding cVDPV type 2. Umumnya, cVDPV type 1 banyak ditemukan di daerah yang kurang higienis dan kurang sanitasi. Dari total kasus cVDPV yang ada saat ini, sebesar 13% kasus disebabkan oleh cVDPV type 1.[1]

cVDPV type 2 saat ini sedang menjadi perhatian di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan virus jenis ini memiliki tingkat penyebaran yang tinggi, sehingga mendominasi 86% kasus cVDPV yang tersebar di seluruh dunia.[1]

Kenapa Situasi Ini Bisa Terjadi di Indonesia?

Bedasarkan laporan situasi WHO No.23, kasus cVDPV menjadi Kejadian Luar Biasa dikarenakan beberapa hal, seperti terkait keterbatasan penyimpanan vaksin, tenggat waktu yang sigkat, data yang tidak lengkap, dan keterbatasan komunikasi. Beberapa puskesmas daerah di Indonesia terkendala oleh terbatasnya freezer untuk tempat penyimpanan vaksin, sehingga mempersulit pengadaan vaksinasi. Selain itu, faktor geografis dan prasarana lainnya juga memberikan dampak terhambatnya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di beberapa daerah. Data yang tidak lengkap dan kurangnya koordinasi juga memberikan dampak pada dokumentasi kegiatan PIN secara digital.[4]

Lalu, tindakan apa yang perlu kita lakukan?

Saat ini, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan pihak Puskesmas bekerjasama dengan WHO telah melakukan beberapa upaya untuk menanggulangi permasalahan ini. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan identifikasi puskesmas yang memerlukan dukungan penyimpanan vaksin. Puskesmas melakukan penyusunan dan finalisasi rencana mikro. Kemenkes melakukan peningkatan sistem pelaporan. dan WHO (bersama UNICEF) akan mendukung penyebaran informasi melalui berbagai kanal media.[4]

Kita sebagai ilmuwan juga dapat berperan mencegah hal ini terjadi kembali dengan melakukan riset di bidang masing-masing, seperti terkait penyimpanan vaksin, pembuatan vaksin in-house, dll. Sebagai masyarakat, kita juga dapat membantu menyebarkan informasi ini untuk mencegah meningkatnya KLB virus polio cVDPV di Indonesia.

Sumber :

[1] Alleman MM., Jorba J., Henderson E. et al. 2021. Update on Vaccine-Derived Poliovirus Outbreaks – Worldwide, January 2020 – June 2021. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2021 Dec 10; 70(49): 1691–1699. 

[2] Kalkowska DA., Wassilak SGF., Pallansch MA., et al. 2022. Outbreak response strategies with type 2-containing oral poliovirus vaccines. Vaccine 2023 Apr 6; 41(Suppl 1): A142–A152.

[3] Walter KS., Altamirano J., Huang C., et al. 2023. Rapid emergence and transmission of virulence-associated mutations in the oral poliovirus vaccine following vaccination campaigns. Version 1. medRxiv. Preprint. 2023 Mar 21.

[4] World Health Organization. 2024. Vaccine-Derived Poliovirus Response in Indonesia Situation Report No. 23 4-24 May 2024.

[5] World Health Organization. 2024. Circulating Vaccine-derived Poliovirus Type 2 (cVDPV2) – Indonesia. Diakses pada tanggal 26 Mei 2024 di : https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2024-DON500#:~:text=Indonesia%20reported%20four%20cases%20of,new%20confirmed%20cases%20of%20cVDPV2.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *