Program Vaksinasi Yang Membantu Merdekanya Amerika Serikat

blank
Sebuah lukisan George Washington dan Marquis de Lafayette di atas kuda di kamp musim dingin di Valley Forge, oleh Dunsmore. Sumber Perpustakaan Kongres Amerika Serikat

Vaksinasi? Mendengar namanya saja pasti orang-orang zaman sekarang akan mengaitkannya dengan sebuah teori konspirasi yang mana identik dengan sebuah bisnis farmasi, elit global, wahyudi ataupun yang lainnya. Tapi tahukah anda bahwa dulu vaksinasi membantu merdekanya sebuah negara? Yang mana sekarang ini negara tersebut menjadi negara super power di dunia dengan dominasi militer, politik, dan lain lain.

Ya siapa lagi kalo bukan Amerika Serikat! Ini terjadi ketika Amerika Serikat melawan Inggris di Perang Kemerdekaan atau Perang Revolusi sekitar tahun 1770-an. Dalam perang kemerdekaan Amerika Serikat sendiri, ada satu tokoh kunci yang membawa Amerika Serikat memenangkan banyak pertempuran. Tokoh tersebut adalah George Washington.

George Washington memenangkan Perang Revolusi tidak hanya dengan mengakali dan mengalahkan tentara Angkatan Darat Inggris. Dia juga memenangkannya dengan berhasil mengalahkan apa yang dia sebut sebagai “musuh paling berbahaya” yaitu: wabah cacar.

George Washington  sendiri melakukannya dengan merangkul sains daripada menyerah pada rasa takut. Dia tahu secara langsung betapa bahayanya cacar, karena dia sendiri pernah terinfeksi saat remaja. Ketika dia berusia 19 tahun, Washington dan kakak tirinya pergi ke Barbados pada tahun 1751, dengan harapan udara laut yang hangat akan membantu menyembuhkan tuberkulosis saudaranya. George Washington dan saudaranya tertular penyakit cacar setelah mereka melakukan makan malam dengan seorang pedagang lokal yang anggota keluarganya menderita cacar. 

Seperti COVID-19, cacar memiliki masa inkubasi hingga dua minggu, yang berarti orang yang terinfeksi yang tidak melakukan isolasi atau karantina maka akan dapat menyebarkannya. 

Pertemuan Washington dengan virus itu terbukti membawa keberuntungan bagi Amerika Serikat itu. Pada tahun 1775 Wabah Cacar tiba di Kota Boston, dibawa oleh tentara dari Inggris. Banyak dari tentara Inggris ini telah terpapar dan menjadi kebal, tetapi tidak untuk sebagian besar tentara Amerika kala itu.

Wabah dalam Perang

Washington tahu bahwa pasukannya jauh lebih rentan terhadap penyakit daripada tentara inggris. Itu karena cacar adalah endemik di Inggris, yang berarti bahwa sebagian besar rakyat Inggris telah terjangkit Wabah Cacar.

Kekebalan terhadap cacar menjadi faktor penting selama Perang Kemerdekaan. Tentara inggris sendiri bisa sangat kebal terhadap cacar karena ada 2 faktor yang mempengaruhi yaitu :

  • Pertama, pasukan Inggris terkena dampak epidemi secara tidak terkontrol. Pasukan Inggris yang datang dari Eropa lebih mungkin kebal terhadap penyakit ini, baik melalui vaksinasi atau paparan alami. Ini tidak berlaku untuk pasukan Amerika. Saat tentara memusatkan diri di kamp-kamp, ​​kemungkinan Wabah Cacar akan cepat menyebar.
  • Kedua, Inggris dengan cepat menvaksinasi pasukan baru, karena kemungkinan efek yang ditimbulkan jauh lebih lebih rendah dibanding terpapar secara alami. Washington, di sisi lain, bergumul dengan pertanyaan tentang vaksinasi. Melakukan hal itu tidak hanya berisiko menimbulkan wabah yang semakin menyebar, tetapi itu juga akan membuat sebagian tentara tidak layak untuk bertempur saat mereka menjalani pemulihan setelah vaksinasi. Karena alasan inilah Washington memutuskan untuk tidak melakukan vaksinasi selama pertemuan pertama pasukannya dengan cacar.

Pada pengepungan Boston pada tahun 1775. Warga sipil dan tentara yang menunjukkan gejala infeksi dijauhkan dari tentara lainnya. Ketika perjalanan keluar dari Boston dilakukan, keberadaan cacar sangat diperhitungkan. Amerika sendiri menuduh bahwa Inggris melanggar perjanjian perang, dengan menggunakan penyakit itu sebagai senjata biologis dengan memaksa warga Boston yang berpotensi terinfeksi untuk meninggalkan kota agar dapat menginfeksi tentara Amerika. Untung saja pengepungan itu berhasil ,akan tetapi wabah cacar menjadi tak terkendali. Ketika Inggris menyerahkan kota itu pada musim semi 1776, banyak warga yang menyebarkan Cacar ke seluruh Massachusetts, dan wabah cacar di Boston berlanjut hingga akhir musim panas.

Di tahun yang sama, pasukan Angkatan Darat Amerika yang mengepung Quebec juga menderita kerugian besar karena Cacar. Kurang lebih sepertiga dari 10.000 tentara terinveksi cacar yang membuat mereka harus mundur dari Quebec ,hal inilah yang membuat Amerika gagal menguasai Quebec Banyak ahli sejarah yang beranggapan ketika vaksinasi dilakukan lebih awal ,maka Pasukan Angkatan Darat Amerika bisa memenangkan pertempuran di Quebec dan tentunya Quebec sekarang sudah menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Setelah bertempur selama 6 bulan lamanya,banyak para prajurit mengalami masalah kesehatan yang buruk, membuat mereka lebih rentan terkena Cacar. Akhirnya isolasi atau karantina diberlakukan untuk para pasukan yang terinfeksi, tetapi tidak dijalankan dengan tegas. Selain itu praktik vaksinasi juga dilarang oleh Washington karena dia takut hal tersebut menyebabkan Wabah yang semakin besar. Ketika mereka dipaksa mundur tentara inggris , Cacar mengintai mereka dari belakang. Kerugian ini memberi isyarat kepada Washington dan para Pejabat Tinggi Amerika lainnya bahwa kebijakan isolasi tentara kurang efektif.

Vaksinasi Massal

Setelah berminggu-minggu bimbang, Washington mengeluarkan perintah untuk memvaksinasi semua pasukan pada tanggal 5 Februari 1777, dalam sebuah surat kepada John Hancock. Keesokan harinya, surat kedua dikirim ke Dr. William Shippen, Jr. yang memerintahkan semua tentara yang tinggal di Philadelphia untuk disuntik vaksin. Praktik ini segera dilaksanakan di seluruh pasukan.

Dokter tentara juga menvaksin tentara veteran yang belum terpapar. Washington melakukan vaksinasi secara rahasia. Karena dia takut Inggris akan mengetahui kelemahan sementara tentaranya dan menggunakannya untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran. Akhirnya pada bulan Maret tahun 1778, perintah vaksinasi diubah sedikit. Di Valley Forge, Washington bertemu dengan ribuan tentara yang berhasil menghindari Cacar, baik melalui vaksinasi atau paparan alami.

Membutuhkan bala bantuan segera, Washington menyadari bahwa pasukannya mungkin tidak dapat bertahan dari penundaan vaksinasi. Sebaliknya, ia memerintahkan agar vaksinasi dilanjutkan di kamp di Valley Forge. Jika prosedur karantina gagal, ada risiko wabah tak terkendali. Namun, para prajurit yang menunggu vaksinasi dapat dipanggil ke garis depan jika perlu. Kampanye vaksinasi sangat berhasil. Kurang lebih 40.000 tentara disuntik dan di tahun berikutnya, tingkat infeksi Cacar di Angkatan Darat Amerika turun dari 17% menjadi 1% .

Hal ini membuat tentara Amerika Serikat menjadi kebal terkena Cacar dan dapat memenangkan banyak pertempuran melawan pasukan dari Inggris dan berhasil mengusir Inggris dari tanah Amerika.

Memenangkan Perang Kemerdekaan bukanlah tugas yang mudah. Itu adalah sebuah kesuksesan yang bergantung pada momen-momen penting. Pelarian Tentara Angkatan Darat Amerika melintasi Sungai Delaware, penyerahan Inggris di Saratoga, dan Bantuan intervensi asing dari Spanyol dan Prancis adalah beberapa dari momen-momen penting tersebut. Tapi yang kurang di ketahui oleh banyak orang adalah keputusan berani George Washington untuk memvaksinasi seluruh Tentara Angkatan Darat Amerika terhadap Cacar. Itu adalah vaksinasi massal pertama dalam sejarah militer, dan sangat penting untuk memastikan kemenangan Amerika dalam Perang Kemerdekaan.

Referensi :

  • Almost a Miracle: The American Victory in the War of Independence
  • Fen, Elizabeth. Cacar Americana: Wabah Cacar Besar 1775-1782. New York: Hill dan Wang, 2001. 370 hal.
  • Gabriel, Richard, dan Karen Metz. Sejarah Kedokteran Militer. New York: Greenwood Press, 1992. 2 v.
  • Duncan, Louis C. Medical Men in the American Revolution, 1775-1783. Carlisle barracks, Pa: Medical field Service school, 1931.
  • Ann M. Backer, “Smallpox in Washington’s Army: Strategic Implications of the Disease During the American Revolutionary War,” Journal of Military History 68 (2004): 381-430.
  • Benjamin A. Drew, “George Washington and Smallpox: A Revolutionary Hero and Public Health Activist,” Journal of the American Medical Association Dermatology 151 (2015): 706.
  • Sarah Schuetze, “Carrying Home the Enemy: Smallpox and Revolution in American Love and Letters, 1775-1776.” Early American Literature (2018): 97-125.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Krisna Yudha
Latest posts by Krisna Yudha (see all)
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *