Agar Tidak Salah Paham, Yuk Mengenal Lebih Dekat tentang Vaksin

Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Hal ini dikarenakan kasus kematian SARS-COV-2 belakangan ini kembali melonjak. Lebih parahnya lagi, kasus ini diakibatkan oleh varian baru virus korona yang masuk ke Indonesia. Sebagai upaya untuk menanggulanginya, pemerintah segera melaksanakan vaksinasi massal di seluruh daerah[5].

Namun vaksinasi ini tentu tidak berjalan mulus. Ada-ada saja kelakuan masyarakat panjat sosial yang mempengaruhi persepsi masyarakat sekitar. Dimulai dari pernyataan bahwa SARS-COV-2 itu hanyalah “mitos”[6] hingga pro kontra tentang vaksin, yang dilakukan oleh kaum antivaksin[7]. Sehingga, agar tidak salah paham, perlu adanya informasi yang detail dan benar agar vaksinasi dapat terlaksana dengan baik, seperti yang akan saya sampaikan dalam artikel ini. Selamat membaca.

Apa itu Vaksin?

Istilah vaksin diperoleh dari bahasa latin yang dikenal sebagai Variolae vaccinae. Istilah ini muncul setelah percobaan dari Edward Jenner pada tahun 1798, yang berhasil mencegah penyakit cacar pada manusia melalui mikroba susu sapi. Sekarang, istilah vaksin menjadi lebih spesifik sebagai semua persiapan biologis, yang dihasilkan dari organisme hidup, yang meningkatkan kekebalan terhadap penyakit dan mencegah (vaksin profilaksis) atau, dalam beberapa kasus, mengobati penyakit (vaksin terapeutik)[3].

Bagaimana Vaksin Bekerja?

Ketika mikroorganisme penyebab penyakit yang diinaktivasi atau dilemahkan memasuki tubuh, mereka akan memulai respons imun. Respons ini meniru respons alami tubuh terhadap infeksi. Tetapi tidak seperti organisme penyebab penyakit, vaksin dibuat dari komponen yang memiliki kemampuan terbatas, atau sama sekali tidak dapat menyebabkan penyakit[2].

Komponen organisme penyebab penyakit atau komponen vaksin yang memicu respon imun dikenal sebagai “antigen”. Antigen ini akan memicu produksi “antibodi” oleh sistem kekebalan tubuh. Antibodi akan mengikat antigen yang sesuai dan menginduksi penghancurannya dengan sel imun lainnya[2].

Respon imun yang diinduksi baik terhadap organisme penyebab penyakit atau terhadap vaksin mengkonfigurasi sel-sel imun tubuh agar mampu dengan cepat mengenali, bereaksi, dan menundukkan organisme penyebab penyakit yang relevan. Ketika sistem kekebalan tubuh kemudian terkena organisme penyebab penyakit yang sama, sistem kekebalan akan menahan dan menghilangkan infeksi sebelum dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh[2].

How vaccines work to protect us | OSF HealthCare
Bagaimana Vaksin Bekerja, Sumber : OSF HealthCare

Mengenal Macam-Macam Vaksin

Ada lima jenis vaksin yang digunakan sebagai vaksin SARS-COV-2 di kalangan masyarakat, walaupun sebenarnya ada banyak jenis vaksin lainnya. Kelima vaksin tersebut diantaranya :

  • Attenuated Vaccine : yaitu berupa vaksin yang berasal dari mikroba “yang telah dilemahkan” sehingga kemampuannya untuk menginfeksi inang akan berkurang. Contoh vaksin yang tergolong dalam kelompok ini adalah Codagenix (masih dalam uji klinis fase 3)[8].
  • Inactivated Vaccine : yaitu berupa vaksin yang sifat menginfeksinya, atau toksinnya, telah diinaktifkan dengan panas, bahan kimia, dll. sehingga tidak berbahaya lagi ketika memasuki tubuh. Contoh vaksin ini adalah Sinovac dan Sinopharm[8]
  • Component Vaccine : yaitu vaksin yang merupakan bagian dari virus yang telah dimurnikan. Bagian tersebut bisa berupa protein dan asam nukleat (mRNA), Contoh vaksinnya adalah novavax (protein), Pfizer dan moderna (mRNA) [8]
  • Viral Vector Vaccine : yaitu vaksin yang menggunakan inang virus lain yang membawa gen dari SARS-COV-2. Contohnya adalah vaksin AstraZeneca[8]
  • Dendritic cell Vaccine : merupakan vaksin terbaru yang dikembangkan dalam vaksin nusantara. Vaksin ini memanfaatkan sel dendritic (sel yang berperan dalam imunitas tubuh). Namun vaksin ini masih dalam uji klinis tahap 1 dan belum boleh digunakan oleh masyarakat[4,9]

Bagaimana Vaksin Diproduksi?

Hingga saat ini, Ada tiga metodeutama dalam produksi vaksin :

  • Secara In Vivo : artinya vaksin diproduksi di dalam tubuh makhluk hidup (eukariot), sebagai contoh di dalam telur ayam atau di dalam pisang. Cara ini umumnya merupakan cara tradisional dari pembuatan vaksin[1].
Egg-based Influenza Vaccines | Esco VacciXcell
Produksi Vaksin Secara In Vivo, Sumber : Esco VacciXcell
  • Secara In Vitro : artinya vaksin diproduksi di luar tubuh makhluk hidup, di dalam cawan petri dengan inang berupa sel hewan, bakteri atau khamir. Cara ini umumnya digunakan untuk produksi vaksin DNA rekombinan[1].
Creating vaccines drop by drop – Drug Discovery World (DDW)
Produksi Vaksin Secara In Vitro, Sumber : Drug Discovery World
  • Secara Sintesis Kimiawi : artinya vaksin diproduksi secara kimia dengan memanfaatkan kompleks konjugat karbohidrat-protein[1].
figure1
Produksi Vaksin Dengan Cara Sintesis Kimia, Sumber : Jones, 2015

Apa saja yang terkandung dalam vaksin ?

Selain antigen yang merupakan komponen utama dalam vaksin, vaksin juga memiliki sejumlah fluida seperti air atau garam, pengawet, dan terkadang adjuvant (untuk merangsang respon imun). Bahan-bahan ini berfungsi untuk memastikan kualitas atau potensi vaksin selama masa simpannya. Pengawet pada vaksin juga berfungsi untuk menjaga agar vaksin tetap steril dan terhindar dari bakteri yang tidak diinginkan[10,11].

Apakah ada microchip dalam vaksin? Dilansir dari the Atlantic, James Heathers, kepala petugas ilmiah di Cipher Skin, dan seorang doktor dalam metodologi sinyal fisiologis mengatakan bahwa pernyataan itu adalah pernyataan yang tidak masuk akal. Faktanya, chip 5G yang saat ini beredar memiliki ukuran sebesar uang koin. Bayangkan jika hal tersebut masuk ke dalam jarum suntik berukuran setengah inchi, apakah memungkinkan?[12]

Cipher Skin | LinkedIn
Chiper Skin, Perusahaan Biomedis tempat James Heather Bekerja

Terkait microchip juga dapat dibaca pada artikel “Membongkar Hoax Meresahkan Vaksin Covid 19

Selain itu, ada beberapa hoaks lainnya bahkan yang memiliki jurnal terpublikasi seperti thimerosal, pengawet vaksin yang dikatakan dapat menyebabkan autisme. Publikasi tersebut akhirnya ditarik kembali karena adanya pelanggaran etik dan politik uang. Namun, pengawet ini sudah jarang digunakan sejak tahun 1999 karena insiden tersebut[10,11].

Efektivitas Vaksin

Keefektifan dan durasi efek perlindungan vaksin bergantung pada sifat komponen vaksin dan cara pemrosesannya oleh sistem kekebalan. Beberapa organisme penyebab penyakit, seperti influenza, dapat berubah dari tahun ke tahun, dan membutuhkan imunisasi tahunan untuk melawan strain baru yang bersirkulasi[3].

Apakah Vaksin Aman?

Menurut Plotkin (2008), Vaksin memiliki dampak terbesar pada kesehatan, kedua setelah air minum yang bersih. Vaksin mencegah kematian, penyakit, dan/atau kecacatan. Tetapi karena reaksi kekebalan yang ditimbulkannya, vaksin dapat menyebabkan ketidaknyamanan[3].

Sebagian besar efek samping yang terkait dengan vaksin bersifat kecil dan sementara. Umumnya, efek samping yang timbul bisa berupa nyeri di tempat suntikan, atau demam ringan. Efek samping yang lebih serius jarang terjadi. Beberapa efek samping yang serius mungkin sangat jarang terjadi sehingga hanya terjadi sekali dalam jutaan dosis vaksin yang diberikan, dan beberapa efek samping yang serius dapat terjadi sangat jarang sehingga risikonya tidak dapat dinilai secara akurat. Efek samping vaksin bergantung pada tubuh penggunanya. Beberapa individu mungkin sensitif terhadap beberapa komponen atau elemen dalam beberapa vaksin, seperti telur, antibiotik, atau gelatin. Sehingga diyakini bahwa efek samping yang jarang dan sangat jarang terjadi dikaitkan dengan perbedaan individu dalam respons imun[13].

Bagaimana Pengawasan Keamanan Vaksin Dilakukan?

Apa Itu BPOM? Inilah Pengertian Dan Panduan Lengkap BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan yang mengawasi Keamanan Obat dan Makanan di Indonesia, Sumber : Indonesia.go.id

Pihak yang bertanggung jawab dalam pengawasan keamanan vaksin adalah badan terkait seperti FDA (Food and Drug Administration) di Amerika dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) di Indonesia. Ada lima tahapan utama yang harus dilalui, yang dapat dibaca pada artikel “Indonesia Sudah Melalui Uji Klinis Tahap 3 Vaksin COVID-19, Apa Maksudnya?”. Apabila salah satu tahapan mengalami permasalahan, maka prosesi akan dihentikan[14].

Tahapan tersebut akan memakan waktu setidaknya 2-3 tahun, tapi bukankah itu terlalu lama? Untuk itu, FDA menyediakan izin EUA (Emergency Use Authorization). Dengan EUA, setiap obat atau vaksin boleh digunakan sebelum persetujuan resmi dari FDA. Namun, izin ini baru diberikan untuk obat yang telah melalui uji klinis tahap 4 dan akan tetap diawasi oleh WHO (World Health Organization)[15].

Jawaban terkait kenapa vaksinasi dikelompokkan, seperti untuk manula, dll. Hal ini ternyata ditujukan untuk memudahkan badan pengawas terkait dengan keamanan vaksin. Sehingga apabila ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, badan pengawas bisa segera menindaklanjuti permasalahan tersebut dan benang merah permasalahan tersebut bisa segera diketahui[15].

Tentang Kehalalan Vaksin

Wardah Dapat Penghargaan Halal Top Dari MUI | Korporasi
Logo Halal MUI, Sumber : gatra.com

Kehalalan vaksin memang menjadi perdebatan. Bahkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) masih baru mengeluarkan fatwa halal untuk satu jenis vaksin[17], sedangkan yang lainnya ada yang bersifat haram karena menggunakan enzim tripsin dari babi dan beberapa vaksin lainnya masih dalam proses sertifikasi. Namun, Fatwa MUI No 14 Tahun 2021 memperbolehkan (mubah) penggunaan vaksin SARS-COV-2 dengan alasan dalam keadaan darurat, sehingga semua vaksin SARS-COV-2 boleh digunakan hanya untuk saat ini dari segi agama[16].

Sekian informasi terkait dengan vaksin, sebagai masyarakat yang baik, ayo kita sukseskan proses vaksinasi untuk keluarga dan masyarakat kita. Stop hoaks! Jangan biarkan berita buruk mempengaruhi pandangan anda. Tetap update dengan Warung Sains dan Teknologi agar terhindar dari berita palsu.

Sumber :

[1] Gomes PL dan Robinson JM. 2018. 5 – Vaccine Manufacturing. Plotkin’s Vaccines (Seventh Edition),Elsevier Pages 51-60.e1

[2] Nauta, J. 2010. Basic Concepts of Vaccine Immunology. Statistics in Clinical Vaccine Trials pp 1-12.

[3] Plotkin SL dan Plotkin SA. 2008. A short history of vaccination.  Vaccines 5th edition, S Plotkin, W Orenstein and P Offt, Eds, Saunders Elsevier, China.

[4] Saadeldin, MK, Abdel-Aziz AK., Abdellatif A. 2021. Dendritic cell vaccine immunotherapy; the beginning of the end of cancer and COVID-19. A hypothesis. Medical Hypotheses,Volume 146

[5]https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210624184412-20-659070/70-varian-baru-covid-terdeteksi-di-jakarta-delta-tertinggi diakses pada 27 Juni 2021.

[6] https://www.suara.com/entertainment/2021/06/22/153353/ribut-ribut-soal-endorse-covid-19-ini-kronologi-perdebatan-bintang-emon-dan-jerinx?page=all diakses pada 27 Juni 2021.

[7] https://www.alomedika.com/bukti-medis-untuk-mematahkan-mitos-anti-vaksin diakses pada 27 Juni 2021.

[8]https://www.immunology.org/coronavirus/connect-coronavirus-public-engagement-resources/types-vaccines-for-covid-19 diakses pada 27 Juni 2021.

[9] https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04685603 diakses pada 27 Juni 2021.

[10]http://www.fda.gov/BiologicsBloodVaccines/SafetyAvailability/VaccineSafety/UCM096228#t2 diakses pada 27 Juni 2021.

[11] http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Concerns/adjuvants.html. diakses pada 27 Juni 2021.

[12]https://www.theatlantic.com/technology/archive/2021/06/microchipped-vaccines-15-minute-investigation/619081/ diakses pada 27 Juni 2021.

[13] http://www.health.gov.au/internet/immunise/publishing.nsf/Content/Handbook-adverse diakses pada 27 Juni 2021.

[14] https://warstek.com/tahap-covid/ diakses pada 27 Juni 2021.

[15]https://www.fda.gov/emergency-preparedness-and-response/mcm-legal-regulatory-and-policy-framework/emergency-use-authorization diakses pada 27 Juni 2021.

[16]https://mui.or.id/wp-content/uploads/2021/03/Fatwa-MUI-No-14-Tahun-2021-tentang-Hukum-Penggunaan-Vaksin-Covid-19-Produk-AstraZeneca-compressed.pdf diakses pada 27 Juni 2021.

[17]https://mui.or.id/produk/fatwa/29485/fatwa-mui-no-02-tahun-2021-tentang-produk-vaksin-covid-19-dari-sinovac-life-sciences-co-ltd-china-dan-pt-biofarma/ diakses pada 27 Juni 2021.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *