Studi Menyoroti Aliran Polusi Udara Global dan Pengaruh Rantai Pasok Ekonomi

Emisi karbon monoksida (CO) dari produksi industri berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan merupakan tanda tingkat polusi udara yang tinggi. Banyak negara berusaha mengurangi emisi mereka, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan polusi yang datang dari wilayah lain.

bangunan rendah emisi

Emisi karbon monoksida (CO) dari produksi industri berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan merupakan tanda tingkat polusi udara yang tinggi. Banyak negara berusaha mengurangi emisi mereka, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan polusi yang datang dari wilayah lain. Sebuah studi baru dari University of Illinois Urbana-Champaign meneliti aliran global polusi udara dan hubungannya dengan aktivitas ekonomi dalam rantai pasok global.

Studi ini menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara tingkat produksi suatu negara dan jumlah polusi udara yang dihasilkan. Namun, produksi seringkali didorong oleh permintaan dari konsumen di negara lain. Analisis rantai pasok membantu mengukur hubungan antara produksi dan konsumsi, sehingga bisa memahami bagaimana produksi di satu negara terkait dengan permintaan dalam negeri dan luar negeri.

Para peneliti melacak pergerakan polutan di atmosfer untuk memahami aliran emisi, menggunakan simulasi yang dikembangkan oleh Nicole Riemer, profesor di Departemen Ilmu Iklim, Meteorologi, & Atmosfer di Illinois. Dunia dibagi menjadi lima bagian untuk analisis: Amerika Serikat, Eropa, China, Korea Selatan, dan sisanya. Korea Selatan, yang terletak di hilir China, menjadi contoh bagaimana negara kecil bisa terkena dampak polusi dari negara besar di hulu.

Studi ini menemukan bahwa emisi karbon monoksida dari China ke Korea Selatan meningkat dari 30 teragram (Tg) pada 1990 menjadi 42 Tg pada 2014. Satu teragram setara dengan satu triliun gram.

Analisis dekomposisi struktural digunakan untuk mengidentifikasi faktor ekonomi dari emisi karbon monoksida di lima wilayah studi. Meskipun China telah meningkatkan teknologi untuk mengurangi polusi, total emisi karbon monoksida tetap meningkat karena produksi meningkat.

Para peneliti juga melihat dari mana permintaan yang mendorong peningkatan produksi itu berasal. Dalam kasus China, peningkatan tersebut sebagian berasal dari permintaan di AS dan Eropa, tetapi terutama didorong oleh rumah tangga di China. Populasi China tumbuh pesat antara 1990 dan 2014, dan semakin kaya, sehingga konsumsi meningkat.

Dall’erba, Riemer, dan Xu menekankan bahwa setiap orang bisa berperan dalam mengurangi emisi. Produsen bisa menerapkan perubahan teknologi; pembuat kebijakan bisa mengeluarkan regulasi atau memberikan insentif; dan konsumen bisa memilih produk yang ramah lingkungan.

Referensi :

[1] https://aces.illinois.edu/news/illinois-study-identifies-atmospheric-and-economic-drivers-global-air-pollution diakses pada 28 Juni 2024

[2] Sandy Dall’erba, Nicole Riemer, Yilan Xu, Ran Xu, Yu Yao. Identifying the key atmospheric and economic drivers of global carbon monoxide emission transfersEconomic Systems Research, 2024; 1 DOI: 10.1080/09535314.2023.2300787

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *