Di jantung Amerika Selatan, tepatnya di wilayah Junín, Peru, terbentang hamparan hutan tropis yang subur dan lembap. Tanah di hutan ini selama ribuan tahun menjadi penopang kehidupan: dari pepohonan raksasa yang menjulang hingga komunitas kecil yang hidup di pinggiran hutan. Namun, di balik hijaunya pepohonan dan aliran sungai yang jernih, ada perubahan senyap yang kini mengancam fondasi kehidupan itu sendiri menurunnya kualitas tanah.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Soil Security tahun 2025 mengungkap bahwa perubahan tutupan lahan dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan telah merusak struktur dan kesuburan tanah di hutan Junín. Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Carlos Carbajal bersama Fernanda Moya-Ambrosio, Elvis Ottos-Diaz, dan Cinthya Aguilar-Antony Baria.
Tujuan mereka sederhana tetapi penting: mengetahui bagaimana cara manusia mengubah tanah hutan ketika ekosistem alami dialihkan menjadi lahan pertanian.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Tanah: Lebih dari Sekadar Debu di Bawah Kaki
Bagi banyak orang, tanah sering dianggap hal yang biasa. Namun bagi ilmuwan, tanah adalah organisme hidup. Ia bernafas, bereaksi, dan memiliki keseimbangan kompleks antara unsur kimia, mikroorganisme, dan bahan organik.
Kualitas tanah ditentukan oleh banyak faktor: kandungan nutrisi, kelembapan, kemampuan menyerap air, hingga jumlah mikroba di dalamnya. Jika salah satu komponen ini rusak, tanah kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan tanaman — dan pada akhirnya, kehidupan manusia.
Di hutan tropis seperti Junín, tanah terbentuk secara alami selama ribuan tahun melalui interaksi daun yang membusuk, akar tanaman, dan curah hujan tinggi. Tapi kini, perubahan besar sedang terjadi akibat alih fungsi lahan.
Dari Hutan Menjadi Ladang
Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar kawasan hutan Junín telah dibuka untuk dijadikan lahan pertanian dan peternakan. Petani lokal menggantikan pohon tropis dengan tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan kopi.
Namun, praktik pengelolaan tanah yang tidak tepat, seperti pembakaran lahan, penanaman terus-menerus tanpa rotasi tanaman, dan penggunaan pupuk kimia berlebih, telah mempercepat degradasi tanah.
Penelitian Carbajal dan timnya menunjukkan bahwa alih fungsi dari ekosistem alami menjadi lahan pertanian mengubah sifat fisik dan kimia tanah secara drastis. Tanah yang dulu gembur dan kaya bahan organik kini menjadi keras, miskin nutrisi, dan rentan terhadap erosi.
Meneliti Tanah dari Dalam ke Luar
Untuk memahami seberapa besar perubahan yang terjadi, para peneliti mengumpulkan sampel tanah antara Desember 2021 dan Juli 2022 dari dua wilayah penting di Junín: Chanchamayo dan Satipo. Mereka membandingkan tanah dari berbagai jenis tutupan lahan, mulai dari hutan alami, lahan pertanian, hingga area yang baru dibuka.
Setiap sampel diuji di laboratorium untuk menilai kandungan karbon organik, nitrogen, pH, tekstur tanah, dan indikator biologis lainnya.
Hasilnya menunjukkan pola yang jelas:
- Tanah hutan alami memiliki kualitas tertinggi dengan kadar bahan organik dan kelembapan yang seimbang.
- Tanah di lahan pertanian mengalami penurunan kualitas signifikan, terutama pada kadar karbon organik dan stabilitas struktur tanah.
- Daerah yang mengalami pembukaan lahan baru menunjukkan kerusakan paling berat, karena lapisan tanah atas (top soil) yang subur hilang akibat erosi.
Tanah yang Hilang, Kehidupan yang Terancam
Penurunan kualitas tanah bukan sekadar masalah pertanian. Ia adalah indikasi krisis ekologi yang lebih luas. Tanah yang rusak berarti berkurangnya kemampuan hutan untuk menyerap karbon, meningkatnya risiko banjir, serta menurunnya keanekaragaman hayati.
Menurut penelitian ini, setiap kali satu hektare hutan diubah menjadi lahan pertanian, fungsi ekosistem alami yang menjaga keseimbangan air dan udara juga ikut lenyap.
Selain itu, menurunnya kualitas tanah berdampak langsung pada petani itu sendiri. Tanaman menjadi kurang subur, hasil panen menurun, dan biaya produksi meningkat karena harus menambah pupuk atau pestisida. Dalam jangka panjang, ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan kerusakan lingkungan.
Mengapa Junín Jadi Titik Penting?
Wilayah Junín memiliki posisi strategis di Peru karena menjadi perbatasan antara hutan Amazon dan dataran tinggi Andes. Ini menjadikannya laboratorium alami untuk mempelajari bagaimana perubahan iklim dan aktivitas manusia memengaruhi tanah tropis.
Tanah di Junín termasuk salah satu yang paling subur di Peru, sehingga wajar jika tekanan terhadap lahan meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Namun, tanpa perencanaan jangka panjang, daerah ini bisa kehilangan potensi alaminya.

Mencari Solusi dari Dalam Tanah
Penelitian ini tidak hanya menggambarkan masalah, tetapi juga membuka jalan bagi solusi. Para peneliti menekankan pentingnya praktik pertanian berkelanjutan yang mampu menjaga kualitas tanah.
Beberapa strategi yang mereka rekomendasikan meliputi:
- Agroforestri, yaitu sistem pertanian yang memadukan tanaman pangan dengan pohon hutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
- Rotasi tanaman, agar tanah memiliki waktu untuk memulihkan unsur haranya.
- Penggunaan pupuk organik, seperti kompos dan biochar, yang dapat meningkatkan kandungan karbon tanah.
- Konservasi lapisan tanah atas, dengan menanam penutup tanah (cover crops) dan menghindari pembakaran lahan.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, petani dapat memperlambat kerusakan tanah sekaligus mempertahankan produktivitas.
Tanah: Cermin Hubungan Manusia dan Alam
Studi ini pada akhirnya mengingatkan kita bahwa tanah adalah saksi hubungan manusia dengan alam. Ketika manusia memperlakukan alam hanya sebagai sumber daya ekonomi, tanah menjadi korban pertama. Namun, ketika manusia mulai menghormati alam sebagai sistem yang hidup, tanah bisa kembali bernapas.
Hutan Junín mungkin jauh di Peru, tetapi pesannya berlaku universal. Di mana pun, dari Amazon hingga Indonesia, tanah adalah fondasi kehidupan. Menjaganya berarti menjaga masa depan pangan, air, dan iklim bumi.
Dari Junín untuk Dunia
Penelitian ini memberikan pesan sederhana: perubahan kecil di permukaan tanah dapat membawa dampak besar bagi seluruh planet. Jika hutan terus ditebangi dan tanah terus dieksploitasi, kita bukan hanya kehilangan sumber daya, tetapi juga kehilangan keseimbangan ekologis yang menopang kehidupan.
Dengan memahami bagaimana kualitas tanah berubah akibat aktivitas manusia, kita memiliki kesempatan untuk memperbaikinya, bukan hanya di Peru, tetapi di seluruh dunia yang menghadapi tantangan serupa.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Carbajal, Carlos dkk. 2025. Soil quality variation associated with land cover in the Peruvian jungle of the Junín region. Soil Security 19, 100188.

