Ketika kita mendengar suara jangkrik di malam hari, kita biasanya menganggap itu adalah suara alam biasa. Tapi di balik kicauan kecil itu, ternyata sedang terjadi berbagai interaksi sosial dan perilaku menarik yang baru saja mulai kita pahami, termasuk perilaku sesama jenis antara jangkrik betina, sesuatu yang selama ini luput dari perhatian ilmuwan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jangkrik betina juga bisa menunjukkan perilaku seksual terhadap sesama betina, dan ini bukan hal yang aneh atau luar biasa, kita hanya belum benar-benar memperhatikannya sebelumnya.
Apa yang Terjadi di Dunia Jangkrik?
Penelitian ini dilakukan pada jangkrik ladang Hawaii (Hawaiian field crickets), sejenis jangkrik yang sering dipelajari karena perilaku sosial dan mekanisme evolusinya yang unik. Biasanya, jangkrik jantan mengeluarkan suara kicauan untuk menarik pasangan betina. Tapi, beberapa jangkrik jantan mengalami mutasi genetik yang membuat mereka tidak bisa bersuara, kondisi ini disebut flatwing.
Awalnya, kamu mungkin mengira ini adalah kekurangan, tapi sebenarnya mutasi ini justru menyelamatkan mereka. Kenapa? Karena ada sejenis lalat parasit yang menggunakan suara jangkrik untuk menemukan dan menyerangnya. Jadi, jangkrik jantan flatwing yang tidak bersuara justru lebih aman dari predator.
Tapi Bagaimana Dampaknya ke Betina?
Selama ini, fokus penelitian tentang jangkrik lebih banyak diarahkan ke jantan, bagaimana mereka berkicau, berebut pasangan, dan menghindari predator. Tapi para peneliti mulai bertanya: bagaimana dampaknya bagi betina, terutama dari sisi sosial dan seksual, jika suara jantan hilang?
Dalam studi terbaru ini, para ilmuwan mencoba melihat apa yang terjadi ketika jangkrik betina hidup di lingkungan yang sunyi, tanpa kicauan jantan. Dan hasilnya mengejutkan: jangkrik betina mulai menunjukkan perilaku sesama jenis terhadap betina lainnya.
Perilaku seksual sesama jenis bukan hal yang baru di dunia hewan. Dalam banyak spesies, jangkrik jantan sudah lama diketahui menunjukkan perilaku sesama jenis, baik karena salah mengenali lawan jenis atau sebagai bagian dari interaksi sosial.
Namun, perilaku serupa pada betina masih jarang dilaporkan, bukan karena tidak ada, tapi karena jarang diamati dengan saksama. Inilah poin penting dari studi ini: mungkin selama ini para peneliti tidak cukup memperhatikan betina, karena diasumsikan bahwa perilaku seksual aktif hanya dimiliki oleh jantan.
Dalam eksperimen yang dilakukan, peneliti membandingkan betina dari dua populasi jangkrik berbeda: satu dari kelompok yang penuh dengan jangkrik jantan bersuara, dan satu lagi dari populasi sunyi yang didominasi oleh jantan flatwing. Hasilnya menunjukkan bahwa jangkrik betina dari populasi yang sunyi lebih sering menunjukkan perilaku kawin terhadap betina lain.
Mereka mendekati, memanjat, bahkan mencoba kawin dengan betina lain, sebuah perilaku yang mirip dengan proses kawin biasa, hanya saja terjadi antara dua betina. Yang menarik, ini bukan kesalahan identifikasi. Para betina tersebut tahu bahwa mereka mendekati betina lain, tapi tetap menunjukkan perilaku seksual.
Apa Artinya Semua Ini?
Penemuan ini tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang dunia jangkrik, tetapi juga menantang cara kita melihat perilaku hewan secara umum. Dalam ilmu biologi, ada kecenderungan untuk menganggap perilaku sesama jenis sebagai sesuatu yang langka, menyimpang, atau hanya terjadi karena kesalahan. Padahal, mungkin saja perilaku ini lebih umum dan alami, tetapi luput dari perhatian karena fokus penelitian yang terbatas.
Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial, seperti kehadiran atau ketiadaan suara jantan bisa mempengaruhi bagaimana seekor hewan berperilaku. Dengan kata lain, perilaku tidak selalu hanya dipengaruhi oleh gen, tetapi juga oleh kondisi sekitarnya.
Meskipun kita berbicara tentang jangkrik, penemuan ini memberi pelajaran penting bagi manusia juga, terutama tentang cara kita memahami seksualitas dan perilaku sosial. Alam ternyata jauh lebih beragam dari yang kita bayangkan. Jika kita hanya mencari perilaku tertentu, kita mungkin melewatkan gambaran yang lebih luas.
Ilmu pengetahuan berkembang bukan hanya karena temuan baru, tapi juga karena keberanian untuk melihat dengan cara baru. Kadang, jawaban bukan belum ada, kita saja yang belum benar-benar melihatnya.
Penelitian ini membuka mata bahwa jangkrik betina ternyata memiliki perilaku sosial dan seksual yang kompleks, dan bahwa kita mungkin telah melewatkan banyak hal hanya karena terlalu fokus pada jantan.
Lebih luas lagi, ini adalah pengingat bahwa di dunia hewan (dan juga manusia), keragaman perilaku adalah hal yang wajar. Daripada terburu-buru menilai atau mengkotakkan perilaku sebagai “normal” atau “aneh”, sains justru mengajak kita untuk memahami, menggali, dan terus bertanya.
Jadi, lain kali kamu mendengar suara jangkrik di malam hari, ingatlah mungkin ada lebih banyak cerita yang belum kita dengar, karena kita belum benar-benar mendengarkan.
REFERENSI:
Higgs, Eleanor. 2025. First Female Same-Sex Behavior Seen In Crickets, But Only Because We’ve Not Been Looking. IFL Science: https://www.iflscience.com/first-female-same-sex-behavior-seen-in-crickets-but-only-because-weve-not-been-looking-80122 diakses pada tanggal 26 Juli 2025.

