Konferensi Tanpa Terbang: Masa Depan Ilmu Pengetahuan yang Lebih Ramah Lingkungan

Beberapa dekade terakhir, perjalanan udara menjadi bagian penting dari kehidupan akademisi dan peneliti. Mereka terbang ke berbagai negara untuk menghadiri […]

Beberapa dekade terakhir, perjalanan udara menjadi bagian penting dari kehidupan akademisi dan peneliti. Mereka terbang ke berbagai negara untuk menghadiri konferensi, mempresentasikan penelitian, bertemu kolaborator, membangun jaringan profesional, serta mengikuti perkembangan keilmuan terbaru. Namun seiring meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, perjalanan udara menjadi sorotan karena kontribusinya yang signifikan pada emisi karbon. Pesawat merupakan salah satu moda transportasi dengan jejak karbon tertinggi per penumpang. Di tengah urgensi mengurangi dampak lingkungan ini, para peneliti mulai mempertanyakan apakah perjalanan udara untuk konferensi masih relevan dan bagaimana sebenarnya cara untuk menguranginya tanpa mengorbankan esensi dari kegiatan akademik itu sendiri.

Sebuah penelitian yang dilakukan di tiga negara Eropa, yakni Swiss, Austria, dan Jerman, mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini melibatkan peneliti dari tujuh belas institusi akademik dan menggali sudut pandang mereka tentang perjalanan udara yang terkait dengan konferensi serta cara terbaik untuk menekan frekuensinya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran menarik mengenai budaya akademik, perubahan perilaku, dan peluang untuk menciptakan sistem konferensi yang lebih berkelanjutan.

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa perjalanan udara telah menjadi norma yang mengakar kuat dalam dunia akademik. Banyak peneliti menganggap bahwa menghadiri konferensi fisik adalah bagian penting dalam pengembangan karier. Konferensi bukan sekadar tempat untuk menyampaikan makalah ilmiah, tetapi juga menjadi ruang tatap muka yang dianggap tidak tergantikan untuk membangun jejaring profesional. Interaksi informal di koridor konferensi, diskusi spontan setelah presentasi, atau kesempatan bertemu pemimpin bidang tertentu sering kali dinilai sebagai pengalaman yang memperluas peluang akademis. Dalam banyak kasus, penilaian terhadap pencapaian karier peneliti bahkan mempertimbangkan seberapa aktif mereka berpartisipasi dalam konferensi internasional.

Baca juga artikel tentang: Dari Kutub ke Kota: Perjalanan Udara Dingin Lewat Polar Vortex

Namun para peneliti juga menyadari bahwa kebiasaan ini membawa konsekuensi lingkungan yang besar. Pesawat menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tidak sebanding dengan moda transportasi lain seperti kereta api. Karena itu, banyak akademisi mulai mempertanyakan apakah semua perjalanan tersebut benar benar diperlukan. Sebagian mulai memikirkan kembali pola perjalanan mereka, terutama setelah pandemi COVID 19 yang memaksa hampir seluruh konferensi dialihkan menjadi format daring. Pengalaman tersebut membuka wawasan baru bahwa kolaborasi jarak jauh ternyata tetap dapat berjalan dan konferensi virtual memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi.

Meski demikian, transisi menuju konferensi virtual tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Banyak peneliti mengakui bahwa konferensi daring tidak mampu sepenuhnya menggantikan dinamika interaksi fisik. Mereka menekankan bahwa sesi presentasi virtual tidak memberikan peluang yang sama untuk membangun jaringan karena percakapan spontan sulit terjadi. Selain itu, perbedaan zona waktu, kualitas akses internet, serta rasa lelah akibat terlalu lama berada di depan layar menjadi hambatan tersendiri. Keterbatasan tersebut membuat banyak konferensi kembali ke format tatap muka setelah pandemi mereda, meskipun pilihan daring tetap dipertahankan dalam beberapa konteks.

Perbandingan faktor-faktor praktik, budaya material, dan norma kognitif yang menyebabkan perjalanan konferensi meningkat versus yang memungkinkan pengurangannya secara signifikan.

Penelitian ini menggunakan kerangka transport cultures atau budaya transportasi untuk memahami hubungan antara perilaku perjalanan udara dan lingkungan sosial budaya akademisi. Kerangka ini melihat bagaimana kebiasaan dan norma kelompok memengaruhi cara individu memilih moda transportasi. Dalam dunia akademik, hadir secara fisik dalam konferensi besar sering kali dipandang sebagai bentuk legitimasi profesional. Norma ini mendorong peneliti untuk tetap melakukan perjalanan udara meskipun mereka sadar akan dampak lingkungannya.

Melalui pendekatan ini, penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi sejumlah peluang untuk mengurangi perjalanan udara tanpa menghilangkan nilai penting konferensi. Salah satu peluang yang dianggap paling efektif adalah mengubah praktik konferensi secara struktural. Misalnya, banyak konferensi internasional dapat dilakukan secara hibrida, yaitu menggabungkan sesi tatap muka dan virtual. Dengan cara ini, peserta yang berada jauh dan membutuhkan perjalanan udara dapat memilih hadir secara virtual, sementara peserta lokal atau regional hadir langsung. Model hibrida ini dinilai mampu menjaga kualitas interaksi sekaligus menekan emisi secara signifikan.

Selain itu, perubahan kebijakan institusi juga dianggap penting. Institusi akademik dapat menerapkan pedoman perjalanan yang lebih ketat, seperti mendorong staf untuk menggunakan kereta jika jarak tempuh memungkinkan atau hanya mengizinkan perjalanan udara untuk konferensi yang benar benar penting bagi karier atau penelitian. Beberapa institusi bahkan mempertimbangkan untuk memasukkan jejak karbon sebagai faktor dalam persetujuan perjalanan dinas akademik. Dengan demikian, kebiasaan melakukan perjalanan udara dapat dikurangi secara bertahap melalui perubahan kebijakan dan budaya organisasi.

Perubahan norma kognitif juga menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian. Selama ini, banyak peneliti merasa bahwa keberhasilan karier akademik sangat dipengaruhi oleh seberapa sering mereka hadir di konferensi luar negeri. Namun pandangan ini mulai bergeser. Seiring meningkatnya kesadaran tentang keberlanjutan, semakin banyak institusi dan individu yang melihat bahwa kualitas kontribusi ilmiah tidak harus diukur dari jumlah perjalanan udara. Perubahan cara pandang ini memberikan peluang besar untuk mengurangi tekanan bagi peneliti yang sebelumnya merasa perlu terbang berkali kali dalam setahun demi menjaga reputasi akademik.

Penelitian ini juga menekankan perlunya kebijakan jangka panjang yang tidak hanya mengandalkan pilihan individual, tetapi juga pada perubahan struktural. Dengan kata lain, tanggung jawab mengurangi perjalanan udara tidak boleh dibebankan sepenuhnya pada peneliti sebagai individu. Institusi, penyelenggara konferensi, dan pembuat kebijakan harus berperan aktif dalam menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti konferensi regional, platform kolaborasi virtual yang lebih baik, serta pendanaan yang mendukung kegiatan hibrida.

Kesimpulannya, perjalanan udara dalam dunia akademik masih dianggap relevan karena nilai sosial dan profesional yang melekat di dalamnya. Namun kesadaran akan dampak lingkungan terus mendorong perubahan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan perjalanan udara dapat dicapai melalui kombinasi perubahan budaya, transformasi praktik konferensi, kebijakan institusional yang lebih tegas, serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan langkah langkah ini, akademisi dapat tetap berkolaborasi dan berkembang tanpa harus membebani planet yang semakin rentan akibat emisi karbon.

Jika dirancang dengan baik, masa depan konferensi ilmiah dapat menjadi lebih inklusif, ramah lingkungan, dan efisien. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi juga sedang berlangsung, didorong oleh kesadaran kolektif bahwa perjalanan udara bukan lagi satu satunya cara untuk terhubung dalam dunia ilmu pengetahuan.

Baca juga artikel tentang: Udara Sehat, Hewan Bahagia: Mengapa Air Purifier Penting untuk Pecinta Hewan

REFERENSI:

Wenger, Ariane dkk. 2025. Conference air travel’s relevance and ways to reduce it. Transportation Research Part D: Transport and Environment 138, 104488.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top