Biasanya, supernova adalah “tabir terakhir” dalam hidup sebuah bintang raksasa. Ketika bahan bakar nuklir di inti bintang habis, keseimbangan antara tekanan ke luar (dari reaksi fusi) dan tarikan gravitasi ke dalam runtuh. Akibatnya, bintang kolaps dan meledak dalam peristiwa dahsyat yang kita sebut supernova.
Namun, kasus SN 2023zkd jauh lebih unik. Ledakan ini tidak hanya dipicu oleh proses alami dalam bintang itu sendiri, melainkan juga oleh “gangguan eksternal” dari sebuah lubang hitam yang ada di dekatnya. Lubang hitam dikenal sebagai objek kosmik dengan gravitasi ekstrem, begitu kuat hingga cahaya pun tidak bisa lepas darinya.
Dalam peristiwa ini, tarikan gravitasi lubang hitam bertindak seperti “pemicu maut” yang mempercepat kehancuran bintang. Interaksi langka ini memberi para astronom kesempatan baru untuk memahami bagaimana kekuatan gravitasi ekstrem tidak hanya memengaruhi ruang dan waktu di sekitarnya, tetapi juga bisa menentukan cara sebuah bintang mengakhiri hidupnya.
Fenomena ini membuka jendela baru dalam astrofisika, karena menunjukkan bahwa kematian bintang tidak selalu ditentukan oleh proses internal saja, melainkan bisa dipengaruhi oleh lingkungan kosmik di sekitarnya.
Bintang dan Lubang Hitam dalam Sistem Biner
Supernova SN 2023zkd ditemukan di lokasi yang sangat jauh dari Bumi, sekitar 730 juta tahun cahaya. Artinya, cahaya dari peristiwa ini baru sampai ke kita setelah menempuh perjalanan ratusan juta tahun melintasi jagat raya. Dengan kata lain, apa yang kita lihat hari ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman ketika kehidupan kompleks baru mulai muncul di Bumi purba.
Fenomena ini terjadi di sebuah sistem biner. Dalam astronomi, sistem biner adalah pasangan dua benda langit. Biasanya bintang dengan bintang lain, atau bintang dengan objek kosmik eksotis yang saling mengorbit karena tarikan gravitasi. Dalam kasus SN 2023zkd, pasangan tersebut adalah sebuah bintang raksasa dan sebuah lubang hitam dengan massa hampir sama dengan Matahari kita.
Karena keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat, gravitasi lubang hitam bekerja seperti penyedot raksasa. Secara perlahan, ia menarik gas dan materi dari permukaan bintang tetangganya. Materi ini tidak langsung “ditelan”, melainkan berputar mengelilingi lubang hitam dan membentuk cakram akresi, struktur berupa piringan tipis yang sangat panas dan berputar dengan kecepatan tinggi.
Di dalam cakram akresi, materi bintang diperas dan dipanaskan hingga mencapai suhu jutaan derajat. Energi panas ini membuat cakram memancarkan cahaya dan radiasi dalam berbagai panjang gelombang, dari sinar-X hingga cahaya tampak. Bagi para astronom, pola radiasi dari cakram akresi menjadi semacam “sidik jari” yang membantu mereka memahami bagaimana lubang hitam melahap materi dan memengaruhi lingkungannya.
Fenomena inilah yang membuat SN 2023zkd begitu menarik: ia bukan hanya cerita tentang bintang yang mati, melainkan juga tentang hubungan erat antara bintang dan lubang hitam yang hidup bersama dalam tarian gravitasi mematikan.
Baca juga artikel tentang: Mengungkap Rahasia Debu Bintang Supernova dalam Meteorit Kuno
Peran AI: “Mata” yang Menangkap Keanehan
justru bukan dari teleskop yang diarahkan manual oleh astronom, melainkan dari sebuah sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sistem ini dikenal dengan nama LAISS, sebuah algoritma pintar yang dirancang khusus untuk menyaring data astronomi secara real-time, artinya, ia bekerja tanpa henti, memantau sinyal dari langit detik demi detik.
Tugas LAISS mirip seperti “penjaga gerbang kosmos”: ia meneliti pola cahaya dari jutaan bintang dan galaksi yang direkam teleskop, kemudian membandingkannya dengan database supernova yang sudah dikenal. Biasanya, supernova memiliki tanda khas, yakni peningkatan cahaya yang tiba-tiba lalu perlahan meredup dalam rentang waktu tertentu. Namun kali ini, LAISS mendeteksi pola cahaya yang berbeda dari biasanya seperti sebuah “sidik jari” yang tidak cocok dengan kategori supernova normal.
Begitu anomali itu muncul, sistem AI segera mengirimkan peringatan otomatis kepada para astronom di berbagai belahan dunia. Peringatan dini ini sangat penting, karena ledakan bintang adalah peristiwa kosmik yang berkembang cepat; dalam hitungan hari atau minggu saja, informasi berharga bisa hilang bila tidak segera ditangkap.
Berkat deteksi awal dari AI, para ilmuwan bisa langsung mengarahkan teleskop-teleskop besar untuk melakukan pengamatan intensif. Mereka berhasil merekam prosesnya hampir dari awal, mulai dari fase ledakan pertama, puncak cahaya supernova, hingga tahap redupnya. Hal ini sangat berharga, sebab biasanya astronom hanya menemukan supernova setelah ia sudah “terlambat”, yaitu ketika bintang sudah terlanjur berada di fase akhir peredupannya.
Dengan kata lain, LAISS telah membuktikan bahwa kecerdasan buatan kini bukan hanya alat bantu, melainkan mitra penelitian yang bisa memperluas jangkauan pengamatan manusia. Kehadirannya memungkinkan kita tidak lagi “ketinggalan momen” dalam mengabadikan peristiwa-peristiwa langit yang singkat, langka, dan spektakuler.
Mekanisme Ledakan: Dua Tahap yang Jarang Terjadi
Pengamatan menunjukkan perilaku tak biasa:
- Tahap awal: Cahaya supernova muncul jauh lebih lama daripada supernova normal, bertahan hingga beberapa tahun.
- Tahap kedua: Setelah meredup, bintang tiba-tiba kembali terang dalam ledakan kedua.
Para peneliti menduga ada dua kemungkinan penyebab:
- Gangguan pasang surut (tidal disruption) yang membuat bintang “robek” sebagian, lalu sisa materialnya ditarik masuk ke lubang hitam, memicu ledakan susulan.
- Ledakan inti supernova yang dipengaruhi oleh tarikan lubang hitam sehingga menghasilkan pola cahaya ganda.
Dengan peringatan dari AI, astronom menggunakan berbagai teleskop optik, inframerah, dan ultraviolet untuk memantau peristiwa ini. Pendekatan ini merupakan contoh astronomi multimessenger, di mana informasi dari berbagai panjang gelombang digabung untuk membangun gambaran menyeluruh.
Signifikansi Ilmiah: Mengubah Cara Kita Memahami Supernova
- Menambah kategori baru supernova yang melibatkan interaksi dengan lubang hitam.
- Membuktikan peran AI dalam mendeteksi fenomena langka yang sulit diidentifikasi manusia.
- Memberikan data observasi penuh, sesuatu yang sangat jarang terjadi untuk peristiwa kosmik unik seperti ini.
Dengan fasilitas seperti Vera Rubin Observatory yang akan segera beroperasi, astronom berharap menemukan lebih banyak supernova jenis baru. Kombinasi AI, teleskop canggih, dan kolaborasi global menjadi kunci untuk membongkar rahasia alam semesta yang tersisa.
Baca juga artikel tentang: JWST Menemukan Bintang Neutron dalam Sisa-sisa Supernova 1987a: Penemuan Terobosan dalam Astronomi
REFERENSI:
Carpineti, Alfredo. 2025. A Black Hole Hitting A Star Created A Never-Before-Seen Type Of Supernova. IFL Science: https://www.iflscience.com/a-black-hole-hitting-a-star-created-a-never-before-seen-supernova-80403 diakses pada tanggal 15 Agustus 2025.
Gagliano, Alexander. 2025. Years-Long Emission Heralds the Double-Peaked Type IIn Supernova 2023zkd. American Astronomical Society Meeting Abstracts 246, 134.02.

