Pada tanggal 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dengan kekuatan luar biasa besar. Dentumannya begitu keras hingga terdengar sampai ribuan kilometer jauhnya, bahkan dilaporkan terdengar hingga Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia, ribuan kilometer dari lokasi letusan. Ledakan ini melepaskan awan abu vulkanik raksasa yang menjulang ke langit, mencapai ketinggian lebih dari 30 kilometer, menembus hingga ke lapisan stratosfer (lapisan atmosfer kedua setelah troposfer, tempat sebagian besar cuaca terjadi).
Letusan itu bukan hanya menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak, puluhan ribu orang di sekitar Selat Sunda meninggal akibat gelombang tsunami dan runtuhan material tetapi juga menimbulkan dampak global. Abu dan gas belerang yang terlempar ke atmosfer tidak segera turun, melainkan melayang dan tersebar ke seluruh dunia oleh angin di ketinggian. Akibatnya, selama berbulan-bulan setelah letusan, langit di berbagai belahan Bumi berubah warna secara dramatis: matahari terbit dan terbenam tampak merah menyala, bulan tampak kebiruan, dan senja dihiasi nuansa ungu serta hijau yang jarang terlihat.
Catatan dari berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika, hingga Asia menyebutkan bahwa setelah letusan Krakatau, orang-orang melihat fenomena langit yang sangat aneh dan tidak biasa. Matahari saat terbit maupun terbenam tampak merah menyala, hampir seperti warna darah, sesuatu yang membuat banyak orang kala itu merasa kagum sekaligus takut. Tidak hanya itu, beberapa saksi melaporkan adanya kilatan hijau pada langit senja, sebuah fenomena langka yang dalam sains modern dikenal sebagai green flash atau kilatan hijau, biasanya muncul sebentar di ufuk ketika cahaya matahari dibiaskan oleh atmosfer. Lebih mengejutkan lagi, pada malam hari, bulan tampak berwarna biru keunguan, jauh berbeda dari cahaya keperakan yang biasa kita kenal.
Fenomena-fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Warna-warna tidak lazim tersebut muncul karena lapisan atmosfer dipenuhi abu vulkanik dan partikel sulfur dari letusan Krakatau. Partikel-partikel kecil ini menyaring dan menyebarkan cahaya matahari dengan cara tertentu, dalam ilmu fisika atmosfer dikenal sebagai penyebaran cahaya (light scattering). Karena panjang gelombang cahaya berbeda-beda (merah panjang, biru pendek), interaksi dengan partikel di udara bisa membuat warna yang kita lihat di langit menjadi berubah drastis. Itulah sebabnya matahari tampak merah darah, senja bisa berkilau hijau, dan bulan pun terlihat biru, sebuah “pertunjukan cahaya alami” yang terjadi akibat bencana geologis terbesar abad ke-19.
Sains di Balik Warna Langit
Fenomena ini terjadi karena letusan Krakatau menyemburkan debu, abu vulkanik, dan sulfur dioksida ke lapisan stratosfer. Partikel halus ini menyebarkan (scattering) cahaya matahari dengan cara berbeda-beda, tergantung panjang gelombangnya.
- Cahaya biru & ungu (gelombang pendek) biasanya lebih mudah tersebar oleh molekul udara, membuat langit siang tampak biru.
- Namun, saat atmosfer dipenuhi aerosol vulkanik, cahaya biru justru terhalang, dan merah-oranye mendominasi, sehingga matahari tampak menyala merah saat terbit atau terbenam.
Baca juga artikel tentang: Gunung Padang dan Kontroversi Ilmuwan Barat, Arkeolog Indonesia Angkat Suara
Matahari Hijau dan Senja Ungu
Selain merah, banyak laporan menyebut adanya kilatan hijau dan ungu. Apa penyebabnya?
- Hijau: aerosol berukuran tertentu (sekitar ratusan nanometer) lebih efektif menyebarkan cahaya hijau, sehingga senja kadang berpendar emerald.
- Ungu: ketika cahaya merah dan biru bercampur setelah disaring oleh partikel, hasilnya adalah afterglow ungu yang indah. Fenomena ini disebut juga “volcanic purple twilight”.
Bulan Biru: Bukan Sekadar Istilah Puitis
Istilah blue moon biasanya berarti bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender. Tapi pasca-Krakatau, bulan benar-benar tampak biru.
Ini terjadi karena atmosfer penuh partikel halus yang memfilter cahaya merah, sementara cahaya biru masih lolos. Hasilnya: bulan tampak biru atau kehijauan di banyak belahan dunia.
Hal Aneh di Sekitar Matahari: Bishop’s Ring
Selain perubahan warna, orang juga melihat cincin samar berwarna kebiruan-cokelat mengelilingi matahari. Fenomena ini dikenal sebagai Bishop’s Ring, dinamai dari seorang uskup yang pertama kali melaporkannya di Hawaii setelah letusan Krakatau. Ini adalah hasil penyebaran cahaya oleh aerosol sulfur di stratosfer.
Fenomena langit pasca-Krakatau begitu dramatis hingga menginspirasi seniman. Salah satu yang terkenal adalah Edvard Munch, yang diyakini melihat senja ungu-merah Krakatau di Norwegia pada 1883. Kesannya dituangkan dalam lukisan ikoniknya, The Scream.
Selain keindahan langit, letusan ini juga memicu perubahan iklim:
- Turunnya suhu global rata-rata hingga 1,2°C selama beberapa tahun.
- Gagal panen di beberapa wilayah karena sinar matahari berkurang intensitasnya.
- Langit spektakuler tercatat dalam jurnal astronomi, catatan pelayaran, hingga surat kabar di seluruh dunia.
Letusan Krakatau mengajarkan bahwa Bumi adalah sistem yang saling terhubung. Peristiwa lokal di Selat Sunda bisa memberi dampak visual, iklim, bahkan budaya di seluruh dunia.
Sains modern kini menggunakan satelit untuk memantau penyebaran aerosol serupa dari letusan gunung api atau kebakaran hutan. Fenomena Krakatau menjadi salah satu “kasus klasik” untuk memahami bagaimana atmosfer bekerja sebagai layar raksasa yang memproyeksikan cahaya.
Langit merah darah, matahari hijau, bulan biru, semua itu bukan fantasi, melainkan sains atmosfer hasil dari letusan Krakatau 1883. Perpaduan abu, sulfur, dan cahaya menciptakan “panggung cahaya global” yang masih kita kenang. Inilah bukti bahwa alam mampu melukis langit dengan kuas partikel mikroskopis, dan sains membantu kita memahami keindahan sekaligus dampaknya.
Baca juga artikel tentang: Satelit Alami IO: Satelit Alami Yang Penuh Gunung Berapi
REFERENSI:
Why is a blue moon called a blue moon?. 2025. Britannica: https://www.britannica.com/question/Why-is-a-blue-moon-called-a-blue-moon diakses pada tanggal 25 Agustus 2025.
Morris-Campbell, Jake. 2025. Light moved on. Between the salt and the ash, 231-246.

