Magic Redoks ( Reduksi – Oksidasi )

blank
blank
Source: IDN Times

Pernahkah Anda mengupas apel kemudian Anda membiarkan satu bagian apel lainnya tersimpan di udara terbuka ? Apa yang akan terjadi ? Tentunya hal yang akan terjadi adalah warna dari daging buah apel itu mengalami perubahan dari yang berwarna putih menjadi warna kecokelatan. Mengapa hal itu terjadi ?

Jawabannya adalah perubahan warna pada buah apel itu karena adanya reaksi kimia . Tepatnya ada reaksi oksidasi yang terjadi pada apel itu. Ketika apel yang telah Anda kupas tadi tersimpan di udara terbuka, secara tidak langsung gas oksigen atau O2 masuk kedalam buah apel dan bercampur dengan enzim dalam jaringan apel tersebut. Dengan kata lain ada reaksi pengikatan O2 atau oksidasi pada peristiwa tersebut. Contoh lain misalnya pada proses fotosintesis tumbuhan. Dalam prosesnya terjadi pelepasan O2 sehingga reaksi fotosintesis itu termasuk reaksi reduksi , dengan persamaan kimia sebagai berikut :

6CO2 + 6H2O →C6H12O6 + 6O2

blank

Dengan katalisnya di bantu oleh cahaya matahari dan klorofil atau zat hijau daun.

Kemudian bagaimana konsep redoks dalam ilmu kimia ?

Dalam ilmu kimia sendiri , reaksi oksidasi-reduksi atau lebih di kenalnya redoks dapat di katakan juga sebagai reaksi transfer elektron. Seperti halnya reaksi yang terjadi pada larutan CuSO4 ( tembaga sulfat ) yang berubah warna dari biru ke bening ketika di tambahkan logam Zn kedalamnya.

Secara matematis reaksinya dapat di gambarkan sebagai berikut :

Zn →Zn2+ + 2e ( oksidasi )

Cu2+ + 2e →Cu ( reduksi )

Menurut reaksi di atas Zn ( seng ) mengalami oksidasi di lihat dari pelepasan O2 dan peningkatan biloks ( bilangan oksidasi ) oleh unsur Zn . Kemudian Cu ( tembaga ) mengalami reduksi di lihat dari pengikatan O2 dan penurunan biloks ( bilangan oksidasi ) oleh Cu .

Selanjutnya, karena Zn atau seng ini berubah menjadi ion positif ( kation ) maka dia berikatan dengan anion ( ion negatif ) dari SO4-2 sehingga larutannya berubah menjadi larutan ZnSO4 atau seng sulfat yang berwarna bening. Serta Cu atau tembaga tadi berubah menjadi endapan .

Bilangan oksidasi

Biloks atau bilangan oksidasi merupakan konsep dasar yang harus di fahami untuk dapat mengetahui mana yang mengalami reduksi mana yang mengalami oksidasi. Karena biloks ( bilangan oksidasi ) merujuk pada jumlah muatan yang di miliki suatu atom ( partikel penyusun unsur ) dalam molekul ( partikel penyusun senyawa ) jika elektron-elektronnya berpindah. Seperti contoh :

2K + I2 → 2KI

Baca juga:

0 0 +1 -1

Dari persamaan di atas unsur K ( kalium ) mempunyai biloks 0 karena dia merupakan unsur bebas. Setiap unsur bebas seperti K ( kalium ) , S ( belerang ) , Al ( aluminium ) , dan unsur tunggal lainnya itu mempunyai biloks atau bilangan oksidasi 0.

Untuk I2 ( Iodin ) dia mempunyai biloks 0 karena dia merupakan unsur diatomik. Hal ini berlaku bagi unsur diatomik lainnya seperti H2 ( gas hidrogen ) , O2 ( gas oksigen ) , N2 ( gas nitrogen ) , Br2 ( bromin ) , Cl2 ( klorin ) , dan lain-lain.

Untuk unsur K ( kalium ) dalam senyawa KI dia mempunyai biloks +1 dan unsur I ( yod ) dalam senyawa KI ( kalium iodida ) dia mempunyai biloks -1. Hal ini karena sesuai ketentuan yang berlaku setiap unsur halogen ( 7A ) yang terdiri dari F ( fluor ) , Cl ( klor ) , Br ( brom ) , dan I ( yod ) mempunyai biloks -1. Sehingga untuk menentukan biloks bagi unsur pasangannya contoh halnya disini adalah unsur K ( kalium ) harus bernilai + dan bernilai sama dengan I ( yod ) yaitu +1 . Namun bagi halogen tidak semua biloks nya harus -1 karena ada beberapa anggotanya Cl ( klor ) , Br ( Brom ) , dan I ( yod ) itu mempunyai biloks atau bilangan oksidasi lebih dari satu. Hal ini karena di pengaruhi oleh Orbital elektron ( d ) yang berpindah-pindah.

blank

Contoh soal:

Tentukan biloks dari semua unsur yang terkandung dalam senyawa-senyawa berikut: a). PbI2

b). CrO4-2

c). C2O4-2

Penyelesaian :

a). PbI2

Pb + 2 ( I ) = 0

Pb + 2 ( -1 ) = 0

Pb – 2 = 0

Pb = +2

b). CrO4-2

Cr + 4 ( O ) = -2

Cr + 4 ( -2 ) = -2

Cr – 8 = -2

Cr = -2 + 8

Cr = +6

c). C2O4-2

2 ( C ) + 4 ( O ) = -2

2 ( C ) + 4 ( -2 ) = -2

2C – 8 = -2:

2C = -2 + 8

2C = +6

C = +3

Catatan :

1). Bilangan oksidasi Oksigen pada umumnya bernilai -2 , tetapi dalam hidrogen peroksida ( H2O2 ) dan ion peroksida ( O2-2 ) adalah -1.

2). Untuk ion-ion yang tersusun atas satu atom saja maka biloks nya sama dengan muatan ion tersebut. Misal : Zn2+ maka biloks nya +2 , Na+ maka biloks nya+1.

3). Bilangan oksidasi hidrogen pada umumnya bernilai +1 . Namun bila hidrogen berpasangan dengan logam dalam bentuk biner seperti CaH2 maka biloks nya -1 .

4). Bilangan oksidasi ion poliatomik , nilai biloks semua unsurnya harus sama dengan muatan ion total . Misal OH- :

Biloks O = -2

Biloks H = +1

maka ion total nya : -2 + 1 = -1

Sumber Referensi

Siti Rahmawati
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar