Bayangkan jika ponsel Anda bisa terisi baterainya tanpa harus menancapkan kabel, bahkan tanpa harus diletakkan di atas charger nirkabel. Atau bayangkan listrik bisa dikirimkan ke daerah terpencil, pulau kecil, bahkan ke pangkalan militer jauh di tengah gurun tanpa harus membangun jaringan kabel ribuan kilometer. Apa terdengar seperti fiksi ilmiah? Nyatanya, langkah awal menuju masa depan itu sedang dibuka oleh sebuah eksperimen spektakuler dari DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), lembaga penelitian militer Amerika Serikat.
Baru-baru ini, DARPA memecahkan rekor dunia dengan mengirimkan energi listrik secara nirkabel sejauh 8,6 kilometer, sekitar jarak antara Monas di Jakarta hingga kawasan Pondok Indah. Daya yang berhasil ditransfer mencapai lebih dari 800 watt, cukup untuk menyalakan beberapa peralatan rumah tangga kecil secara bersamaan. Hebatnya lagi, sebagian energi itu digunakan untuk memanaskan… popcorn! Sebuah cara sederhana namun ikonik untuk menunjukkan bahwa listrik benar-benar sampai ke tujuan.
Baca juga artikel tentang: AISX: Laboratorium Hidup untuk Kecerdasan Buatan dan Kota Masa Depan
Apa Itu Transfer Energi Nirkabel?
Mungkin kita sudah terbiasa mendengar istilah “wireless” untuk internet atau jaringan telepon. Namun bagaimana dengan listrik? Transfer energi nirkabel adalah proses mengirimkan energi listrik dari satu titik ke titik lain tanpa kabel.
Sebenarnya, prinsip dasarnya sudah lama dikenal. Pada awal 1900-an, Nikola Tesla sudah bereksperimen dengan menara Wardenclyffe, mencoba mengirim listrik tanpa kabel melalui udara. Namun pada masanya, teknologi belum cukup maju. Energi banyak hilang di perjalanan, sehingga idenya dianggap mustahil untuk diterapkan secara praktis.
Kini, dengan perkembangan sains dan rekayasa teknologi, apa yang dulu dianggap mimpi mulai perlahan nyata. Energi bisa dikirim lewat gelombang elektromagnetik, mirip dengan cara radio, WiFi, atau radar bekerja. Bedanya, gelombang ini membawa daya listrik yang bisa ditangkap oleh penerima khusus dan diubah kembali menjadi listrik yang bisa dipakai.
Eksperimen DARPA: Bagaimana Caranya?
Dalam proyek ini, DARPA menggunakan sebuah sistem bernama PRAD (Power Transmitting Adaptive Demonstrator). Cara kerjanya adalah dengan mengubah listrik menjadi gelombang mikro yang kemudian dipancarkan ke udara menuju penerima sejauh 8,6 kilometer.
Penerima ini berupa antena besar yang didesain khusus untuk menangkap gelombang mikro dan mengubahnya kembali menjadi listrik. Tantangan utamanya adalah mengendalikan arah pancaran energi agar tidak menyebar ke mana-mana, melainkan terfokus pada titik penerima.

Hasilnya mengejutkan: sistem ini mampu mentransfer lebih dari 800 watt. Untuk ukuran eksperimen, ini adalah capaian luar biasa. Sebagai perbandingan, charger laptop biasanya hanya butuh sekitar 65 watt, sedangkan microwave rumah bisa mencapai 1000 watt. Jadi daya yang dikirim DARPA sudah masuk kategori “serius,” bukan sekadar mainan laboratorium.
Mengapa Ini Penting?
Ada banyak potensi penggunaan dari teknologi ini. Mari kita bayangkan beberapa skenario:
- Militer dan darurat
Bayangkan sebuah pangkalan militer yang berada di daerah terpencil atau di medan perang. Biasanya, mereka harus membawa generator atau membangun kabel listrik, yang sulit, mahal, dan berisiko. Dengan sistem seperti PRAD, listrik bisa “dipancarkan” dari jauh tanpa kabel. - Energi luar angkasa
Salah satu impian jangka panjang para ilmuwan adalah membangun panel surya raksasa di luar angkasa. Panel itu akan menangkap cahaya Matahari tanpa terhalang atmosfer, lalu mengirim energinya ke Bumi melalui gelombang mikro. Dengan teknologi transfer nirkabel jarak jauh, konsep ini menjadi semakin masuk akal. - Daerah terpencil di Bumi
Pulau-pulau kecil, gunung terpencil, atau desa di hutan sering sulit mendapatkan listrik karena tidak terhubung ke jaringan. Jika energi bisa dipancarkan nirkabel, maka akses listrik bisa lebih merata. - Transportasi masa depan
Bayangkan mobil listrik yang bisa terus berjalan tanpa harus berhenti di stasiun pengisian daya. Jalan raya bisa dilengkapi dengan pemancar energi yang mengisi baterai kendaraan secara terus-menerus.
Tantangan dan Kekhawatiran
Tentu saja, teknologi ini tidak lepas dari tantangan.
- Efisiensi energi
Tidak semua energi yang dipancarkan sampai ke tujuan. Sebagian hilang dalam perjalanan, berubah jadi panas, atau menyebar ke lingkungan. Menjaga efisiensi tinggi sangat penting agar teknologi ini layak dipakai. - Keamanan
Gelombang mikro dalam jumlah besar bisa berbahaya bagi makhluk hidup jika tidak terkontrol. Bayangkan berdiri di tengah pancaran energi ribuan watt, itu bisa membahayakan kesehatan. Maka sistem pengaman wajib diprioritaskan. - Biaya
Teknologi canggih ini masih mahal. Dari pembangunan pemancar hingga antena penerima, semuanya membutuhkan investasi besar. - Regulasi
Siapa yang boleh memancarkan listrik lewat udara? Apakah ada risiko mengganggu komunikasi radio, penerbangan, atau satelit? Semua ini harus diatur dengan jelas.
Dari Popcorn ke Masa Depan Energi
Hal yang menarik adalah bagaimana DARPA mendemonstrasikan eksperimen ini dengan memanaskan popcorn. Sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami orang awam. Dari popcorn inilah, imajinasi kita bisa melayang lebih jauh: suatu hari nanti, bukan hanya camilan yang dimasak dengan energi nirkabel, tapi seluruh kota bisa diberi daya dari jarak puluhan bahkan ratusan kilometer.
Teknologi ini masih berada di tahap awal. Namun, seperti halnya internet atau GPS yang awalnya dikembangkan untuk kebutuhan militer lalu akhirnya masuk ke kehidupan sehari-hari, bukan mustahil suatu hari transfer energi nirkabel juga menjadi bagian dari rutinitas kita.
Bayangkan bangun tidur, ponsel Anda sudah terisi penuh meskipun semalam tidak pernah dicolok. Atau rumah di pulau terpencil bisa menyalakan lampu dan kulkas berkat listrik yang dikirim lewat udara. Semua itu terdengar futuristis, tapi eksperimen DARPA membuktikan: masa depan itu sedang disiapkan.
Rekor baru DARPA dalam mengirim 800 watt energi listrik sejauh 8,6 kilometer tanpa kabel bukan hanya pencapaian teknis, tetapi juga sinyal bahwa cara kita memandang energi sedang berubah. Dari kabel, tiang listrik, dan jaringan rumit, menuju kemungkinan baru: energi yang mengalir bebas di udara.
Tentu jalan menuju sana masih panjang, penuh tantangan teknis, keamanan, dan regulasi. Namun satu hal jelas: popcorn yang dipanaskan oleh energi “tak kasat mata” ini adalah lebih dari sekadar camilan, tetapi simbol dari masa depan energi yang lebih fleksibel, inovatif, dan mungkin, tanpa kabel.
Baca juga artikel tentang: Dari Emisi ke Energi: Inovasi Reaktor Surya Cambridge Mengubah CO2 Jadi Bahan Bakar Berkelanjutan
REFERENSI:
Felton, James. 2025. DARPA Sends Energy Wirelessly Over 8.6 Kilometers, Setting A New World Record. IFLScience: https://www.iflscience.com/darpa-sends-energy-wirelessly-over-86-kilometers-setting-a-new-world-record-79631 diakses pada tanggal 6 September 2025.
Gowda, Tarun. 2025. The Synergy of Metaverse, NFTs, and DeFi. Educohack Press.
Norton, Adam & Yanco, Holly. 2025. Threading the Needle: Test and Evaluation of Early Stage UAS Capabilities to Autonomously Navigate GPS-Denied Environments in the DARPA Fast Lightweight Autonomy (FLA) Program. arXiv preprint arXiv:2504.08122.

