Membaca Untuk Belajar, Aktivitas yang Perlu Dibudayakan

Judul menarik ini saya kutip dari Mbak Najelaa Shihab dalam sebuah webinar yang dia bawakan dalam memperingati Hari Literasi Internasional […]

blank

Judul menarik ini saya kutip dari Mbak Najelaa Shihab dalam sebuah webinar yang dia bawakan dalam memperingati Hari Literasi Internasional bulan September silam. Menarik untuk dicermati dengan seksama terlebih di tengah kondisi literasi membaca masyarakat Indonesia yang masih rendah. Ini terbukti dari Hasil PISA 2019 yang menunjukkan siswa kita memiliki kemampuan literasi membaca yang rendah jauh sekali dibanding dengan siswa di negara tetangga kita semisal Thailand dan Malaysia. Tidaklah heran budaya membaca untuk belajar masih langka di kehidupan masyarakat kita.

Membaca Untuk Menanggapi

Kita yang sudah lulus sekolah tentu tidak mungkin tidak bisa membaca bukan. Setidaknya pada saat promo murah di supermarket tertentu, kita pasti tidak ketinggalan. Contoh lain, berita Bapak Jokowi menggratiskan vaksin covid-19 pasti tidak luput dari kita semua. Atau berita paling heboh belakangan ini, Kaesang putus dengan Felicia, pacarnya yang orang Singapura. Saya pikir kita mungkin penikmat dari salah satu berita tersebut.

Berita seperti demikian sudah bukan hal yang sulit untuk kita ikuti apalagi sejak dunia masyarakat kita yang menggandrungi sosial media Facebook, Whatsapp ataupun Instagram. Membaca berita tersebut tidak membutuhkan daya pikir dan nalar kritis saat membacanya kecuali seorang pembaca itu seorang yang cerdas menyikapi suatu fenomena atau informasi dan senang untuk menganalisa apa yang sedang terjadi di balik semua itu.

Sayangnya, tidak banyak masyarakat kita yang demikian. Buktinya, lihat saja komentar-komentar yang bermunculan di setiap berita dengan publikasi judul provokatif, heboh dan viral di media sosial. Tidak jarang para netizen Indonesia responsif dan spontan dalam menanggapinya. Akibatnya mereka pun meninggalkan komentar adu mulut dan debat pro dan kontra di sosial media. Setiap pengguna merasa berhak mengeluarkan pendapat semau gue dan sesuka hati.

blank
Pengguna Sosial Media

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan sampai Microsoft pun melabeli netizen Indonesia paling tidak sopan di Asia Tenggara, begitu hasil riset Microsoft yang diberitakan akhir Februari lalu. Kalau para pengguna internet di Indonesia mau berkaca dan merefleksi diri, saya pikir mereka perlu lebih cerdas ketika membaca berita atau informasi apapun di media sosial. Cobalah membaca untuk belajar bukan untuk menanggapi.

Stigma dan Manfaat Membaca

Padahal dengan membaca untuk belajar menghadirkan banyak manfaat seperti yang dipaparkan dalam Buku Seri Manual GLS Membaca untuk Kesenangan yang diterbitkan oleh Kemdikbud. (Kemdikbud: 2018) Salah satu manfaatnya yang sangat penting kita perlu miliki yaitu sikap empati terhadap sesama. Rasa empati akan membuat kita bisa toleran kepada perbedaan di antara kita apalagi kita tinggal di negara Indonesia yang penuh dengan kemajemukan.

Tetapi sayang sekali budaya membaca masih sangat rendah di tengah kita sehingga pelabelan internet users Indonesia menjadi buktinya. Berita Kominfo juga menegaskan hal ini. Kutipan berita di laman tersebut menyebutkan hasil riset UNESCO menunjukkan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Bahkan, riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara dalam urusan minat membaca.

Yang lebih memprihatinkan, membaca juga masih punya stigma di tengah masyarakat kita. Masih banyak masyarakat kita berpikir budaya membaca lebih identik dengan hobinya orang pintar, kaum guru, dosen, akademisi ataupun kutu buku. Mungkin mereka juga berpikir kegiatan membaca buku hanya cukup berlangsung di bangku sekolah ketika guru memerintah siswa membaca buku pelajaran dan meringkasnya. Atau mungkin juga masyarakat kita yang jadi muak dengan kegiatan ini sehingga memiliki stigma demikian.

Padahal jika kita mau maju, kita bisa memulainya dari membaca. Jadi membaca tidak mengenal apapun status pekerjaan kita. Setiap orang bisa membaca untuk memetik makna atau manfaat dari bacaan itu. Salah satunya yaitu sumber inspirasi hidup. Kita tidak akan tahu buku atau kalimat atau kata mana yang akan menginspirasi kita. Tetapi selama membaca, ada saja sumber inspirasi yang bisa hadir bahkan di setiap halaman buku.

Hebatnya, setiap individu bisa mendapatkan manfaat yang berbeda dalam setiap bacaan walaupun judulnya sama. Satu bagian yang menarik bagi saya belum tentu itu menarik bagi pembaca lain. Itulah kayanya sebuah bacaan. Itu sebabnya membaca bisa menghadirkan berbagai ide bagi pembaca. Hal inilah yang semestinya bisa dilakukan para pembaca dalam rangkaian kehidupannya untuk belajar.

Lihat saja teladan dari tokoh hebat dunia seperti Bill Gates. Siapa yang tidak kenal dia. Bill Gates dengan Microsoftnya yang mendominasi sistem operasi komputer di seluruh dunia. Dia juga adalah orang terkaya di dunia selama beberapa tahun sebelum diambilalih oleh Jeff Bezos.

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu akan kebiasaannya untuk membaca. Meskipun dia sudah sedemikian sukses, tidak pernah ada kata tidak membaca bagi dirinya bahkan di tengah kesibukannya. Bill Gates terkenal bisa membaca sekitar 150 halaman dalam 1 jam. Bahkan dia bisa membaca sebanyak 50 buku setiap tahun.

blank
Bill Gates

Kebiasaan membaca ini juga yang akhirnya menginsipirasi dia membentuk lembaga filantropi terbesar dunia, Bill & Melinda Gates Foundation. Berita tentang sekitar 3 juta anak-anak yang meninggal karena diare mengetuk pintu hatinya untuk membentuk organisasi kemanusiaan ini.

Kita patut malu dengan diri kita yang masih malas untuk membaca. Dia yang sukses, hebat dan kaya raya masih juga mau membaca untuk belajar. Masak kita yang tidak ada apa-apanya malas untuk membaca. Tidak berarti setelah membaca kita akan seperti dia.

Tetapi sebetulnya kita perlu melanjutkan sifat manusiawi kita sebagai makhluk yang berakal budi. Kalau dulu masih kecil guru atau orang tua mendampingi kita belajar. Alangkah indahnya setelah dewasa, kita bisa mandiri membaca untuk belajar sehingga ke depannya mudah-mudahan kita menjadi pengguna Internet yang bukan membaca untuk menanggapi.

.


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *