Mencegah Hipertensi si “Silent Killer”

Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan awareness kita kepada tubuh kita sendiri dan orang-orang sekitar kita.

blank

Hipertensi termasuk suatu penyakit degeneratif yang tidak bisa diremehkan serta dapat menjadi silent killer untuk setiap kita. Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik pada tubuh seseorang lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg saat jantung berkontraksi yang diukur dengan alat berupa tensimeter.

Apabila tekanan tersebut tidak diturunkan, maka dapat mengakibatkan komplikasi yang terjadi di organ-organ utama seperti jantung, otak, ginjal, mata dan arteri perifer. Kerusakan organ-organ tersebut bergantung pada seberapa tinggi tekanan darah dan seberapa lama tekanan darah tinggi tidak terkontrol. Maka dari itu, pengecekan tekanan darah secara berkala itu penting. Agar ketika terdeteksi diawal, penanganan yang tepat dan segera dapat dilakukan. Terutama untuk kita yang masih muda, tidak ada diabetes dan tidak mengalami penyakit ginjal kronis.

blank
Gambar 1.1 Potongan Guideline JNC-8 Tatalaksana Hipertensi

Di dalam panduan tersebut ada yang namanya terapi non-farmakologi (non-obat) yang mana jika benar dipatuhi, ada kemungkinan kita yang terdeteksi pre-hipertensi dan hipertensi sejak dini tidak perlu minum obat. Tapi tentu perlu diawasi oleh profesional medis.

Apa saja yang disarankan?
1. Jika kamu gemuk atau obesitas maka disarankan untuk menurunkan berat badan. Rekomendasi ukuran pinggang <94 cm untuk pria dan <80 cm untuk wanita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi asupan kalori dan meningkatkan aktivitas fisik.
2. Mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension ) yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah sistolik 8-14 mmHg. Disarankan untuk makan lebih banyak buah dan sayur dan produk susu rendah lemak dengan kandungan lemak jenuh dan lemak total lebih sedikit, serta kaya potasium dan kalsium.
3. Diet rendah garam dan jangan melebihi 6 gram/hari.
4. Pembatasan pada konsumsi alkohol dan rokok.

So, lebih baik mencegah daripada mengobati. Selamatkan diri dari penggunaan obat jangka panjang ini.
Lalu bagaimana dengan orang sekitar kita atau keluarga kita yang sudah mendapat obat?
Edukasi mereka untuk mematuhi penggunaan obatnya dan melakukan perbaikan pola hidup. Serta dapat diberikan pengertian terkait “Apa gunanya minum obat seumur hidup?” yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah terjadinya komplikasi yang telah disebutkan.

Bukankah minum obat bisa merusak organ lain seperti ginjal?
Lini pertama obat anti-hipertensi yang diberikan sesuai dengan protokol itu bersifat renoprotective atau aman untuk ginjal. Umumnya ACE-inhibitor seperti captopril, lisinopril dan lain sebagainya terbukti aman untuk ginjal. Justru tanpa obat bisa mengakibatkan tekanan darah tidak terkontrol dan menyebabkan gagal ginjal akut beserta komplikasi lainnya.

Harapan dari artikel ini adalah kalian lebih aware dengan diri kalian sendiri dan sayangi jantung kalian. Jangan sampai minum obat anti-hipertensi. Dan untuk orang-orang yang sudah harus meminum obat, harapannya obat kalian tidak harus naik ke lini 2, 3 dan seterusnya tapi cukup berada di lini 1.

Control it and live longer.

Reference :
– US Hypertension Management Guidelines: A Review of the Recent Past and Recomendations for the Future https://www.ahajournals.org/doi/pdf/10.1161/JAHA.115.002315
– JNC 8 : Evidence Based Guideline Penanganan Pasien Hipertensi Dewasa https://media.neliti.com/media/publications/398491-jnc-8-evidence-based-guideline-penangana-831d9d1d.pdf
https://www.halodoc.com/kesehatan/hipertensi
https://www.alodokter.com/hipertensi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *