Mengenal Undur-Undur: Serangga Kecil dengan Potensi Kesehatan yang Perlu Diteliti Lebih Lanjut

Ketika mendengar kata “undur-undur”, banyak dari kita mungkin langsung teringat pada serangga kecil yang berjalan mundur dan sering ditemukan di […]

Ketika mendengar kata “undur-undur”, banyak dari kita mungkin langsung teringat pada serangga kecil yang berjalan mundur dan sering ditemukan di pasir. Tapi tahukah Anda bahwa hewan mungil ini tidak hanya menarik secara perilaku, tapi juga sedang menjadi sorotan dalam dunia kesehatan tradisional? Dalam pengobatan alternatif, undur-undur disebut-sebut dapat membantu mengatasi penyakit seperti diabetes. Tapi, bagaimana pandangan sains terhadap klaim ini?

Secara ilmiah, undur-undur adalah nama untuk tahap larva dari serangga dalam ordo Neuroptera, terutama dari famili Myrmeleontidae. Nama ilmiahnya yang umum adalah Myrmeleon sp., dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai antlion. Meskipun saat dewasa bentuknya menyerupai capung kecil dengan sayap transparan, yang lebih dikenal masyarakat adalah larvanya—yang berbentuk oval, pipih, dan memiliki rahang besar seperti penjepit.

Ciri khas utama dari larva undur-undur adalah cara berburu mangsa. Mereka menggali lubang kecil berbentuk kerucut di tanah berpasir. Saat semut atau serangga kecil lainnya terjatuh ke dalam perangkap tersebut, undur-undur dengan cepat menjepitnya dan menyedot cairan tubuhnya. Ini adalah bentuk perilaku predator pasif yang sangat efisien.

Undur-undur mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat tahap utama:

  1. Telur
    Serangga dewasa meletakkan telurnya di permukaan pasir atau tanah longgar.
  2. Larva
    Inilah tahap yang paling dikenal. Larva hidup di dalam tanah selama 1 hingga 3 tahun. Mereka berburu dengan menggali lubang jebakan.
  3. Pupa
    Setelah menyimpan cukup energi, larva akan membuat kepompong dari pasir yang direkatkan oleh sekresi tubuh, dan bertransformasi menjadi pupa.
  4. Dewasa
    Setelah keluar dari pupa, serangga dewasa hidup hanya beberapa minggu. Pada tahap ini, mereka tidak lagi berburu dan fokus pada reproduksi.

Di beberapa tradisi pengobatan alternatif, termasuk di Indonesia dan negara Asia lainnya, undur-undur telah digunakan sebagai bahan alami untuk mengatasi berbagai penyakit, terutama diabetes. Diyakini bahwa senyawa alami dalam tubuh undur-undur bisa membantu menurunkan kadar gula darah.

Namun, sebelum kita percaya sepenuhnya, penting untuk memahami bagaimana klaim ini diuji dalam sains.

Beberapa laporan penelitian awal, terutama di Asia Tenggara, menyebutkan bahwa ekstrak tubuh undur-undur mengandung senyawa yang memiliki efek hipoglikemik—yaitu mampu menurunkan kadar gula dalam darah. Ada indikasi bahwa zat tersebut bekerja serupa dengan obat golongan sulfonilurea, yang biasa digunakan oleh penderita diabetes tipe 2 untuk merangsang pankreas menghasilkan insulin.

Namun, penelitian-penelitian ini umumnya masih terbatas:

  • Dilakukan dalam skala laboratorium (misalnya pada hewan uji seperti tikus).
  • Belum melalui uji klinis manusia yang terstandar dan diawasi ketat.
  • Belum ada publikasi peer-reviewed (ditinjau rekan sejawat) yang mengonfirmasi hasilnya.

Artinya, klaim manfaat undur-undur sebagai obat diabetes masih masuk dalam kategori pengobatan alternatif, bukan pengobatan berbasis bukti (evidence-based medicine).

Dalam dunia medis, validitas ilmiah adalah kunci. Untuk suatu bahan dikategorikan aman dan efektif sebagai obat, ia harus melalui proses panjang:

  1. Uji toksisitas – Apakah zat tersebut berbahaya jika dikonsumsi?
  2. Uji efektivitas – Apakah benar-benar memberikan manfaat medis?
  3. Uji klinis manusia – Dilakukan dalam tiga fase sebelum disetujui secara resmi.
  4. Persetujuan regulator – Seperti dari BPOM di Indonesia atau FDA di Amerika Serikat.

Hingga saat ini, undur-undur belum melewati semua tahapan tersebut. Oleh karena itu, penggunaan undur-undur secara langsung sebagai obat diabetes masih berisiko. Meskipun ada testimoni masyarakat yang mengaku merasa lebih baik, itu belum cukup untuk menjadikannya sebagai standar pengobatan.

Mengonsumsi hewan secara mentah atau tidak diolah secara higienis dapat menimbulkan risiko, seperti:

  • Infeksi dari bakteri atau parasit.
  • Reaksi alergi terhadap protein asing.
  • Gangguan pencernaan.

Dari sisi etika dan konservasi, jika praktik pengobatan ini menjadi tren, maka populasi undur-undur di alam bisa terancam. Seperti halnya penggunaan satwa liar lain dalam pengobatan alternatif (misalnya sisik trenggiling atau empedu beruang), konsumsi tanpa pengelolaan bisa merusak keseimbangan ekosistem.

Penggunaan undur-undur dalam pengobatan tradisional merupakan bagian dari kearifan lokal, yang layak untuk dikaji secara ilmiah. Namun, tidak semua yang alami itu aman, dan tidak semua yang tradisional itu efektif. Perlu ada kerja sama antara ilmuwan, dokter, dan peneliti tradisional untuk meneliti manfaat sebenarnya dari undur-undur secara objektif. Jika memang terbukti efektif, maka bisa dikembangkan menjadi fitofarmaka atau obat modern berbahan alam yang terstandar dan aman.

Undur-undur memang menarik, baik dari sisi biologinya maupun potensi medisnya. Namun, sebagai masyarakat yang cerdas, kita perlu bersikap kritis dan tidak mudah percaya pada klaim yang belum terbukti secara ilmiah. Mengonsumsi undur-undur untuk mengobati diabetes mungkin terdengar menjanjikan, tapi tanpa bukti yang kuat, risikonya bisa lebih besar dari manfaatnya.

Jika Anda atau orang terdekat Anda mengidap diabetes, konsultasikan pengobatan apa pun dengan dokter terlebih dahulu, terutama jika ingin mencoba pengobatan alternatif.

REFERENSI:

Dzulkalnine, Mohamad Faiz dkk. 2024. Medical Data Imputation by Hybrid Optimized Fuzzy C-Means and Ant Lion Optimization Algorithm. 2024 IEEE 22nd Student Conference on Research and Development (SCOReD), 465-469.

Shafqat, Adnan dkk. 2024. Diabetes Prediction Using Deep Learning: A Comprehensive Approach Utilizing Feature Selection and Deep Neural Networks. Journal of Computing & Biomedical Informatics 8 (01).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top