Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2017, sistem planet TRAPPIST-1 langsung mencuri perhatian dunia astronomi. Alasannya jelas: sistem ini seperti “harta karun kosmik” bagi para ilmuwan yang sedang berburu dunia lain yang bisa dihuni.
Bayangkan saja: ada tujuh planet yang ukurannya hampir sama dengan Bumi, semuanya mengitari sebuah bintang kerdil merah yang redup dan kecil dibandingkan Matahari. Letaknya pun relatif “dekat” dalam skala astronomi, yakni hanya sekitar 40 tahun cahaya dari kita. (Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya selama setahun penuh, sekitar 9,5 triliun kilometer, jadi sebenarnya tetap sangat jauh, tetapi masih cukup dekat untuk ukuran galaksi kita.)
Yang membuat TRAPPIST-1 semakin istimewa adalah bahwa tiga planetnya berada di zona layak huni. Zona ini adalah wilayah dengan suhu yang pas: tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, sehingga air bisa tetap berada dalam bentuk cair di permukaan planet. Air cair dianggap sebagai salah satu syarat utama untuk kehidupan, setidaknya sebagaimana yang kita kenal di Bumi.
Dari ketujuh planet tersebut, salah satu kandidat yang paling menarik perhatian pada awalnya adalah TRAPPIST-1 d. Ukurannya hampir sama dengan Bumi, dan posisinya berada di tepi zona layak huni. Para ilmuwan pun membayangkan, mungkinkah planet ini menjadi semacam “rumah kedua” bagi manusia di luar tata surya?
Atmosfer: Syarat Penting untuk Kehidupan
Atmosfer bukan hanya selimut tipis dari gas yang menyelubungi sebuah planet. Lebih dari itu, atmosfer berfungsi seperti “perisai hidup” yang melindungi segala sesuatu di permukaan planet. Ia menahan radiasi berbahaya dari ruang angkasa, mengatur suhu global agar tidak terlalu ekstrem, serta menjaga kestabilan air sehingga bisa tetap dalam bentuk cair. Tanpa atmosfer, permukaan planet akan langsung terpapar kekosongan luar angkasa. Hasilnya, sebuah planet bisa berubah menjadi gurun beku yang tak berpenghuni atau sebaliknya menjadi neraka panas yang mustahil mendukung kehidupan.
Untuk melihat peran atmosfer ini, cukup bandingkan dua tetangga kosmik kita: Bumi dan Mars.
Bumi masih mampu mempertahankan kehidupan karena memiliki atmosfer tebal dan seimbang, terdiri dari campuran gas seperti nitrogen, oksigen, dan sedikit gas lain yang menopang ekosistem. Atmosfer ini tidak hanya membuat kita bisa bernapas, tetapi juga menjaga suhu rata-rata Bumi agar tetap nyaman bagi kehidupan.
Mars, di sisi lain, kehilangan sebagian besar atmosfernya miliaran tahun lalu. Tanpa perlindungan itu, air yang dulu mungkin mengalir di permukaannya kini menguap ke luar angkasa atau membeku di bawah tanah. Mars pun menjadi planet dingin dan kering, meskipun dahulu ia kemungkinan lebih “ramah” bagi kehidupan.
Singkatnya, atmosfer adalah kunci kelayakhunian planet. Ia bukan hanya sekadar lapisan gas, tetapi juga fondasi yang menentukan apakah sebuah dunia bisa menjadi rumah bagi
Baca juga artikel tentang: Detak Nafas Planet: Bagaimana Bumi Mengatur Irama Kehidupan dari Luar Angkasa
Harapan yang Diuji James Webb
Untuk mengetahui apakah planet TRAPPIST-1 d memiliki atmosfer, para astronom menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST). Teleskop ini adalah instrumen paling mutakhir yang pernah dibuat manusia, khusus dirancang untuk “menguping” cahaya redup dari planet-planet jauh yang mengorbit bintang lain.
Metodenya disebut transit spektroskopi. Bayangkan sebuah planet lewat di depan bintang induknya, seperti lalat kecil melintas di depan lampu. Saat itu, sebagian cahaya bintang melewati atmosfer planet (jika ada). Molekul-molekul gas di atmosfer akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, meninggalkan pola khas yang bisa dianggap sebagai “sidik jari kimia”. Dari sidik jari ini, ilmuwan bisa tahu apakah atmosfer mengandung oksigen, karbon dioksida, metana, atau gas lainnya.
Namun hasil pengamatan JWST terhadap TRAPPIST-1 d ternyata mengecewakan. Tidak ditemukan tanda-tanda atmosfer tebal yang bisa dikenali. Jika atmosfer memang ada, kemungkinan sangat tipis, atau mungkin terdiri dari gas yang hampir transparan terhadap pengukuran JWST, seperti hidrogen murni atau helium.
Bagi pencarian kehidupan, ini adalah kabar yang kurang menggembirakan. Atmosfer adalah syarat penting bagi kestabilan iklim dan air di permukaan. Tanpa atmosfer yang cukup, permukaan planet cenderung menjadi terlalu panas di siang hari dan terlalu dingin di malam hari, sehingga sulit bagi kehidupan seperti yang kita kenal untuk bertahan.
Singkatnya, hasil JWST memberi kesan bahwa TRAPPIST-1 d mungkin bukan kandidat “Bumi kedua” yang selama ini diharapkan. Namun, sistem TRAPPIST-1 masih memiliki enam planet lain dan siapa tahu, salah satunya menyimpan kejutan besar bagi ilmu pengetahuan.
Mengapa Atmosfer Bisa Hilang?
Ada beberapa alasan mengapa planet seperti TRAPPIST-1 d bisa kehilangan atmosfernya:
- Bintang Induk yang Aktif
TRAPPIST-1 adalah bintang kerdil merah. Jenis bintang ini terkenal sering mengeluarkan semburan radiasi kuat (flare). Semburan itu bisa menghantam atmosfer planet dan secara perlahan “mengikisnya” hingga hilang. - Medan Magnet Lemah
Bumi terlindungi oleh medan magnet yang membelokkan partikel berenergi tinggi dari Matahari. Jika TRAPPIST-1 d tidak memiliki medan magnet kuat, atmosfernya akan lebih rentan tersapu angin bintang. - Gravitasi yang Tidak Cukup Kuat
Planet dengan massa lebih kecil cenderung kesulitan mempertahankan atmosfer, terutama jika terkena radiasi intens.
Kenapa Ini Penting?
Ketiadaan atmosfer pada TRAPPIST-1 d memberi konsekuensi serius. Tanpa selimut gas pelindung, planet ini hampir pasti tidak mampu mempertahankan air dalam bentuk cair di permukaannya. Padahal, air cair adalah salah satu syarat utama kehidupan sebagaimana kita kenal di Bumi. Lebih jauh lagi, kondisi ini membuat kemungkinan munculnya makhluk hidup kompleks di sana sangat kecil.
Yang membuatnya lebih mengejutkan, nasib TRAPPIST-1 d bukan kasus tunggal. Dari tujuh planet yang mengitari bintang kerdil merah TRAPPIST-1, kini tiga di antaranya sudah dipastikan atau sangat kuat diduga tidak memiliki atmosfer tebal. Artinya, mereka pun menghadapi masalah serupa: sulit menyimpan air, mengatur suhu, atau menciptakan kondisi stabil bagi kehidupan.
Temuan ini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar dan mendasar:
Seberapa umumkah planet seukuran Bumi yang benar-benar bisa dihuni?
Apakah keberadaan planet yang menyerupai Bumi dengan laut, udara, dan ekosistem stabil justru lebih jarang dari yang selama ini kita bayangkan?
Dan jika demikian, apakah itu berarti kehidupan di alam semesta jauh lebih langka daripada harapan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa menemukan planet berukuran mirip Bumi tidak otomatis berarti planet itu cocok untuk ditinggali. Kehidupan memerlukan kombinasi faktor yang sangat rumit: dari atmosfer, air, radiasi bintang yang tidak terlalu ganas, hingga kestabilan orbit. Hasil pengamatan terhadap TRAPPIST-1 d menjadi semacam “pengingat kosmik” bahwa Bumi mungkin jauh lebih istimewa daripada yang kita kira.
Pelajaran untuk Pencarian Planet Layak Huni
Kabar tentang TRAPPIST-1 d memberi pelajaran penting bagi astronomi: ukuran dan lokasi planet tidak cukup untuk menilai kelayakhunian. Planet seukuran Bumi di zona layak huni masih bisa menjadi dunia gersang jika tidak memiliki atmosfer.
Pencarian berikutnya akan menuntut kita memeriksa sifat-sifat lain seperti komposisi atmosfer, keberadaan air, dan medan magnet. JWST dan teleskop generasi berikutnya akan memainkan peran vital dalam misi ini.
Harapan yang Masih Ada
Meski kabar ini mengecewakan, mimpi tentang dunia lain belum mati. Beberapa planet di sistem TRAPPIST-1 masih menjadi kandidat potensial, dan di luar sana ada miliaran bintang lain dengan planet-planet yang menunggu ditemukan.
Seperti kata pepatah ilmuwan: satu kegagalan adalah data, dan data selalu membawa kita selangkah lebih dekat ke jawaban. Mungkin TRAPPIST-1 d bukan “Bumi kedua”, tapi penemuan ini memperjelas apa yang perlu kita cari.
Kisah TRAPPIST-1 d adalah pengingat bahwa alam semesta tidak selalu memberikan jawaban yang kita inginkan. Namun, setiap kali sebuah kandidat “Bumi kedua” gugur, kita mendapatkan petunjuk baru yang membuat pencarian berikutnya lebih tepat sasaran.
Jadi, meski mimpi hidup di luar Bumi sedikit surut, pencarian terus berlanjut dan siapa tahu, di suatu tempat di antara bintang-bintang, ada planet yang benar-benar siap menyambut kehidupan.
Baca juga artikel tentang: Apakah Ada Kehidupan di K2-18b? Sains di Balik Kontroversi Molekul DMS dari Planet Jauh
REFERENSI:
Caroline, Piaulet-Ghorayeb dkk. 2025. Strict limits on potential secondary atmospheres on the temperate rocky exo-Earth TRAPPIST-1 d. The Astrophysical Journal 989 (2), 181.
Carpineti, Alfredo. 2025. Another Earth Twin Canceled! Promising Exoplanet Unlikely To Have Atmosphere, Says NASA. IFL Science: https://www.iflscience.com/another-earth-twin-canceled-promising-exoplanet-unlikely-to-have-atmosphere-says-nasa-80407 diakses pada tanggal 17 Agustus 2025.
Way, Michael J. 2025. TRAPPIST-1 d: Exo-Venus, Exo-Earth, or Exo-Dead?. The Astrophysical Journal Letters 980 (1), L7.

