Bulan selalu terlihat tenang dari Bumi, seolah tidak pernah berubah. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa satelit alami ini menyimpan cerita jauh lebih liar daripada yang selama ini dibayangkan. Para ilmuwan menemukan bukti bahwa sekitar 120 juta tahun yang lalu, terjadi peristiwa yang menghasilkan manik manik kaca vulkanik muda yang sangat aneh. Usia itu terhitung muda dalam sejarah Bulan yang berumur lebih dari empat miliar tahun. Temuan ini memicu satu pertanyaan besar. Di mana letusan yang memproduksi manik manik tersebut sebenarnya terjadi.
Penelitian ini muncul sebagai kelanjutan dari misi Chang e 5 milik Tiongkok yang membawa pulang sampel tanah Bulan. Di antara sampel tersebut, para peneliti menemukan beberapa butiran kaca vulkanik yang tampak berbeda dari material lain. Kaca ini memiliki komposisi kimia yang menunjukkan hubungan kuat dengan sulfur. Selain itu, umur isotopnya memberikan angka sekitar 120 juta tahun. Angka tersebut benar benar mengejutkan karena letusan vulkanik di Bulan diperkirakan berhenti lebih dari satu miliar tahun sebelumnya.
Baca juga artikel tentang: Inkathazo: Galaksi Radio Raksasa Berukuran 32 Kali Lebih Besar Dari Galaksi Bima Sakti
Temuan itu mendorong tim peneliti untuk mencari kembali jejak geologis yang mungkin menjadi sumbernya. Mereka memanfaatkan teori letusan piroklastik dan memodelkan seberapa jauh material bisa terpental dari lubang erupsi. Jika letusan tersebut benar benar bersifat vulkanik, seharusnya ada lubang atau struktur geologis yang sesuai dengan ukuran dan energi peristiwa tersebut.

Perhitungan menunjukkan bahwa material piroklastik dapat menyebar hingga dua ratus kilometer dari sumbernya. Jarak itu berarti bahwa jika letusan terjadi di sekitar area yang diambil sampel oleh Chang e 5 (dikenal sebagai unit Em4), maka lubang sumbernya seharusnya masih berada dalam radius yang dapat dikenali.
Namun setelah wilayah tersebut diperiksa dengan teliti, tidak ada lubang vulkanik yang cocok ditemukan. Kondisi itu menimbulkan kemungkinan baru. Jika bukan letusan vulkanik, mungkinkah manik manik itu terbentuk oleh peristiwa lain seperti tumbukan meteorit lokal.
Para ilmuwan kemudian membandingkan karakteristik manik manik tersebut dengan kaca hasil tumbukan yang biasa ditemukan di Bulan. Batu meteorit ketika menghantam permukaan akan memanaskan material hingga meleleh dan menyemburkannya ke udara. Dalam proses itu kaca dapat terbentuk dan menyebar ke sekitar daerah tumbukan. Bukti dari daerah Chang e 5 memang menunjukkan banyak butiran kaca yang berasal dari tumbukan meteorit pada kisaran usia 100 hingga 200 juta tahun. Jika demikian, manik manik berusia 120 juta tahun ini bisa saja termasuk bagian dari kelompok tersebut.

Peneliti menemukan kemiripan mencolok antara manik manik hasil temuan baru dan kaca yang biasa terbentuk dari tumbukan lokal. Komposisi kimianya, tingkat sulfur, serta kecenderungan sifat isotopnya tampak lebih dekat kepada materi hasil tumbukan dibanding materi vulkanik. Semua itu mengarah pada hipotesis kuat bahwa manik manik ini bukan produk letusan gunung api Bulan, melainkan hasil tumbukan meteorit.
Meski begitu, satu dilema tetap perlu dijelaskan. Jika manik manik berasal dari tumbukan, seharusnya terdapat kawah yang usia dan karakternya sesuai dengan usia manik manik tersebut. Sampai saat ini kawah yang tepat masih belum dapat dipastikan. Banyak kawah tumbukan di Bulan yang telah tererosi oleh waktu, tertutupi endapan baru atau tidak berfungsi lagi sebagai jejak yang mudah dikenali. Para peneliti memperkirakan bahwa sumbernya mungkin berada pada jarak yang sangat jauh dari lokasi sampel sehingga sulit diidentifikasi secara langsung.
Selain itu, manik manik tersebut ditemukan dalam jumlah kecil. Hal itu membuat proses pelacakan menjadi lebih sulit karena belum ada pola penyebaran material yang bisa menjadi petunjuk. Jika lebih banyak material serupa ditemukan di daerah luas, para ilmuwan akan dapat memetakan arah penyebarannya. Arah itu pada akhirnya dapat menunjuk lokasi sumber tumbukan atau letusan yang menjadi asalnya.
Masalah lain muncul dari sifat sulfur yang ada dalam manik manik tersebut. Jika manik manik merupakan hasil tumbukan, maka sulfur harus berasal dari batuan setempat yang melebur. Akan tetapi sulfur juga dapat muncul dari aktivitas magmatik yang dalam. Analisis isotop menunjukkan pola campuran yang sulit dijelaskan hanya dengan satu proses saja. Para peneliti mengakui bahwa jawaban ini masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Dalam artikel ilmiah itu, para penulis menekankan bahwa penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk memastikan asal usul pasti dari manik manik tersebut. Mereka mendorong agar dilakukan eksplorasi geokimia lebih lanjut terhadap sampel tanah lain yang berasal dari daerah sekitar Chang e 5. Analisis isotop tambahan dapat membantu melihat apakah pola sulfur dalam manik manik berusia 120 juta tahun ini unik atau muncul di lokasi lain.
Tim juga merekomendasikan pemetaan geologi yang lebih rinci di sekitar daerah Em4. Pemetaan itu bisa membantu menemukan struktur geologis yang mungkin tertutup debu, lava atau hasil tumbukan lain yang lebih muda. Kawah tua yang terkubur sebagian tetap bisa meninggalkan pola gravitasi atau perbedaan komposisi mineral yang dapat dideteksi dengan instrumen orbit.
Kemungkinan lain yang lebih spekulatif tetapi menarik tetap terbuka. Bisa jadi manik manik tersebut merupakan bukti bahwa Bulan mengalami aktivitas vulkanik yang jauh lebih muda dari yang diperkirakan. Jika terbukti, maka dunia ilmiah harus meninjau ulang pemahaman tentang bagaimana Bulan mendingin dan kehilangan aktivitas magma. Selama beberapa dekade, penelitian menunjukkan bahwa Bulan adalah benda mati secara vulkanik sejak lebih dari satu miliar tahun lalu. Namun bukti baru ini dapat mengubah gambaran tersebut.
Walaupun penjelasan tentang tumbukan meteorit lokal saat ini menjadi hipotesis paling kuat, para peneliti tidak menutup kemungkinan lain. Ilmu pengetahuan selalu bergerak mengikuti bukti terbaru dan sering kali apa yang terlihat pasti hari ini berubah total ketika temuan baru muncul.
Penelitian mengenai manik manik kaca vulkanik berusia 120 juta tahun ini mengingatkan bahwa Bulan masih menyimpan banyak misteri. Setiap sampel yang dibawa pulang membuka jendela baru untuk memahami sejarah panjang dan kompleks satelit alami kita. Dengan semakin banyaknya misi yang menjelajah permukaan Bulan dan membawa pulang materialnya, masa depan kajian tentang geologi Bulan akan terus berkembang. Kita mungkin akan segera menemukan jawaban pasti tentang asal usul butiran kecil yang menimbulkan pertanyaan besar ini.
Baca juga artikel tentang: NASA Mengungkap Prototipe Teleskop Canggih untuk Deteksi Gelombang Gravitasi
REFERENSI:
Head, James W dkk. 2025. Where on the Moon was the eruption that produced the recently reported∼ 120 million year old volcanic glass beads?. Icarus 428, 116378.

