Puffin Atlantik adalah salah satu jenis burung laut yang paling mudah dikenali karena memiliki penampilan unik. Ciri khas utamanya adalah paruh berwarna oranye terang yang tampak mencolok, terutama saat musim kawin. Ditambah lagi dengan wajah bulatnya yang putih dan ekspresi yang sering dianggap mirip senyuman, puffin kerap dijuluki sebagai “badut laut” atau bahkan “penguin utara”, meskipun sebenarnya mereka tidak berkerabat dekat dengan penguin.
Burung ini termasuk ke dalam kelompok burung laut penyelam yang piawai berenang di bawah air untuk berburu ikan kecil, seperti sarden atau capelin. Mereka menggunakan sayapnya layaknya sirip untuk “terbang” di dalam air, sekaligus memanfaatkan kakinya yang berselaput untuk bermanuver.
Habitat utama puffin Atlantik berada di kawasan Atlantik Utara. Salah satu tempat terpenting bagi mereka adalah Islandia, sebuah negara yang memiliki tebing-tebing laut terjal yang sangat ideal untuk membuat sarang. Tidak mengherankan, sekitar 60 persen dari seluruh populasi puffin dunia berkembang biak di sana, menjadikan Islandia sebagai rumah terbesar bagi spesies ini.
Setiap kali musim panas tiba, puffin dewasa akan kembali ke sarang mereka yang berada di celah tebing atau liang tanah untuk melakukan perkembangbiakan. Di sana, mereka menetaskan anak-anaknya yang dikenal dengan sebutan puffling. Nama ini merujuk pada bayi puffin yang masih berbulu halus, berukuran kecil, dan sangat bergantung pada induknya untuk makanan serta perlindungan.
Seiring waktu, puffling akan tumbuh semakin kuat. Saat tubuh mereka cukup besar dan sayap sudah mampu digunakan, tibalah saat penting dalam hidup mereka: meninggalkan liang sarang. Dari titik inilah mereka akan terbang menuju laut terbuka, tempat di mana mereka harus belajar hidup mandiri, mencari makan, dan menghadapi kerasnya lingkungan laut hingga mencapai usia dewasa.
Momen peralihan dari sarang ke laut ini tidak hanya penting bagi kehidupan puffin itu sendiri, tetapi juga menjadi dasar dari tradisi khas masyarakat Islandia. Tradisi tersebut lahir dari kepedulian penduduk lokal yang membantu puffling menemukan jalan menuju laut, terutama ketika anak-anak burung ini kebingungan oleh cahaya kota dan justru tersasar jauh dari jalurnya.
Tantangan di Dunia Modern
Secara alami, puffling menggunakan cahaya bulan dan bintang sebagai kompas untuk menemukan arah menuju laut. Namun, cahaya buatan dari lampu jalan, rumah, dan pelabuhan sering kali membingungkan mereka. Alih-alih menuju laut, banyak puffling justru tersesat ke jalan raya, halaman rumah, atau bahkan toko-toko di desa.
Bagi burung kecil ini, kesalahan arah bisa berakibat fatal. Mereka berisiko kelaparan, tertabrak kendaraan, atau dimangsa hewan peliharaan. Tanpa bantuan manusia, ribuan puffling bisa mati sia-sia setiap tahun.
Baca juga artikel tentang: 5 Manfaat Berinteraksi dengan Burung dari Perspektif Edukasi dan Psikologis
Tradisi “Puffling Patrol”
Untuk mengatasi masalah ini, warga Islandia mengadakan apa yang disebut puffling patrol. Setiap akhir musim panas, keluarga dan anak-anak turun ke jalan membawa kotak kardus atau keranjang. Mereka mencari puffling yang tersesat, lalu mengumpulkannya dengan hati-hati.
Keesokan harinya, para puffling dibawa ke tebing dan “dilemparkan” ke arah laut. Kedengarannya ekstrem, tetapi sesungguhnya inilah cara terbaik untuk memberi mereka kesempatan terbang pertama. Dengan diluncurkan dari ketinggian, puffling bisa mengepakkan sayapnya dan langsung meluncur ke habitat alami mereka: lautan.
Perspektif Ekologi dan Konservasi
Dari kacamata sains, tradisi ini punya dampak besar pada pelestarian spesies. Puffin Atlantik masuk dalam daftar “Rentan” menurut IUCN akibat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih, dan gangguan habitat.
Membantu puffling menemukan jalan ke laut berarti meningkatkan angka kelangsungan hidup generasi baru. Satu puffling yang diselamatkan mungkin tampak kecil, tetapi ribuan burung yang terbantu setiap tahun bisa menjaga populasi tetap stabil.
Selain itu, kegiatan ini juga mendidik generasi muda tentang pentingnya hubungan manusia dengan satwa liar. Anak-anak Islandia tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka hidup berdampingan dengan alam dan punya tanggung jawab untuk menjaganya.
Cahaya Buatan dan Dampaknya pada Satwa
Fenomena puffling yang tersesat sebenarnya hanya satu contoh dari masalah yang lebih besar: polusi cahaya. Banyak satwa menggunakan cahaya alami untuk bernavigasi, mulai dari burung migran, penyu laut, hingga serangga malam. Lampu buatan bisa mengacaukan orientasi mereka, menyebabkan kematian massal atau gangguan ekosistem.
Dengan demikian, apa yang dilakukan masyarakat Islandia bukan hanya aksi penyelamatan, melainkan juga bentuk adaptasi manusia terhadap dampak modernisasi.
Antara Tradisi, Budaya, dan Wisata
Bagi warga Islandia, melempar puffling bukan sekadar aktivitas konservasi, tetapi juga tradisi keluarga. Banyak anak yang merasa bangga bisa “menyelamatkan” seekor puffin. Bahkan, beberapa kota kecil mengadakan acara tahunan khusus untuk kegiatan ini.
Belakangan, tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan. Namun, ilmuwan konservasi mengingatkan bahwa hanya warga terlatih yang boleh menangani puffin. Jika tidak hati-hati, burung bisa stres atau terluka.
Pelajaran untuk Dunia
Kisah puffling mengajarkan kita bahwa manusia bisa berperan positif dalam ekosistem, bukan hanya merusaknya. Dengan memahami perilaku satwa, kita bisa menemukan solusi sederhana namun efektif untuk masalah yang kita ciptakan.
Di belahan dunia lain, hewan juga menghadapi masalah serupa akibat cahaya buatan dan urbanisasi. Dengan mencontoh Islandia, kita bisa mencari cara untuk membantu satwa lokal, mulai dari mematikan lampu berlebih hingga membuat jalur migrasi yang aman.
Tradisi “melempar puffin” mungkin terdengar aneh pada awalnya, tetapi sebenarnya inilah bentuk nyata kepedulian manusia terhadap alam. Dengan sedikit dorongan dari tangan manusia, seekor puffling kecil bisa menemukan jalannya menuju samudra luas dan mungkin kembali beberapa tahun kemudian sebagai puffin dewasa yang siap membangun sarang baru.
Baca juga artikel tentang: Burung Rüppell’s Griffon: Penjelajah Langit, Penyeimbang dalam Keberlangsungan Ekosistem
REFERENSI:
Chapman, Maddy. 2025. People Are Throwing Baby Puffins Off Cliffs In Iceland Again – But Why?. IFLScience: https://www.iflscience.com/people-are-throwing-baby-puffins-off-cliffs-in-iceland-again-but-why-80606 diakses pada tanggal 1 September 2025.
Herron, Kyle. 2025. The Slaughter of Sæhrímnir: A History of Feasting in Viking Age Iceland. University of Idaho.
Kerr-Peterson, Miles & Craig, Michelle H. 2025. St Kilda: My Island Home: Christina MacDonald MacQueen. Birlinn Ltd.

