Pada tahun 1997, seorang pria bernama Naseeruddin yang berasal dari suku Saleh Khel di Pakistan menghilang ketika sedang melakukan perjalanan melewati daerah pegunungan yang sangat terpencil di kawasan Kohistan. Wilayah ini berada di perbatasan antara provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan Gilgit-Baltistan, daerah yang terkenal dengan kondisi alamnya yang keras dan cuacanya yang tidak menentu.
Saat itu, Naseeruddin membawa seekor kuda dan memilih jalur melalui Lembah Supat, sebuah lembah yang jarang dilalui orang. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik keluarga, sehingga ia mencari jalan alternatif yang lebih sepi. Namun, nasib buruk menimpanya ketika ia terjebak dalam badai salju. Dalam kondisi itu, ia tidak bisa mengendalikan perjalanannya dan akhirnya jatuh ke dalam sebuah retakan gletser (disebut crevasse).
Crevasse adalah celah besar dan dalam yang terbentuk secara alami di permukaan gletser (gunung es). Celah ini biasanya tertutup tipis oleh salju segar sehingga sulit terlihat oleh pendaki atau pelintas, sehingga sangat berbahaya. Orang yang jatuh ke dalamnya bisa sulit diselamatkan karena kedalaman dan suhu ekstrem di dalamnya.
Meskipun pencarian dilakukan, jasadnya tak ditemukan. Hingga pada 31 Juli 2025, setelah 28 tahun, gletser yang mencair memperlihatkan tubuhnya dalam kondisi mengejutkan, pakaian utuh, bahkan kartu identitas nasional masih berada di sakunya.

Penemuan Tak Sengaja
Jasad itu ditemukan oleh seorang gembala lokal, Omar Khan, di tepi gletser Lady Meadows. Penemuan ini memungkinkan identifikasi cepat berkat dokumen yang ikut terawetkan, mengakhiri hampir tiga dekade ketidakpastian bagi keluarga korban.

Baca juga artikel tentang: Mengenal Aroma Mumi Mesir Kuno: Penemuan Menarik tentang Proses Pembalseman dan Pelestariannya
Ilmu di Balik Pelestarian Tubuh di Gletser
Kondisi tubuh yang hampir tidak berubah selama puluhan tahun dapat dijelaskan oleh proses mumifikasi alami dalam es. Faktor yang berperan:
- Suhu beku: Menghambat aktivitas bakteri pembusuk.
- Kelembapan rendah: Memperlambat degradasi jaringan.
- Oksigen minim: Mengurangi reaksi oksidasi yang merusak sel.
- Tekanan es: Mengunci tubuh dalam posisi dan bentuk aslinya.
Kombinasi ini membuat tubuh dapat bertahan lama, seperti kasus terkenal Ötzi the Iceman di Pegunungan Alpen yang berusia 5.300 tahun.
Perubahan Iklim dan Pencairan Gletser
Munculnya kembali jasad Naseeruddin sebenarnya berkaitan erat dengan perubahan iklim. Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan pegunungan tinggi seperti Himalaya dan Karakoram, termasuk wilayah Kohistan tempat ia hilang mengalami peningkatan suhu rata-rata yang cukup signifikan.
Kenaikan suhu ini menyebabkan gletser (masses besar es yang terbentuk dari akumulasi salju selama ratusan hingga ribuan tahun) mencair dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada rata-rata pencairan es di seluruh dunia. Fenomena ini sering disebut sebagai pencairan gletser dipercepat.
Mengapa ini bisa terjadi?
Gletser sebenarnya berfungsi seperti “tabungan air” alami: setiap musim dingin salju menambah lapisan baru, sementara di musim panas sebagian mencair. Jika kondisi iklim seimbang, jumlah salju yang menumpuk sebanding dengan jumlah es yang mencair. Namun, karena pemanasan global (kenaikan suhu bumi akibat meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer) keseimbangan ini terganggu. Akibatnya, lebih banyak es yang mencair dibanding yang terbentuk kembali.
Dampak langsung dari pencairan ini bukan hanya memperlihatkan kembali jasad-jasad atau benda yang sebelumnya terkubur dalam es, tetapi juga berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Misalnya, jutaan orang di Asia Selatan bergantung pada air lelehan gletser Himalaya dan Karakoram untuk pertanian, air minum, dan pembangkit listrik tenaga air. Dengan mencairnya gletser lebih cepat, risiko banjir bandang, longsor es, dan kekeringan jangka panjang pun meningkat.
Pencairan gletser bukan hanya berdampak pada sumber air sungai yang menjadi tumpuan hidup jutaan orang, tetapi juga membawa konsekuensi lain yang mengejutkan: ia membuka kembali apa yang bisa disebut sebagai “arsip alami” yang selama ribuan tahun tersimpan di dalam es.
Gletser bekerja seperti brankas waktu (time capsule). Segala sesuatu yang jatuh dan terkubur di dalamnya, baik itu fosil tumbuhan, alat-alat peninggalan manusia purba, maupun jasad manusia yang menjadi korban kecelakaan atau bencana, bisa terawetkan dalam kondisi hampir utuh. Hal ini karena suhu yang sangat dingin memperlambat proses pembusukan.
Mengapa disebut arsip alami?
Karena sama seperti perpustakaan atau museum yang menyimpan catatan sejarah, gletser menyimpan “rekaman” masa lalu bumi. Lapisan-lapisan es tidak hanya berisi benda, tetapi juga menyimpan gelembung udara purba yang dapat memberi petunjuk tentang bagaimana iklim bumi ribuan tahun lalu. Para ilmuwan sering mengebor inti es (ice core) untuk meneliti komposisi atmosfer, tingkat polusi, atau variasi suhu masa lampau.
Dalam kasus seperti hilangnya Naseeruddin, pencairan gletser kemudian memperlihatkan kembali jasadnya yang selama puluhan tahun terperangkap di bawah lapisan es. Jadi, apa yang bagi keluarganya adalah tragedi, bagi ilmu pengetahuan juga menjadi pengingat tentang bagaimana perubahan iklim dapat membuka kembali bab-bab lama dari sejarah manusia dan alam.
Signifikansi Ilmiah dan Sosial
Bagi sains, penemuan jasad dari es memberi data berharga tentang:
- Kondisi iklim pada waktu korban terkubur.
- Perubahan lapisan es selama beberapa dekade terakhir.
- Proses preservasi alami yang bisa diaplikasikan pada studi arkeologi dan forensik.
Bagi kemanusiaan, temuan seperti ini memberikan penutupan emosional bagi keluarga yang selama ini hidup dalam ketidakpastian.
Risiko dan Peluang dari Pencairan Gletser
- Risiko: Pencairan cepat bisa memicu banjir bandang gletser (glacial lake outburst flood) dan mengubah ekosistem lokal.
- Peluang penelitian: Ilmuwan dapat mempelajari perubahan lingkungan dan sejarah manusia dari benda-benda yang terawetkan.
- Tantangan etis: Penemuan jasad manusia memerlukan prosedur penghormatan budaya dan hukum setempat.
Pelajaran dari “Mumi Es” Modern
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa gletser bukan sekadar tumpukan es, melainkan penyimpan waktu yang menyimpan cerita manusia dan alam. Namun, terbukanya rahasia ini sering kali menandakan kabar buruk: es yang seharusnya bertahan ribuan tahun kini mencair dalam hitungan dekade.
Baca juga artikel tentang: Keajaiban Arkeologi: Lidah dan Kuku Emas di Mumi Mesir Kuno
REFERENSI:
Byard, Roger W. 2025. A forensic overview of deaths in mountainous terrain. Forensic Science, Medicine and Pathology 21 (2), 952-956.
Khan, Omar. 2025. Body of man missing for 28 years found in melting glacier. BBC: https://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/news/articles/cy8jqy4y5e8o.amp diakses pada tanggal 18 Agustus 2025.
Li, Zhijun dkk. 2025. Natural Ice/Snow and Humans: From Mountain to Sea. Water 17 (12), 1754.

