Dalam beberapa dekade terakhir, dunia sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat tanpa memperburuk perubahan iklim. Salah satu solusi yang banyak dibicarakan adalah carbon neutrality atau netral karbon, yaitu kondisi ketika jumlah emisi karbon yang dihasilkan sama dengan jumlah karbon yang berhasil diserap atau diimbangi.
Tiongkok, sebagai negara dengan konsumsi energi terbesar di dunia, memiliki target ambisius untuk mencapai puncak emisi karbon sebelum tahun 2030 dan netral karbon pada 2060. Target ini mendorong pemerintah dan ilmuwan untuk mencari sumber energi yang bisa diandalkan sekaligus ramah lingkungan. Di sinilah energi nuklir masuk sebagai pemain kunci.
Baca juga artikel tentang: AI dan Keamanan Nuklir: OpenAI Terapkan Kecerdasan Buatan untuk Mengurangi Risiko Bencana Nuklir
Kelemahan Energi Terbarukan
Banyak orang mungkin berpikir bahwa solusi utama sudah ada: energi terbarukan seperti matahari dan angin. Memang benar, energi terbarukan sangat penting dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, ada masalah besar: energi terbarukan sangat tergantung pada kondisi alam.
Matahari tidak selalu bersinar, dan angin tidak selalu bertiup. Di musim dingin, di malam hari, atau di wilayah dengan cuaca ekstrem, energi terbarukan tidak bisa menghasilkan listrik secara konsisten. Inilah yang disebut dengan intermittency problem atau masalah ketidakstabilan pasokan.
Mengapa Energi Nuklir Penting?
Energi nuklir berbeda. Ia mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar secara 24/7, tanpa tergantung cuaca atau musim. Bahkan, energi nuklir disebut sebagai sumber baseload power, yaitu sumber listrik dasar yang selalu menyala kapan pun dibutuhkan.
Selain itu, reaktor nuklir tidak menghasilkan emisi karbon selama proses pembangkitan listrik. Artinya, jika dibandingkan dengan pembangkit listrik berbasis batu bara atau gas, energi nuklir jauh lebih bersih. Inilah alasan mengapa nuklir dianggap sebagai pilar penting dalam strategi Tiongkok menuju netral karbon.
Generasi Baru Reaktor Nuklir
Yang menarik, Tiongkok kini tidak hanya mengandalkan teknologi nuklir lama. Mereka sedang mengembangkan apa yang disebut sebagai reaktor nuklir generasi keempat. Reaktor jenis ini lebih aman, lebih efisien, dan mampu memanfaatkan bahan bakar nuklir dengan lebih baik.

Bahkan, reaktor canggih ini bisa memanfaatkan limbah nuklir lama untuk dijadikan bahan bakar baru. Dengan kata lain, bukan hanya menghasilkan energi bersih, tapi juga membantu mengurangi masalah limbah radioaktif yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
Nuklir Lebih dari Sekadar Listrik
Banyak orang mengira energi nuklir hanya untuk menghasilkan listrik. Padahal, potensi nuklir jauh lebih luas. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nuklir bisa digunakan untuk:
- Produksi Hidrogen
Hidrogen dipandang sebagai “bahan bakar masa depan” yang ramah lingkungan. Namun, untuk memproduksinya dalam jumlah besar dibutuhkan energi yang stabil. Nuklir dapat menyediakannya. - Desalinasi Air Laut
Tiongkok, seperti banyak negara lain, menghadapi masalah kekurangan air bersih. Teknologi nuklir bisa digunakan untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang bisa diminum. - Pemanas Kota (District Heating)
Di musim dingin, kebutuhan energi untuk pemanas sangat tinggi. Reaktor nuklir bisa digunakan untuk menyediakan panas secara langsung ke jaringan pemanas kota. - Produksi Isotop Nuklir
Isotop dari reaktor nuklir banyak digunakan dalam bidang kedokteran, terutama untuk diagnosis dan terapi kanker.
Dengan pemanfaatan multidimensi ini, nuklir bukan hanya soal listrik, tapi juga tentang kesehatan, ketersediaan air, dan teknologi masa depan.
Tantangan yang Masih Ada
Meskipun potensinya sangat besar, energi nuklir tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, biaya pembangunan pembangkit nuklir sangat tinggi, jauh lebih mahal dibandingkan pembangkit energi terbarukan.
Kedua, isu keselamatan masih menjadi perhatian utama. Masyarakat dunia tentu masih ingat tragedi Chernobyl (1986) dan Fukushima (2011), yang menimbulkan ketakutan global terhadap energi nuklir.
Ketiga, limbah radioaktif tetap menjadi persoalan besar. Meskipun reaktor generasi baru mampu mengurangi jumlah limbah, tetap saja butuh sistem penyimpanan jangka panjang yang aman.
Peran Nuklir dalam Masa Depan Tiongkok
Lalu, bagaimana prospek energi nuklir dalam perjalanan Tiongkok menuju netral karbon? Menurut penelitian terbaru, peran nuklir justru akan semakin meningkat. Dengan kombinasi energi terbarukan dan nuklir, sistem energi bisa menjadi lebih stabil, bersih, dan berkelanjutan.
Tiongkok kini menjadi salah satu negara dengan pembangunan reaktor nuklir tercepat di dunia. Mereka sedang membangun puluhan reaktor baru yang akan mendukung bauran energi nasional. Selain itu, Tiongkok juga berinvestasi besar-besaran dalam riset nuklir canggih, termasuk reaktor suhu tinggi, reaktor cepat berpendingin garam cair, hingga reaktor modular kecil (small modular reactors).
Menuju Energi Bersih Global
Penting untuk dicatat, apa yang dilakukan Tiongkok tidak hanya berdampak pada negaranya sendiri, tetapi juga bagi dunia. Sebagai penghasil emisi karbon terbesar, keberhasilan Tiongkok mengurangi ketergantungan pada batu bara dan beralih ke energi nuklir dan terbarukan akan sangat membantu upaya global melawan perubahan iklim.
Dengan strategi ini, Tiongkok tidak hanya berusaha menjaga ekonominya tetap tumbuh, tetapi juga mengambil peran dalam kepemimpinan global untuk energi bersih.
Energi nuklir sering dipandang kontroversial. Namun, dalam konteks krisis iklim, nuklir bisa menjadi solusi penting. Di tengah keterbatasan energi terbarukan yang bergantung pada cuaca, nuklir hadir sebagai sumber energi yang stabil, bersih, dan serbaguna.
Bagi Tiongkok, masa depan energi bukanlah sekadar soal listrik, tetapi juga tentang air, kesehatan, dan keberlanjutan. Dengan memadukan nuklir dan energi terbarukan, target netral karbon 2060 bukanlah mimpi kosong, melainkan tujuan yang bisa dicapai.
Jika berhasil, Tiongkok mungkin akan membuktikan bahwa nuklir bukanlah ancaman, melainkan sekutu penting dalam menyelamatkan planet ini dari krisis iklim.
Baca juga artikel tentang: Temuan Reaktor Nuklir Alami Tertua di Dunia Bisa Menjadi Kunci Untuk Energi Masa Depan
REFERENSI:
Dong, Duo dkk. 2025. Current status and trends of nuclear energy under carbon neutrality conditions in China. Energy 314, 134253.

